MAKALAH KEPERAWATAN JIWA
ASUHAN KEPERAWATAN DAN STRATEGI
PELAKSANAAN (SP)
PADA KLIEN MENARIK DIRI


Di susun oleh :
|
|
|
|
Roudlotul Badi’ah
|
|
|
|
|
AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
2014
Contents
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ASUHAN KEPERAWATAN
DAN STRATEGI PELAKSANAAN (SP) PADA
KLIEN MENARIK DIRI.
Penulis menyadari bahwa
penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :
Ns. ........., S.Kep Selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan
memberikan bimbingan sehingga ASKEP
PADA KLIEN DENGAN MENARIK DIRI bisa selesai tepat
waktu.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca yang bersifat membangun.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak, baik di masa kini ataupun masa yang akan datang bagi pembaca
umumnya dan tenaga kesehatan khususnya.
Semarang, 26 Juni 2014
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sehat
merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Pada masa globalisasi
saat ini, banyak tuntutan yang menjadi stressor dalam kehidupan. Stressor yang
dihadapi seseorang harus diikuti dengan kemampuan koping yang konstruktif,
dikarenakan seseorang yang mengalami kegagalan dalam memberikan koping yang
tidak sesuai dengan tekanan yang dialami, mengakibatkan individu mengalami
berbagai macam gangguan mental, stressor yang sering dijumpai saat ini yaitu
kondisi lingkungan social yang semakin keras dan diperberat dengan tingkat
kemiskinan yang menekan dapat menjadi penyebab meningkatnya jumlah masyarakat
yang mengalami gangguan kejiwaan (Yosep, 2007).
Diperkirakan
penduduk Indonesia yang menderita gangguan jiwa sebesar 2-3% jiwa. Zaman dahulu
penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung, dirantai, atau diikat, lalu ditempatkan tersendiri
dirumah atau hutan jika gangguan jiwanya berat. Bila tidak berbahaya, dibiarkan
berkeliaran didesa, sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat (Kusumawati, 2011).
Tuntutan
hidup yang semakin tinggi dan kemampuan koping yang tidak konstruktif
mengakibatkan angka kejadian gagguan jiwa tinggi. Saat ini diperkirakan ada 450
juta penderita gangguan jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, berdasarkan Survei
Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) di dapatkan prevalensi gangguan jiwa 264
per 1.000 anggota rumah tangga (Musafir, 2010). Data yang dimuat oleh Wawasan tanggal
13 Oktober 2010 angka keadian penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar
antara 3.300 orang sampai 9.300 orang. Angka kejadian ini merupakan penderita
yang sudah terdiagnosa (Waluyo, 2010).
Angka
tersebut pada tahun 2000 menjadi 12,3% dan diproyeksikan menjadi 15% pada tahun 2020.
Ketidakmampuan yang terjadi disebabkan oleh depresi, cemas, gangguan penyalah
gunaan zat atau napza, skizofrenia, eplepsi, penyakit alzeimer,
retardasimental, serta gangguan jiwa pada anak dan remaja (Kusumawati, 2011).
Keperawatan
jiwa adalah area khusus dalam praktik keperawatn yang menggunakan ilmu diri
sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, serta memulihkan
kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada.
Fokusnya adalah pnggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya perawat jiwa
membutuhkan alat atau media untuk melkukan perawatan. Alat yang digunakan
selain keterampilan teknik dan alat-alat klinik, yang terpenting adalah
menggunakan dirinya sendiri. Sebagai contoh gerak tubuh, mimic wajah, bahasa,
tatapan mata, pendengaran, sentuhan, nada suara, dan sebagainya (Kusumawati, 2011).
Menurut Clinton dan Nelson (Kusumawati, 2011) perawat jiwa berusaha menemukan dan memenuhi kebutuhan
dasar klien yang terganggu seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan mencintai dan disayangi, kebutuhan harga diri dan kebutuhan
aktualisasi. Klien gangguan jiwa umumnya mengalami gangguan selain fisiologis
sebagai keluhan utama, tetapi selanjutnya selutuh kebutuhan menjadi terganggu
sebagai dampak terganggunya kebutuhan fisiologis.
Menurut
Antai Otong ( Psychiatric Nursing Biological and bhavioral Concept, 1995) Perawat
kesehatan jiwa secara kontinu memilki peran penting dalam mengidentifikasi
pasien-pasien yang berisiko, mengkaji respon pasien terhadap stress sepanjang
rentang kehidupannya, dan dalam mengembangkan komunikasi yang terapeutik.
Perawat kesehatan mental bertanggung jawab secara kontinu dalam seluruh rentang
kehidupan klien dari mulai fase anak sampai lansia yang dikenal dengan historis life span. peran lain yang
sangat penting berdasarkan definisi diatas adalah mengindentifikasi pasien yang
berisiko (Kusumawati, 2011).
Dari penajabaran diatas
dapat disimpulkan, kesejahteraan hidup dapat terpenuhi dengan keadaan sehat dari
badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
social dan ekonomis. Peran perawat disini dalam meningkatkan kesehatan jiwa,
dalam kaitannya dengan menarik diri adalah meningkatkan percaya diri klien dan
mengajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya berkenalan, dan
bercakap-cakap dengan orang lain, memberikan penjelasan tentang kerugian
menyendiri dan keuntungan dari berinteraksi dengan orang lain sehingga
diharapkan mampu terjadi peningkatan interaksi social klien. Berdasarkan hal
tersebut, penulis tertarik mengambil kasus “Asuhan Keperawatan Jiwa Dan
Strategi Pelaksanaan Isolasi Sosial : Menarik Diri”.
B. Tujuan Penulis
a) Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran serta mampu menerapkan asuhan
keperawatan dan strategi pelaksana (SP) jiwa dengan masalah Isolasi Sosial :
Menarik diri, melalui pendekatan keperawatan.
b) Tujuan Khusus
Setelah pembelajaran diharapkan
mahasiswa mampu menjelaskan tentang :
1) Isolasi Diri
·
Pengertian
Isolasi Diri
·
Pengertian Menarik diri
·
Etiologi Isolasi diri
·
Rentang Respon
·
Manifestasi Klinik
·
Penatalaksanaan
2) Asuhan
Keperawatan Menarik Diri
·
Pengakajian
·
Pohon Masalah
·
Diagnosa Keperawatan
·
Intervensi Keperawatan
·
Implementasi Keperawatan
·
Evaluasi Keperawatan
3) Strategi Pelaksanaan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN
Menurut Twondsend, 1998 Isolasi sosial adalah suatu
keadaan kesiapan yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap
yang negatif dan mengancam (Kusumawati, 2011).
Isolasi
social merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang lain karena merasa
kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa,
pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara
spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak
ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman (Yosep, 2007).
Menurut Pawlin Menarik diri merupakan percobaan unruk
menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain
(Kusumawati, 2011).
Menarik
diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan
hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar
dan hidup dalam khayalan sendiri yang tidak realistis (Erlinafsiah,
2010).
B. ETIOLOGI
Terjadinya gangguan ini di pengaruhi oleh faktor
presdiposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat
mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain,
ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu
merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan
perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai dengan
berdiam diri, menghindar dengan orang lain, dan kegiatan sehari – hari
terabaikan (Kusumawati,
2011).
1.
Faktor Penyebab Menarik Diri
1) Factor
Prediposisi
Berbagai teori telah di ajukan
untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukkan
tentang factor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam
kombinasi
a. Factor
genetic, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan efektif melalui riwayat
keluarga atau keturunan.
b. Teori
agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan
marah yang ditujukan kepada diri sendiri.
c. Teori
kehilangan objek merujuk kepada perpisahan traumatic individu dengan benda tau
yang sangat berarti.
d. Teori
organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang negative dan
harga diri rendah mempengaruhi sistim keyakinan dan penilaian seseorang.
e. Model
kognitif menyatakan bahwa defresi, merupakan masalah kognitif yang didominasi
oleh evaluasi negative seseorang terhadap diri seseorang, dunia seseorang, dan
masa depan seseorang.
f. Metode
ketidakberdayaan di pelajari,
menunjukkan bahwa bukan semata-mata trauma menyebabkan defresi tetapi keyakinan
bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hal yang penting bagi
kehidupannya, oleh karena itu ia mengulangi respons yang adaptif.
g. Model
perilaku berkembang dari kerangka teori belajar social, tentang mengansumsi
penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berintegrasi
dengan lingkungan.
h. Model
biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi selama masa
depresi, termasuk defisiensi katekolamin, dispungsi endokrin, hipersekresi
kortisol, dan variasi periodic, dan irama biologis (Erlinafsiah, 2010).
2) Factor
Prepitasi
Terjadinya gangguan hubungan social
juga dapat ditimbulkan oleh factor internal dan eksternal seseorang. Factor
stressor prepitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Factor
eksternal
Contohnya adalah stressor social
budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh factor social budaya seperti
keluarga.
b. Factor
internal
Contohnya adalah stressor
psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang
berkepanjangan dan terjadi keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya.
Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat
atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu (Direja, 2011).
C. Rentang Respon :
Menurut
(Erlinafsiah, 2010), rentang respon klien
ditinjau dari interaksinya dengan lingkungan social merupakan suatu kontinum
yang terbentang antara respons adaptif dengan maladaptif sebagai berikut :
|
|
|
|
|
|
a. Menyendiri
(Solitude)
Merupakan
respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di
lingkungan sosialnya dan suatu sara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah
selanjutnya.
b. Otonomi
Kemampuan
individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide, pikiran, perasaan, dalam hubungan sosial .
c. Bekerja
sama (Mutualisme)
Suatu kondisi dalam hubungan
interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
d. Saling
ketergantungan (Intervenden)
Merupakan kondisi saling
ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan
interversonal.
e. Menarik
diri
Keadaan dimana seseorang menemukan
kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
f. Ketergantungan (Dependen)
Terjadi bila seseorang gagal dalam
mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara
sukses.
g. Manipulasi
Gangguan hubunga sosial yang
terdapat pada individu menganggap orang lain sebagai objek,individu tersebut
terdapat membina hubungan sosial secara mendalam.
h. Impulsif
Tidak mampu merencanakan
sesuatu,tidak mampu belajar dari pengalaman, penilaian
yang buruk dan individu ini tidak dapat diandalkan.
i.
Narcisism
Harga dirinya rapuh,secara terus
menerus berusaha mendapatkan panghargaan dan pujian yang egosentris dan
pencemburu.
C. MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan Gejala Isolasi Sosial ; Menarik diri,
yaitu :
1.
Menyendiri
dalam ruangan
2.
Tidak
berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata.
3.
Sedih,
afek datar.
4.
Perhatian
dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5.
Berpikir
menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna.
6.
Mengekspresikan
penolakan atau kesepian pada orang lain.
7.
Tidak
ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya.
8.
Menggunakan
kata-kata simbolik (neologisme).
9.
Menggunakan
kata yang tak berarti.
10. Kontak mata kurang/tidak mau menatap lawan bicara.
11. Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan,
suka melamun, berdiam diri (Kusumawati, 2011).
Adapun
tingkah laku menarik diri menurut
(Erlinafsiah, 2010) yaitu :
1. Kurang
sopan
2. Apatis
3. Ekspresi
wajah kurang biverbal menurun berseri
4. Afek
tumpul
5. Tidak
merawat dan memperhatikan kebersihan
6. Komunikasi
verbal menurun atau tidak ada
7. Mengisolasi
diri
8. Pemasukan
makan dan minuman terganggu
9. Retensi
urin dan feses
10. Aktivitas
menurun
11. Kurang
energik (tenaga)
12. Harga
diri rendah
13. Menolak
hubungan dengan orang lain.
Tanda dan gejala menurut (Yosep, 2007),
yaitu :
a.
Gejala subjektif
1.
Klien menceritakan perasaan kesepian
atau ditolak oleh oaring lain.
2. Klien
merasa tidak aman berada dengan orang lain.
3. Respons
verbal kurang dan sangat singkat.
4. Klien
mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
5. Klien
merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
6. Klien
tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
7. Klien
merasa tidak berguna.
8. Klien
tidak yakin dapat melangsungkan hidup
9. Klien
merasa ditolak.
b. Gejala
objektif :
1. Klien
banyak diam dan tidak mau bicara
2. Tidak
mengikuti kegiatan
3. Banyak
berdiam diri di kamar
4. Klien
menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat
5. Klien
tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
6. Kontak
mata kurang
7. Kurang
sopan
8. Apatis
(acuh terhadap lingkungan)
9. Ekspresi
wajah kurang berseri
10. Tidak
merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
11. Mengisolasi
diri
12. Tidak
atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
13. Masukan
makanan dan minuman terganggu
14. Retensi
urin dan feses
15. Aktivitas
menurun
16. Kurang
energy (tenaga)
17. Rendah
diri
18. Postur
tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur)
D. PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan klien menarik diri adalah :
1.
Membina
hubungan saling percaya
2.
Membantu
klien menyadari perilaku isolaso sosial
3.
Melatih
klien cara-cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
4.
Diskusi
dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimilki.
5.
Inventarisir
kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun kepercayaan diri
klien dalam pergaulan.
6.
Ajarkan
pada klien koping mekanisme yang konstruktif.
7.
Libatkan
klien dalam interkasi dan terapi kelompok secara bertahap.
8.
Diskusi
dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai dengan keluarga
terdekat.
9.
Eksplorasi
keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingnya sosialisasi dengan
lingkungan sekitar (Yosep, 2007).
Penatalaksanaan
Medis
1.
Obat
antipsikotik :
1)
Clorpromazine
(CPZ)
a.
Indikasi
Untuk
syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas,
kesadaran diri terganggu daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu,
berdaya berat fungsi-fungsi mental : waham, halusinasi, gangguan perasaan dan
perilkau yang aneh atau, tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan
sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
b.
Mekanisme
kerja
Memblokade
dopamine pada reseptor pasca sinap diotak khususnya sistem extra piramida.
c.
Efek
samping
Sedasi,
gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik, mulut kering,
kesulitan dalam miksi, dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan
intraokuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan extra piramidal
(ditonia akut, akatsia, sindromaparkinson atau tremor, bradikinesia regiditas),
gangguan endrokin, metabolik, hematologik, akgranulosis, biasanya untuk
pemakaian jangka panjang.
d.
Kontraindikasi
Penyakit
hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakiT SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan.
2)
Haloperidol (HP)
a. Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam
fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
b.
Mekanisme
kerja
Obat
antipsikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron
diotak khususnya sistemlimbik dan sistem extra piramidal.
c.
Efek
samping
Sedasi
dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau
parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung tersumbat,
mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.
d.
Kontraindikasi
Penyakit
hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakit SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan.
3)
Trihexy
phenidyl (THP)
a.
Indikasi
Segala
jenis penyakit parkinson, termasuk ensefalitis dan idiopatik, sindrome
parkinson akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.
b.
Mekanisme
kerja
Obat
antipsikosis dalam memblokade dopamine pada resptor pasca sinaptik neuron
diotak khususnya sistem limbik dan sistem extra pirimidal.
c.
Efek
samping
Sedasi
dan inhibisi psikomotor gangguan otonomik (hipertensi, antikolinergik atau
parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung tersumbat,
mata kabur, intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.
d.
Kontraindikasi
Penyakit
hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat,
penyakiT SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan (Rasmun, 2001).
Terapi
farmakologi
1.
Terapi somatic adalah terapi yang
diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku
yang maladaptive menjadi perilaku adaptif dengan melakukan tindakan yang
ditujukan pada kondisi fisik klien. Terapi somatic mencakup : pemberian obat
psikofarma, lobektomi dan Electro Convulsi Therapy (ECT), psikoterapeutik, terapi
modalitas
Jenis
terapi somatic adalah :
1)
Pengikatan
Terapi
menggunakan alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien yang
bertujuan untuk melindungi cedera fisik pada klien sendiri atau orang lain.
2)
Terapi Kejang Listrik / ECT
Bentuk
terapi pada klien dengan menimbulkan kejang dengan mengalirkan arus listrik
kekuatan rendah (2-3 joule) melalui electrode yang ditempelkan di beberapa
titik pada pelipis kiri/kanan (lobus frontalis) klien.
3)
Isolasi
Bentuk
terapi dengan menempatkan klien sendiri di ruangan tersendiri untuk mengendalikan
perilakunya dan melindungi klien, orang lain, dan lingkungan dari bahaya
potensial yang mungkin terjadi.
4)
Fototerapi
Terapi
yang diberikan dengan menempatkan klien pada sinar terang 5-10x lebih terang
daripada sinar ruangan dengan posisi klien duduk, mata terbuka pada jarak 1,5 m
di depan klien diletakkan lampu setinggi mata.
2.
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam
keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari
perilaku yang maladaptive menjadi perilaku adaptif. Jenis-jenis terapi
modalitas adalah:
1)
Terapi Aktifitas Kelompok
Suatu
bentuk terapi yang didasarkan pada pembelajaran hubungan interpersonal. Focus
terapi aktifitas kelompok adalah membuat sadar diri (self-awereness),
peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya.
2)
Terapi Keluarga
Keluarga
merupakan system pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap
keadaan (sehat-sakit) klien. Perawat membantu keluarga agar mampu melakukan
lima tugas kesehatan yaitu, mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan
tindakan kesehatan, member perawatan pada anggota keluarga yang sehat,
menciptakan lingkungan yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada dalam
masyarakat.
3)
Terapi Rehabilitasi
Program
rehabilitasi dapat digunakan sejalan dengan terapi modalitas lain atau berdiri
sendriri seperti terapi okupasi, rekreasi, gerak, dan music.
4)
Terapi Psikodrama
Terapi
ini menggunakan struktur masalah emosi atau pengalaman klien dalam suatu drama.
Drama ini memberi kesempatan pada klien untuk menyadari perasaan, pikiran, dan
perilakunya yang mempengaruhi orang lain.
5)
Terapi Lingkungan
Suatu
tindakan penyembuhan penderita dengan gangguan jiwa melalui manipulasi unsure
yang ada di lingkungan dan berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Upaya terapi
harus bersifat komprehensif, holistic, dan multidisipliner (Rasmun, 2001).
E. PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian
:
Isolasi sosial adalah keadaan seorang individu yang
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Keliat, 2011).
1.
Identitas
Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali
pada masa pubertas.
2.
Keluhan
utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah
sakit biasanya akibat adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
3.
Faktor
Predisposisi
Faktor
predisposisi sangat erat kaliannya dengan faktor etiologi yakni keturunan,
endokrin, metabolisme, susunan saraf pusat, dan kelemahan ego.
4.
Psikososial
a)
Genogram
Orang
tua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16% skizofrenia,
bila keduanya menderita 40-68%, saudara tiri kemungkinan 0,9-1,8%, saudar
kembar 2-5%, dan saudara kandung 7-15%.
b)
Konsep
diri
Kemunduran
kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien akan memengaruhi konsep diri
pasien.
c)
Hubungan
sosial
Klien
cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, dan berdiam
diri.
d)
Spiritual
Aktivitas
spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.
5.
Status
mental
a.
Penampilan
diri
Pasien
tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat,
resleting tak terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai manifestasi
kemunduran kemauan pasien.
b.
Pembicaraan
Nada
suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c.
Aktivitas
motorik
Kegiatan
yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu posisi
yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
d.
Emosi
Emosi
dangkal
e.
Afek
Dangkal,
tak ada ekspresi roman muka
f.
Interaksi
selama wawancara
Cenderung
tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, diam.
g.
Persepsi
Tidak
terdapat halusinasi atau waham.
h.
Proses
berfikir
Gangguan
proses berpikir jarang ditemukan.
i.
Kesadaran
Kesadaran
berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta pembatsan dengan dunia luar dan
dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan
(secara kualitatif.
j.
Memori
Tidak
ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, dan orang.
k.
Kemampuan
penilaian
Tidak
dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu
memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.
l.
Tilik
diri
Tak
ada yang khas.
6.
Kebutuhan
sehari-hari
Pada permulaan, penderita kurang memperhatikan diri dan
keluarganya, makin mundur dalam pekerjaan akibat kemundurn kemauan. Minat untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi,
berpakaian, dan istirahat tidur (Kusumawati, 2011).
Untuk mengkaji pasien isolasi sosial anda dapat menggunakan
wawancara dan observasi kepada pasien dan keluarga.
Tanda
dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan wawancara adalah :
1.
Pasien
menceritakan perasaan kesepian atau do tolak oleh orang lain.
2.
Pasien
merasa tidak berada dengan orang lain.
3.
Pasien
mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
4.
Pasien
merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
5.
Pasien
tidak mampu berkosentrasi dan membuat keputusan.
6.
Pasien
merasa tidak berguna.
7.
Pasien
tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini
dapat ditanyakan pada waktu wawancara untuk mendapatkan data subjektif :
1. Bagaimana
pendapat pasien terhadap orang-orang di sekitarnya (keluarga atau tetangga)?
2. Apakah
pasien mempunyai teman dekat ? bila punya, siapa teman dekat itu ?
3. Apa
yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat dengannya ?
4. Apa
yang pasien inginkan dari orang-orang di sekitarnya ?
5. Apakah
ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien ?
6. Apa
yang menghambat hubungan harmonis antara pasien dengan orang-orang di
sekitarnya ?
7. Apakah
pasien merasa bahwa waktu begitu lama berlalu ?
8. Apakah
oernah ada perasaan ragu untuk dapat menlanjutkan kehidupan ?
(Keliat, 2011).
F. POHON MASALAH
|
![]() |
|||||||||||
|
||||||||||||
|
||||||||||||
|
||||||||||||
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
i. Isolasi sosial
Dibuktikan oleh hal-hal berikut ini :
1)
Menyendiri
dalam ruangan.
2)
Tidak
berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata.
3)
Sedih,
afek datar.
4)
Perhatian
dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5)
Berpikir
menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna.
6)
Mengekspresikan
penolakan atau kesepian pada orang lain (Kusumawati, 2011).
Tujuan
:
1) Klien
mampu menyadari penyebab isolasi social.
2) Klien
mampu berisolasi dengan orang lain.
Kriteria
Hasil :
1) Membina
saling percaya
2) Menyadari
penyebab isolasi social, keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang
lain.
3) Melakukan
interaksi dengan orang lain secara bertahap (Direja,
2011).
ii. Intervensi
SP
1 :
1) Identifikasi
penyebab
1. Siapa
yang satu rumah sama klien
2. Siapa
yang dekat dengan klien.
3. Siapa
yang tidak dekat dengan klien.
2) Tanyakan
keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
a.
Tanyakan pendapat klien tentang
kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b.
Tanyakan apa yang menyebabkan klien
tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c.
Diskusikan keuntungan bila klien
memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
d.
Diskusikan kerugian bila klien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
e.
Jelaskan pengaruh isolasi social
terhadap kesehatan fisik klien.
3) Latih
berkenalan
a.
Jelaskan kepada klien cara berinteraksi
dengan orang lain.
b.
Berikan contoh cara berinteraksi dengan
orang lain.
c.
Beri kesempatan klien mempraktekan cara
berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan perawat.
d.
Mulailah bantu klien berinteraksi dengan
satu teman atau anggota keluarga.
e.
Bila klien sudah menunjukkan kemajuan,
tingkatan jumlah interaksi 2,3,4 orang dan seterusnya.
f.
Beri pujian untuk setiap kemajuan
interaksi yang telah dilakuakn oleh klien.
g.
Siap mendengarkan ekspresi perasaan
klien setelah berinteraksi dengan orang lain, mungkin klien akan mengungkapkan
keberhasilan atau kegagalannya, beri dorongan terus menerus agar pasien tetap
semangat meningkatkan interaksinya.
4) Masukan
jadwal kegiatan
SP
2 :
1) Evaluasi
kegiatan yang lalu (SP 1)
2) Latih
berhubungan social secara bertahap
3) Masukan
dalam jadwal kegiatan klien
SP
3 :
1) Evaluasi
kegiatan yang lalu (SP 1 & 2)
2) Latih
cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
3) Masukan
dalam jadwal kegiatan klien (Direja, 2011).
Tujuan
:
1) Keluarga mampu merawat
klien dengan isolasi social
Kriteria
Hasil :
Diharapkan keluarga
mampu menjelaskan tentang :
1) Masalah
isolasi social dan dampaknya pada klien.
2) Penyebab
isolasi social
3) Sikap
keluarga untuk membantu klien mengatasi isolasi sosialnya.
4) Pengobatan
yang berkelanjutan dan mencegah putus obat.
5) Tempat
rujukan dan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi klien.
Intervensi
:
SP
1 :
1) Identifikasi
masalah yang dihadapi dalam merawat klien.
2) Penjelasan
isolasi social
3) Cara
merawat klien isolasi social
4) Latih
(simulasi)
5) RTL
keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP
2 :
1) Evaluasi
kemampuan SP 1
2) Latih
langsung ke klien
3) RTL
keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP
3 :
1) Evaluasi
kemampuan SP 1
2) Latih
langsung ke klien
3) RTL
keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP
4 :
1) Evaluasi
kemampuan keluarga
2) Evaluasi
kemampuan klien
3) RTL
keluarga Follow up, rujukan (Direja, 2011).
iii. Implementasi Keperawatan
1) Membina
Hubungan Saling Percaya
Tindakan yang harus dilakukan dalam
membina hubungan saling percaya, adalah :
a. Mengucapkan
salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
b. Berkenalan
dengan pasien.
c. Menanyakan
perasaan dan keluhan klien saat ini.
d. Buat
kontrak asuhan : apa yang akan dilakukan bersama klien, berpa lama akan
dikerjakan, dan tempatnya dimana.
e. Jelaskan
bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan
terapi.
f. Setiap
saat tunjukkan sikap empati terhadap klien.
g. Penuhi
kebutuhan dasar klien saat berinteraksi.
2) Membantu
klien menyadari perilaku social
Hal yang dapat dilakukan untuk
klien, agar menyadari perilaku isolasi social dengan menanyakan :
a. Pendapat
klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b. Menanyakan
apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c. Diskusikan
keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
d. Diskusikan
kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
e. Jelaskan
pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik klien.
3) Melatih
klien cara-cara berinteraksi social terhadap
a. Jelaskan
kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain.
b. Berikan
contoh cara berbicara dengan orang lain.
c. Beri
kesempatan klien mempraktikan cara berinteraksi dengan orang lain yang
dilakukan di hadapan perawat.
d. Mulailah
bantu klien berinteraksi dengan satu orang teman/anggota keluarga.
e. Bila
klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga,
empat orang, dan seterusnya.
f. Beri
pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien.
g. Siap
mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain.
4) Diskusikan
dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.
5) Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan
motivasi untuk membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan.
6)
Ajarkan pada klien koping mekanisme yang konstruktif.
7) Libatkan klien dalam interkasi dan terapi kelompok secara
bertahap.
8) Diskusi dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang
dimulai dengan keluarga terdekat.
9) Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap
pentingnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar (Yosep, 2007).
iv. Evaluasi Keperawatan
1.
Kemampuan Pasien dan Keluarga
Nama
pasien :
Ruangan :
Nama
perawat :
Petunjuk
:
Berilah
tanda cheklist (√ ) jika pasien mampu melakukan kemampuan dibawah ini.
Tuliskan
tanggal setiap dilakukan supervisi
|
No
|
Kemampuan
|
Tanggal
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
A
|
Pasien
|
|||||||
|
1
|
Menyebutkan penyebab isolasi social
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Menyebutkan kerugian tidak berinterkasi dengan orang lain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Berkenalan dengan satu orang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Berkenalan dengan dua orang atau lebih
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
7
|
Memilki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan orang
lain sebagai salah satu kegiatan harian.
Melakukan perbincangan dengan orang lain sesuai jadwal
harian.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B
|
Keluarga
|
|||||||
|
1
|
Menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala isolasi
social
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Menyebutkan cara-cara merawat pasien isolasi social
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Mendemonstrasikan cara merawat pasien isolasi sosial
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Menyebutkan tempat rujukan yang sesuai untuk pasien
isolasi social
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
Kemampuan perawat
Nama
pasien :
Ruangan :
Nama
perawat :
Petunjuk :
a)
Penilaian
tindakan keperawatan untuk setiap SP dengan menggunakan instrumen penilaian
kerja.
b)
Nilai
tiap penilaian kerja dimasukkan ke tabel pada baris nilai SP.
|
No
|
Kemampuan
|
Tanggal
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
A
|
Pasien
|
|||||||
|
|
SP 1 Pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi
dengan orang lain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi
dengan orang lain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Menganjurkan pasien memasukkan kegitan latihan
berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 1 Pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
SP 2 Pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Mengevaluasi jadwal kegiatn harian pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mempraktekan
cara berkenalan dengan satu orang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang
dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 2 pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
SP 3 Pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berkenalan dengan
dua orang atau lebih
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan ini kedalam jadwal
kegiatan harian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 3 Pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B
|
Keluarga
|
|||||||
|
|
SP 1 Keluarga
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Menjelaskan pengertian, tnada dan gejala isolasi sosial
yang dialami pasien beserta proses terjadinya
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Menjelaskan cara merawat pasien isolasi sosial
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 1 K
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
SP 2 K
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Melatih keluarga mempraktikan cara merawat pasien isolasi
sosial
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada
pasien isolasi social
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 2 Keluarga
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
SP
3 Keluarga
|
|||||||
|
1
|
Membantu kluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk
minum obat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Menjelaskan follow up pasien
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai SP 3 Keluarga
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total nilai : SP Pasien + SP
Keluarga
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai rata-rata
|
|
|
|
|
|
|
|
H. STRATEGI PELAKSANAAN
Masalah Utama :
Isolasi Sosial
1. Proses Keperawatan
1)
Kondisi Klien
a.
Data obyektif :
Apatis, ekpresi
sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata
kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri
kurang, posisi menekur.
b.
Data subyektif :
Sukar didapat
jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau
tidak.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi social (menarik diri)
1)
Strategi Pelaksanaan Tindakan
2)
Tujuan khusus :
a.
Klien
mampu mengungkapkan hal – hal yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial.
b.
Klien
mampu mengungkapkan keuntungan berinteraksi.
c.
Klien
mampu mengungkapkan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain.
d.
Klien
mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang
3. Tindakan Keperawatan
1)
Mendiskusikan
faktor – faktor yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial
2)
Mendiskusikan
keuntungan berinteraksi
3)
Mendiskusikan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4)
Mendiskusikan
cara berkenalan dengan satu orang secara bertahap
SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan.
ORIENTASI (PERKENALAN):
“Selamat pagi ”
“Saya nurhakim yudhi wibowo, Saya senang dipanggil yudi,
Saya mahasiswa UNDIP yang akan merawat Ibu.”
“Siapa nama Ibu? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan ibu hari ini?” Bagaimana kalau kita
bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ibu ? Mau dimana kita
bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa lama, bu? Bagaimana
kalau 15 menit”
KERJA:
(Jika pasien baru)
”Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat
dengan ibu? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan ibu? Apa yang membuat ibu
jarang bercakap-cakap dengannya?”
(Jika pasien sudah lama dirawat)
”Apa yang ibu rasakan selama ibu dirawat disini? O.. ibu
merasa sendirian? Siapa saja yang ibu kenal di ruangan ini”
“Apa saja kegiatan
yang biasa ibu lakukan dengan teman yang ibu kenal?”
“Apa yang
menghambat ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang lain?”
”Menurut ibu apa
saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman
bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah
kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya ibu ? Ya, apa lagi ?
(sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya
tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah ya ibu ? belajar bergaul
dengan orang lain ?
« Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain”
“Begini lho
ibu ?, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan
nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya T, senang
dipanggil T. Asal saya dari Flores, hobi memancing”
“Selanjutnya ibu menanyakan nama orang yang diajak
berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya
dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo ibu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan ibu.
Coba berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“Setelah ibu berkenalan dengan orang tersebut ibu bisa
melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan ibu bicarakan.
Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan
sebagainya.”
TERMINASI:
”Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan berkenalan?”
” ibu tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan
baik sekali”
”Selanjutnya ibu dapat mengingat-ingat apa yang kita
pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga ibu lebih siap untuk berkenalan
dengan orang lain. S mau praktekkan ke
pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan
hariannya.”
”Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak ibu berkenalan dengan teman
saya, perawat N. Bagaimana, ibu mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.”
SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama -seorang perawat)
ORIENTASI :
“Selamat pagi bu! ”
“Bagaimana perasaan ibu hari ini?
« Sudah dingat-ingat lagi pelajaran kita tetang
berkenalan »Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan
perawat ! »
« Bagus sekali, ibu masih ingat. Nah seperti
janji saya, saya akan mengajak ibu mencoba berkenalan dengan teman saya perawat T. Tidak lama kok,
sekitar 10 menit »
« Ayo kita temui perawat T disana »
KERJA :
( Bersama-sama klien saudara mendekati perawat N)
« Selamat pagi perawat N, ini ingin berkenalan dengan N »
« Baiklah bu, ibu bisa berkenalan dengan perawat
T seperti yang kita praktekkan kemarin «
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan
perawat T : memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan
seterusnya)
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada perawat
T . coba tanyakan tentang keluarga perawat T »
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini.
Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat T, misalnya jam 1 siang nanti »
« Baiklah perawat T, karena ibu sudah selesai berkenalan,
saya dan ibu akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat T
untuk melakukan terminasi dengan klien di tempat lain)
TERMINASI:
“Bagaimana
perasaan ibu setelah berkenalan dengan perawat T”
”
ibu tampak bagus sekali saat berkenalan tadi”
”Pertahankan terus
apa yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik
lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan
sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita masukkan pada
jadwalnya. Mau berapa kali
sehari? Bagaimana kalau 2 kali. Baik nanti ibu
coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai
besok.”
SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang kedua-seorang pasien)
ORIENTASI:
“Selamat pagi bu! Bagaimana perasaan hari ini?
”Apakah ibu bercakap-cakap
dengan perawat Tkemarin siang”
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan
komunikasi berikutnya orang lain
”Bagaimana
perasaan ibu setelah bercakap-cakap dengan perawat T kemarin siang”
”Bagus sekali ibu
menjadi senang karena punya teman lagi”
”Kalau begitu ibu
ingin punya banyak teman lagi?”
”Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan
orang lain, yaitu pasien O”
”seperti biasa kira-kira 10 menit”
”Mari kita temui dia di ruang makan”
KERJA:
( Bersama-sama S saudara
mendekati pasien )
« Selamat pagi , ini ada pasien saya yang ingin
berkenalan. »
« Baiklah bu, ibu sekarang bisa berkenalan
dengannya seperti yang telah ibu lakukan sebelumnya. »
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi
salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi dan menanyakan hal yang
sama). »
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada O»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini.
Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi
jam 4 sore nanti »
(ibu membuat janji untuk bertemu
kembali dengan O)
« Baiklah O, karena ibu sudah selesai berkenalan,
saya dan klien akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat O
untuk melakukan terminasi dengan S di tempat lain)
TERMINASI:
“Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan
dengan O”
”Dibandingkan kemarin pagi, T tampak lebih baik saat
berkenalan dengan O” ”pertahankan apa
yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan
O jam 4 sore nanti”
”Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang
lain kita tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari ibu
dapat berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam
1 siang dan jam 8 malam, ibu bisa bertemu dengan T, dan tambah dengan pasien yang
baru dikenal. Selanjutnya ibu bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara
bertahap. Bagaimana ibu,
setuju kan?”
”Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan
pengalaman ibu. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya. Sampai
besok.”
4. Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Tujuan : Setelah tindakan
keperawatan keluarga mampu merawat pasien isolasi sosial
Tindakan : Melatih
Keluarga Merawat Pasien Isolasi sosial. Keluarga merupakan sistem pendukung
utama bagi pasien untuk dapat membantu pasien mengatasi masalah isolasi sosial
ini, karena keluargalah yang selalu bersama-sama dengan pasien sepanjang hari.
Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat pasien
isolasi sosial di rumah meliputi:
1)
Mendiskusikan
masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2)
Menjelaskan
tentang :
a.
Masalah
isolasi sosial dan dampaknya pada pasien.
b.
Penyebab isolasi sosial.
c.
Cara-cara
merawat pasien dengan isolasi sosial, antara lain:
a)
Membina
hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara bersikap peduli dan tidak
ingkar janji.
b)
Memberikan
semangat dan dorongan kepada pasien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama
dengan orang lain yaitu dengan tidak mencela kondisi pasien dan memberikan
pujian yang wajar.
c)
Tidak
membiarkan pasien sendiri di rumah.
d)
Membuat
rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien.
3)
Memperagakan
cara merawat pasien dengan isolasi sosial.
4)
Membantu
keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari, mendiskusikan yang
dihadapi.
5)
Menjelaskan
perawatan lanjutan.
SP 1 Keluarga : Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi social.
Peragakan kepada pasangan saudara komunikasi dibawah ini
!
ORIENTASI:
“Selamat pagi
Pak”
”Perkenalkan saya perawat Y....., saya yang merawat,
anak bapak”
”Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa?”
” Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana
keadaan anak sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang
masalah anak Bapak dan cara perawatannya”
”Kita diskusi
di sini saja ya? Berapa lama Bapak punya waktu? Bagaimana kalau setengah jam?”
KERJA:
”kira-kira bapak tahu apa yang terjadi dengan anak bapak?
Apa yang sudah dilakukan?”
“Masalah yang dialami oleh anak disebut isolasi sosial.
Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien
gangguan jiwa yang lain”.
” Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan
orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah
menunduk”
”Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman
yang mengecewakan saat berhubungan
dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan
orang–orang terdekat”
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka
seseorang bisa mengalami halusinasi,
yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada.”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota
keluarga lainnya harus sabar menghadapi anak bapak. Dan untuk merawat anak
bapak, keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina
hubungan saling percaya dengan anak bapak
yang caranya adalah bersikap peduli dengan anak bapak dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga
perlu memberikan semangat dan dorongan kepada anak bapak untuk bisa melakukan
kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi
pasien.”
« Selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buat rencana
atau jadwal bercakap-cakap dengan anak bapak. Misalnya
sholat bersama, makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah
tangga bersama.”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk
melakukan semua cara itu”
” Begini contoh komunikasinya, Pak: anak bapak, bapak lihat
sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap
dengan orang lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali
melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang
lain. Lalu bagaimana kalau mulai sekarang kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah
sakit ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu sholat bersana-sama
keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana anak bapak, kamu mau coba kan, nak ?”
”Nah coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi
seperti yang saya contohkan”
”Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
”Sampai sini ada yang ditanyakan Pak”
TERMINASI:
“Baiklah waktunya
sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi?”
“Coba Bapak ulangi
lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang
mengalami isolasi sosial »
« Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali cara-cara
merawat anak bapak yang mengalami masalah isolasi sosial »
« Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan kembali
cara-cara perawatan tersebut »
«Nanti kalau ketemu S coba Bp/Ibu lakukan. Dan tolong
ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang
sama. »
« Bagaimana kalau kita betemu tiga hari lagi
untuk latihan langsung kepada S ? »
« Kita ketemu disini saja ya Pak, pada jam yang
sama »
SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien.
Orientasi:
“Selamat pagi Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bpk/Ibu hari ini?”
”Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti
yang kita pelajari berberapa hari yang
lalu?”
“Mari praktekkan langsung ke klien! Berapa lama waktu
Bapak/Ibu Baik kita akan coba 30 menit.”
”Sekarang mari kita temui anak bapak”
Kerja:
”Selamat pagi mba. Bagaimana perasaan mba hari ini?”
”Bpk/Ibu mba datang besuk. Beri
salam! Bagus. Tolong mba tunjukkan jadwal kegiatannya!”
(kemudian saudara
berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang
sudah kita latihkan beberapa hari lalu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara
merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana
perasaan mba setelah berbincang-bincang dengan Orang tua mba?”
”Baiklah, sekarang
saya dan orang tua ke ruang perawat dulu”
(Saudara dan
keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah
bagus.”
« «Mulai sekarang Bapak sudah bisa melakukan cara
merawat tadi kepada anak
bapak »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk
mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari.
Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang
Pak »
« Sampai jumpa »
SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan
ORIENTASI:
“Selamat pagi Pak/Bu”
”Karena rencana anak bapak mau pulang, maka perlu
kita bicarakan perawatan lanjutan di rumah.”
”Bagaimana kalau kita membicarakan perawatan
lanjutan tersebut disini saja”
”Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30
menit?”
KERJA:
”Bpk/Ibu, ini jadwal anak bapak yang sudah dibuat.
Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan? Di rumah Bpk/Ibu yang menggantikan
perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah
perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama di rumah. Misalnya kalau anak
bapak terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat
atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi
segera lapor ke rumah sakit atau bawa anak bapak ke rumah sakit”
TERMINASI:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal
kegiatan harian anak bapak. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat
habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar dan hidup dalam khayalan sendiri yang tidak realistis.
Tanda dan Gejala dari Isolasi Sosial ; Menarik diri yaitu, menyendiri dalam ruangan, tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata, sedih, afek datar, perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya, berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna, mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain, klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri.
B. SARAN
1. Untuk mempermudah seorang perawat dalam mengaplikasikan teori ini hendaknya seorang perawat memahami dan mampu membangun konsep diri dirinya sendiri yang positif.
2. Untuk menambah wawasan pembaca dapat melihat referensi yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Direja, A. H. (2011). Buku
Ajar Keperawatan Jiwa . Yogyakarta : Nuha Medika.
Erlinafsiah. (2010). Modal
Perawat Dalam Praktik Keperawatan Jiwa . Jakarta : CV. Trans Info Media.
Keliat, B. A. (2011). Keperawatan
Kesehatan Jiwa Komunitas . Jakarta : EGC.
Kusumawati, F. (2011). Buku
Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika.
Rasmun, 2001 dikutip dari http://elmoresagala.wordpress.com/2013/12/04/laporan-pendahuluan-isolasi-sosial-menarik-diri/diambil
tanggal 14 Juli 2014.
Yosep, I. (2007). Keperawatan
Jiwa . Bandung : Refika Aditama .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar