Minggu, 01 November 2015

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA ASUHAN KEPERAWATAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN (SP) PADA KLIEN MENARIK DIRI



MAKALAH KEPERAWATAN JIWA
ASUHAN KEPERAWATAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
PADA KLIEN MENARIK DIRI








Di susun oleh :

Roudlotul Badi’ah



AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
2014
Contents

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ASUHAN KEPERAWATAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN (SP) PADA KLIEN MENARIK DIRI.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :
Ns. ........., S.Kep Selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan memberikan bimbingan sehingga ASKEP PADA KLIEN DENGAN MENARIK DIRI bisa selesai tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di masa kini ataupun masa yang akan datang bagi pembaca umumnya dan tenaga kesehatan khususnya.


Semarang, 26 Juni 2014


penulis



BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Sehat merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Pada masa globalisasi saat ini, banyak tuntutan yang menjadi stressor dalam kehidupan. Stressor yang dihadapi seseorang harus diikuti dengan kemampuan koping yang konstruktif, dikarenakan seseorang yang mengalami kegagalan dalam memberikan koping yang tidak sesuai dengan tekanan yang dialami, mengakibatkan individu mengalami berbagai macam gangguan mental, stressor yang sering dijumpai saat ini yaitu kondisi lingkungan social yang semakin keras dan diperberat dengan tingkat kemiskinan yang menekan dapat menjadi penyebab meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan (Yosep, 2007).
Diperkirakan penduduk Indonesia yang menderita gangguan jiwa sebesar 2-3% jiwa. Zaman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung, dirantai, atau diikat, lalu ditempatkan tersendiri dirumah atau hutan jika gangguan jiwanya berat. Bila tidak berbahaya, dibiarkan berkeliaran didesa, sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat (Kusumawati, 2011).
Tuntutan hidup yang semakin tinggi dan kemampuan koping yang tidak konstruktif mengakibatkan angka kejadian gagguan jiwa tinggi. Saat ini diperkirakan ada 450 juta penderita gangguan jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) di dapatkan prevalensi gangguan jiwa 264 per 1.000 anggota rumah tangga (Musafir, 2010). Data yang dimuat oleh Wawasan tanggal 13 Oktober 2010 angka keadian penderita gangguan jiwa di Jawa Tengah berkisar antara 3.300 orang sampai 9.300 orang. Angka kejadian ini merupakan penderita yang sudah terdiagnosa (Waluyo, 2010).
            Angka tersebut pada tahun 2000 menjadi 12,3% dan diproyeksikan menjadi 15% pada tahun 2020. Ketidakmampuan yang terjadi disebabkan oleh depresi, cemas, gangguan penyalah gunaan zat atau napza, skizofrenia, eplepsi, penyakit alzeimer, retardasimental, serta gangguan jiwa pada anak dan remaja (Kusumawati, 2011).
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktik keperawatn yang menggunakan ilmu diri sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan, mempertahankan, serta memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada. Fokusnya adalah pnggunaan diri sendiri secara terapeutik, artinya perawat jiwa membutuhkan alat atau media untuk melkukan perawatan. Alat yang digunakan selain keterampilan teknik dan alat-alat klinik, yang terpenting adalah menggunakan dirinya sendiri. Sebagai contoh gerak tubuh, mimic wajah, bahasa, tatapan mata, pendengaran, sentuhan, nada suara, dan sebagainya (Kusumawati, 2011).
Menurut Clinton dan Nelson (Kusumawati, 2011) perawat jiwa berusaha menemukan dan memenuhi kebutuhan dasar klien yang terganggu seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan disayangi, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi. Klien gangguan jiwa umumnya mengalami gangguan selain fisiologis sebagai keluhan utama, tetapi selanjutnya selutuh kebutuhan menjadi terganggu sebagai dampak terganggunya kebutuhan fisiologis.
            Menurut Antai Otong ( Psychiatric Nursing Biological and bhavioral Concept, 1995) Perawat kesehatan jiwa secara kontinu memilki peran penting dalam mengidentifikasi pasien-pasien yang berisiko, mengkaji respon pasien terhadap stress sepanjang rentang kehidupannya, dan dalam mengembangkan komunikasi yang terapeutik. Perawat kesehatan mental bertanggung jawab secara kontinu dalam seluruh rentang kehidupan klien dari mulai fase anak sampai lansia yang dikenal dengan historis life span. peran lain yang sangat penting berdasarkan definisi diatas adalah mengindentifikasi pasien yang berisiko (Kusumawati, 2011).
            Dari penajabaran diatas dapat disimpulkan, kesejahteraan hidup dapat terpenuhi dengan keadaan sehat dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Peran perawat disini dalam meningkatkan kesehatan jiwa, dalam kaitannya dengan menarik diri adalah meningkatkan percaya diri klien dan mengajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya berkenalan, dan bercakap-cakap dengan orang lain, memberikan penjelasan tentang kerugian menyendiri dan keuntungan dari berinteraksi dengan orang lain sehingga diharapkan mampu terjadi peningkatan interaksi social klien. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik mengambil kasus “Asuhan Keperawatan Jiwa Dan Strategi Pelaksanaan Isolasi Sosial : Menarik Diri”.  

B.     Tujuan Penulis

a)      Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran serta mampu menerapkan asuhan keperawatan dan strategi pelaksana (SP) jiwa dengan masalah Isolasi Sosial : Menarik diri, melalui pendekatan keperawatan.

b)     Tujuan Khusus

Setelah pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan tentang :
1)      Isolasi Diri
·         Pengertian Isolasi Diri
·         Pengertian Menarik diri
·         Etiologi Isolasi diri
·         Rentang Respon
·         Manifestasi Klinik
·         Penatalaksanaan
2)      Asuhan Keperawatan Menarik Diri
·         Pengakajian
·         Pohon Masalah
·         Diagnosa Keperawatan
·         Intervensi Keperawatan
·         Implementasi Keperawatan
·         Evaluasi Keperawatan
3)      Strategi Pelaksanaan.


BAB II

TINJAUAN TEORI


A.    PENGERTIAN

Menurut Twondsend, 1998 Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesiapan yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Kusumawati, 2011).
Isolasi social merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup berbagi pengalaman (Yosep, 2007).
Menurut Pawlin Menarik diri merupakan percobaan unruk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Kusumawati, 2011).
Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar dan hidup dalam khayalan sendiri yang tidak realistis (Erlinafsiah, 2010).

B.     ETIOLOGI

Terjadinya gangguan ini di pengaruhi oleh faktor presdiposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai dengan berdiam diri, menghindar dengan orang lain, dan kegiatan sehari – hari terabaikan  (Kusumawati, 2011).

1.      Faktor Penyebab Menarik Diri
1)      Factor Prediposisi
Berbagai teori telah di ajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukkan tentang factor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi
a.       Factor genetic, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
b.      Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri.
c.       Teori kehilangan objek merujuk kepada perpisahan traumatic individu dengan benda tau yang sangat berarti.
d.      Teori organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang negative dan harga diri rendah mempengaruhi sistim keyakinan dan penilaian seseorang.
e.       Model kognitif menyatakan bahwa defresi, merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negative seseorang terhadap diri seseorang, dunia seseorang, dan masa depan seseorang.
f.       Metode ketidakberdayaan di pelajari, menunjukkan bahwa bukan semata-mata trauma menyebabkan defresi tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hal yang penting bagi kehidupannya, oleh karena itu ia mengulangi respons yang adaptif.
g.      Model perilaku berkembang dari kerangka teori belajar social, tentang mengansumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berintegrasi dengan lingkungan.
h.      Model biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi selama masa depresi, termasuk defisiensi katekolamin, dispungsi endokrin, hipersekresi kortisol, dan variasi periodic, dan irama biologis  (Erlinafsiah, 2010).
2)      Factor Prepitasi
Terjadinya gangguan hubungan social juga dapat ditimbulkan oleh factor internal dan eksternal seseorang. Factor stressor prepitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a.       Factor eksternal
Contohnya adalah stressor social budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh factor social budaya seperti keluarga.
b.      Factor internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadi keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu  (Direja, 2011).

C.    Rentang Respon :
Menurut (Erlinafsiah, 2010), rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan lingkungan social merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respons adaptif dengan maladaptif sebagai berikut : 
Rounded Rectangle:
~ Merasa sendiri
(Loneliness)
~ Menarik diri
~ Ketergantungan
(Defendent)
 
~ Menyendiri
~ Otonomi
~ Bekerjasama
(mutualisme narcitisme)


 
Respon Maladaptif
 
Respon Adaptif
 
RENTANG RESPON SOSIAL
 
                         





~ Manipulasi
~ Impulsif
 
 




a.       Menyendiri (Solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu sara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
b.      Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide, pikiran, perasaan, dalam hubungan sosial .
c.       Bekerja sama (Mutualisme)
Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
d.      Saling ketergantungan (Intervenden)
Merupakan kondisi saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interversonal.
e.       Menarik diri
Keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
f.       Ketergantungan (Dependen)
Terjadi bila seseorang gagal dalam mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.
g.      Manipulasi
Gangguan hubunga sosial yang terdapat pada individu menganggap orang lain sebagai objek,individu tersebut terdapat membina hubungan sosial secara mendalam.
h.      Impulsif
Tidak mampu merencanakan sesuatu,tidak mampu belajar dari pengalaman, penilaian yang buruk dan individu ini tidak dapat diandalkan.
i.        Narcisism
Harga dirinya rapuh,secara terus menerus berusaha mendapatkan panghargaan dan pujian yang egosentris dan pencemburu.

C.    MANIFESTASI KLINIK

Tanda dan Gejala Isolasi Sosial ; Menarik diri, yaitu :
1.      Menyendiri dalam ruangan
2.      Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata.
3.      Sedih, afek datar.
4.      Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5.      Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna.
6.      Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain.
7.      Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya.
8.      Menggunakan kata-kata simbolik (neologisme).
9.      Menggunakan kata yang tak berarti.
10.  Kontak mata kurang/tidak mau menatap lawan bicara.
11.  Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri (Kusumawati, 2011).

Adapun tingkah laku menarik diri menurut (Erlinafsiah, 2010) yaitu :
1.      Kurang sopan
2.      Apatis
3.      Ekspresi wajah kurang biverbal menurun berseri
4.      Afek tumpul
5.      Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan
6.      Komunikasi verbal menurun atau tidak ada
7.      Mengisolasi diri
8.      Pemasukan makan dan minuman terganggu
9.      Retensi urin dan feses
10.  Aktivitas menurun
11.  Kurang energik (tenaga)
12.  Harga diri rendah
13.  Menolak hubungan dengan orang lain.

Tanda dan gejala menurut  (Yosep, 2007), yaitu :
a.       Gejala subjektif
1.    Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh oaring lain.
2.      Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
3.      Respons verbal kurang dan sangat singkat.
4.      Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
5.      Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
6.      Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
7.      Klien merasa tidak berguna.
8.      Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
9.      Klien merasa ditolak.
b.      Gejala objektif :
1.      Klien banyak diam dan tidak mau bicara
2.      Tidak mengikuti kegiatan
3.      Banyak berdiam diri di kamar
4.      Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat
5.      Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
6.      Kontak mata kurang
7.      Kurang sopan
8.      Apatis (acuh terhadap lingkungan)
9.      Ekspresi wajah kurang berseri
10.  Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
11.  Mengisolasi diri
12.  Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
13.  Masukan makanan dan minuman terganggu
14.  Retensi urin dan feses
15.  Aktivitas menurun
16.  Kurang energy (tenaga)
17.  Rendah diri
18.  Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur)

D.    PENATALAKSANAAN

Prinsip penatalaksanaan klien menarik diri adalah :
1.      Membina hubungan saling percaya
2.      Membantu klien menyadari perilaku isolaso sosial
3.      Melatih klien cara-cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
4.      Diskusi dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimilki.
5.      Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan.
6.      Ajarkan pada klien koping mekanisme yang konstruktif.
7.      Libatkan klien dalam interkasi dan terapi kelompok secara bertahap.
8.      Diskusi dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai dengan keluarga terdekat.
9.      Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar (Yosep, 2007).
Penatalaksanaan Medis
1.      Obat antipsikotik :
1)      Clorpromazine (CPZ)
a.       Indikasi
Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat fungsi-fungsi mental : waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilkau yang aneh atau, tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
b.      Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor pasca sinap diotak khususnya sistem extra piramida.
c.       Efek samping
Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi, dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan extra piramidal (ditonia akut, akatsia, sindromaparkinson atau tremor, bradikinesia regiditas), gangguan endrokin, metabolik, hematologik, akgranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
d.      Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakiT SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan.
2) Haloperidol (HP)
a.       Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
b.      Mekanisme kerja
Obat antipsikosis dalam memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron diotak khususnya sistemlimbik dan sistem extra piramidal.
c.       Efek samping
Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.
d.      Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan.
3)      Trihexy phenidyl (THP)
a.       Indikasi
Segala jenis penyakit parkinson, termasuk ensefalitis dan idiopatik, sindrome parkinson akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.
b.      Mekanisme kerja
Obat antipsikosis dalam memblokade dopamine pada resptor pasca sinaptik neuron diotak khususnya sistem limbik dan sistem extra pirimidal.
c.       Efek samping
Sedasi dan inhibisi psikomotor gangguan otonomik (hipertensi, antikolinergik atau parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defikasi, hidung tersumbat, mata kabur, intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.
d.      Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakiT SSP, gnagguan kesdaran disebabkan CNS Depresan (Rasmun, 2001).
Terapi farmakologi
1.      Terapi somatic adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptive menjadi perilaku adaptif dengan melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien. Terapi somatic mencakup : pemberian obat psikofarma, lobektomi dan Electro Convulsi Therapy (ECT), psikoterapeutik, terapi modalitas
Jenis terapi somatic adalah :
1)      Pengikatan
Terapi menggunakan alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien yang bertujuan untuk melindungi cedera fisik pada klien sendiri atau orang lain.
2)      Terapi Kejang Listrik / ECT
Bentuk terapi pada klien dengan menimbulkan kejang dengan mengalirkan arus listrik kekuatan rendah (2-3 joule) melalui electrode yang ditempelkan di beberapa titik pada pelipis kiri/kanan (lobus frontalis) klien.
3)      Isolasi
Bentuk terapi dengan menempatkan klien sendiri di ruangan tersendiri untuk mengendalikan perilakunya dan melindungi klien, orang lain, dan lingkungan dari bahaya potensial yang mungkin terjadi.
4)      Fototerapi
Terapi yang diberikan dengan menempatkan klien pada sinar terang 5-10x lebih terang daripada sinar ruangan dengan posisi klien duduk, mata terbuka pada jarak 1,5 m di depan klien diletakkan lampu setinggi mata.
2.       Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari perilaku yang maladaptive menjadi perilaku adaptif. Jenis-jenis terapi modalitas adalah:
1)      Terapi Aktifitas Kelompok
Suatu bentuk terapi yang didasarkan pada pembelajaran hubungan interpersonal. Focus terapi aktifitas kelompok adalah membuat sadar diri (self-awereness), peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya.
2)      Terapi Keluarga
Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan (sehat-sakit) klien. Perawat membantu keluarga agar mampu melakukan lima tugas kesehatan yaitu, mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan, member perawatan pada anggota keluarga yang sehat, menciptakan lingkungan yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada dalam masyarakat.
3)      Terapi Rehabilitasi
Program rehabilitasi dapat digunakan sejalan dengan terapi modalitas lain atau berdiri sendriri seperti terapi okupasi, rekreasi, gerak, dan music.
4)      Terapi Psikodrama
Terapi ini menggunakan struktur masalah emosi atau pengalaman klien dalam suatu drama. Drama ini memberi kesempatan pada klien untuk menyadari perasaan, pikiran, dan perilakunya yang mempengaruhi orang lain.
5)      Terapi Lingkungan
Suatu tindakan penyembuhan penderita dengan gangguan jiwa melalui manipulasi unsure yang ada di lingkungan dan berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Upaya terapi harus bersifat komprehensif, holistic, dan multidisipliner (Rasmun, 2001).

E.     PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian :
Isolasi sosial adalah keadaan seorang individu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Keliat, 2011).
1.      Identitas
Sering ditemukan pada usia dini atau muncul pertama kali pada masa pubertas.
2.      Keluhan utama
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa ke rumah sakit biasanya akibat adanya kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi.
3.      Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi sangat erat kaliannya dengan faktor etiologi yakni keturunan, endokrin, metabolisme, susunan saraf pusat, dan kelemahan ego.
4.      Psikososial
a)      Genogram
Orang tua penderita skizofrenia, salah satu kemungkinan anaknya 7-16% skizofrenia, bila keduanya menderita 40-68%, saudara tiri kemungkinan 0,9-1,8%, saudar kembar 2-5%, dan saudara kandung 7-15%.
b)      Konsep diri
Kemunduran kemauan dan kedangkalan emosi yang mengenai pasien akan memengaruhi konsep diri pasien.
c)      Hubungan sosial
Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, dan berdiam diri.
d)     Spiritual
Aktivitas spiritual menurun seiring dengan kemunduran kemauan.
5.      Status mental
a.       Penampilan diri
Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tak terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai manifestasi kemunduran kemauan pasien.
b.      Pembicaraan
Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
c.       Aktivitas motorik
Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
d.      Emosi
Emosi dangkal
e.       Afek
Dangkal, tak ada ekspresi roman muka
f.       Interaksi selama wawancara
Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, diam.
g.      Persepsi
Tidak terdapat halusinasi atau waham.
h.      Proses berfikir
Gangguan proses berpikir jarang ditemukan.
i.        Kesadaran
Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan serta pembatsan dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kualitatif.
j.        Memori
Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, dan orang.
k.      Kemampuan penilaian
Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.
l.        Tilik diri
Tak ada yang khas.
6.      Kebutuhan sehari-hari
Pada permulaan, penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin mundur dalam pekerjaan akibat kemundurn kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, dan istirahat tidur (Kusumawati, 2011).
Untuk mengkaji pasien isolasi sosial anda dapat menggunakan wawancara dan observasi kepada pasien dan keluarga.
Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan wawancara adalah :
1.      Pasien menceritakan perasaan kesepian atau do tolak oleh orang lain.
2.      Pasien merasa tidak berada dengan orang lain.
3.      Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
4.      Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
5.      Pasien tidak mampu berkosentrasi dan membuat keputusan.
6.      Pasien merasa tidak berguna.
7.      Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat ditanyakan pada waktu wawancara untuk mendapatkan data subjektif :
1.      Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang di sekitarnya (keluarga atau tetangga)?
2.      Apakah pasien mempunyai teman dekat ? bila punya, siapa teman dekat itu ?
3.      Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat dengannya ?
4.      Apa yang pasien inginkan dari orang-orang di sekitarnya ?
5.      Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien ?
6.      Apa yang menghambat hubungan harmonis antara pasien dengan orang-orang di sekitarnya ?
7.      Apakah pasien merasa bahwa waktu begitu lama berlalu ?
8.      Apakah oernah ada perasaan ragu untuk dapat menlanjutkan kehidupan ?
(Keliat, 2011).

F.     POHON MASALAH















Akibat
 








Akibat
 









Penyebab
 








Depkes, 2000 di kutip dalam ;  (Kusumawati, 2011)
 
 












G.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

                    i.      Isolasi sosial

Dibuktikan oleh hal-hal berikut ini :
1)      Menyendiri dalam ruangan.
2)      Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata.
3)      Sedih, afek datar.
4)      Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya.
5)      Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna.
6)      Mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain (Kusumawati, 2011).
Tujuan :
1)      Klien mampu menyadari penyebab isolasi social.
2)      Klien mampu berisolasi dengan orang lain.
Kriteria Hasil :
1)      Membina saling percaya
2)      Menyadari penyebab isolasi social, keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain.
3)      Melakukan interaksi dengan orang lain secara bertahap (Direja, 2011).

                  ii.      Intervensi

SP 1 :
1)      Identifikasi penyebab
1.      Siapa yang satu rumah sama klien
2.      Siapa yang dekat dengan klien.
3.      Siapa yang tidak dekat dengan klien.
2)      Tanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
a.       Tanyakan pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b.      Tanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c.       Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
d.      Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
e.       Jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik klien.
3)      Latih berkenalan
a.       Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain.
b.      Berikan contoh cara berinteraksi dengan orang lain.
c.       Beri kesempatan klien mempraktekan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan perawat.
d.      Mulailah bantu klien berinteraksi dengan satu teman atau anggota keluarga.
e.       Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatan jumlah interaksi 2,3,4 orang dan seterusnya.
f.       Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakuakn oleh klien.
g.      Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain, mungkin klien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya, beri dorongan terus menerus agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya.
4)      Masukan jadwal kegiatan
SP 2 :
1)      Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
2)      Latih berhubungan social secara bertahap
3)      Masukan dalam jadwal kegiatan klien
SP 3 :
1)      Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 & 2)
2)      Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
3)      Masukan dalam jadwal kegiatan klien (Direja, 2011).
Tujuan :
1)       Keluarga mampu merawat klien dengan isolasi social
Kriteria Hasil :
Diharapkan keluarga mampu menjelaskan tentang :
1)      Masalah isolasi social dan dampaknya pada klien.
2)      Penyebab isolasi social
3)      Sikap keluarga untuk membantu klien mengatasi isolasi sosialnya.
4)      Pengobatan yang berkelanjutan dan mencegah putus obat.
5)      Tempat rujukan dan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi klien.
Intervensi :
SP 1 :
1)      Identifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat klien.
2)      Penjelasan isolasi social
3)      Cara merawat klien isolasi social
4)      Latih (simulasi)
5)      RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 2 :
1)      Evaluasi kemampuan SP 1
2)      Latih langsung ke klien
3)      RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 3 :
1)      Evaluasi kemampuan SP 1
2)      Latih langsung ke klien
3)      RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat klien
SP 4 :
1)      Evaluasi kemampuan keluarga
2)      Evaluasi kemampuan klien
3)      RTL keluarga Follow up, rujukan (Direja, 2011).

                iii.      Implementasi Keperawatan

1)      Membina Hubungan Saling Percaya
Tindakan yang harus dilakukan dalam membina hubungan saling percaya, adalah :
a.       Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
b.      Berkenalan dengan pasien.
c.       Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.
d.      Buat kontrak asuhan : apa yang akan dilakukan bersama klien, berpa lama akan dikerjakan, dan tempatnya dimana.
e.       Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi.
f.       Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap klien.
g.      Penuhi kebutuhan dasar klien saat berinteraksi.
2)      Membantu klien menyadari perilaku social
Hal yang dapat dilakukan untuk klien, agar menyadari perilaku isolasi social dengan menanyakan :
a.       Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b.      Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c.       Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.
d.      Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
e.       Jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik klien.
3)      Melatih klien cara-cara berinteraksi social terhadap
a.       Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain.
b.      Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain.
c.       Beri kesempatan klien mempraktikan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan di hadapan perawat.
d.      Mulailah bantu klien berinteraksi dengan satu orang teman/anggota keluarga.
e.       Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang, dan seterusnya.
f.       Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien.
g.      Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain.
4)      Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.
5)      Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan.
6) Ajarkan pada klien koping mekanisme yang konstruktif.
7)      Libatkan klien dalam interkasi dan terapi kelompok secara bertahap.
8)      Diskusi dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai dengan keluarga terdekat.
9)      Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar (Yosep, 2007).

                iv.      Evaluasi Keperawatan

1.      Kemampuan Pasien dan Keluarga
Nama pasien                :
Ruangan                      :                                                                      
Nama perawat             :
Petunjuk :
Berilah tanda cheklist (√ ) jika pasien mampu melakukan kemampuan dibawah ini.
Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervisi
No
Kemampuan
Tanggal







A
Pasien
1
Menyebutkan penyebab isolasi social







2
Menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain







3
Menyebutkan kerugian tidak berinterkasi dengan orang lain







4
Berkenalan dengan satu orang







5
Berkenalan dengan dua orang atau lebih







6

 

7
Memilki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
Melakukan perbincangan dengan orang lain sesuai jadwal harian.







B
Keluarga
1
Menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala isolasi social







2
Menyebutkan cara-cara merawat pasien isolasi social







3
Mendemonstrasikan cara merawat pasien isolasi sosial







4
Menyebutkan tempat rujukan yang sesuai untuk pasien isolasi social








2.      Kemampuan perawat
Nama pasien          :
Ruangan                :
Nama perawat       :
Petunjuk                :
a)      Penilaian tindakan keperawatan untuk setiap SP dengan menggunakan instrumen penilaian kerja.
b)      Nilai tiap penilaian kerja dimasukkan ke tabel pada baris nilai SP.
No
Kemampuan
Tanggal







A
Pasien

SP 1 Pasien







1
Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien







2
Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain







3
Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain







4
Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang







5
Menganjurkan pasien memasukkan kegitan latihan berbincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan harian








Nilai SP 1 Pasien








SP 2 Pasien







1
Mengevaluasi jadwal kegiatn harian pasien







2
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang







3
Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian








Nilai SP 2 pasien









SP 3 Pasien







1
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien








2

Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berkenalan dengan dua orang atau lebih







3
Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan ini kedalam jadwal kegiatan harian









Nilai SP 3 Pasien








B
Keluarga

SP 1 Keluarga







1
Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien







2
Menjelaskan pengertian, tnada dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya 







3
Menjelaskan cara merawat pasien isolasi sosial








Nilai SP 1 K








SP 2 K







1
Melatih keluarga mempraktikan cara merawat pasien isolasi sosial







2
Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi social








Nilai SP 2 Keluarga








SP 3 Keluarga
1
Membantu kluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat







2
Menjelaskan follow up pasien








Nilai SP 3 Keluarga








Total nilai : SP Pasien + SP Keluarga








Nilai rata-rata








(Keliat, 2011).

H.    STRATEGI PELAKSANAAN

Masalah Utama           : Isolasi Sosial

1.      Proses Keperawatan

1)      Kondisi Klien
a.       Data obyektif :
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.
b.      Data subyektif :
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.

2.      Diagnosa Keperawatan

      Isolasi social (menarik diri)
1)      Strategi Pelaksanaan Tindakan
2)      Tujuan khusus :
a.       Klien mampu mengungkapkan hal – hal yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial.
b.      Klien mampu mengungkapkan keuntungan berinteraksi.
c.       Klien mampu mengungkapkan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain.
d.      Klien mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang

3.      Tindakan Keperawatan

1)      Mendiskusikan faktor – faktor yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial
2)      Mendiskusikan keuntungan berinteraksi
3)      Mendiskusikan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4)      Mendiskusikan cara berkenalan dengan satu orang secara bertahap

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan.


ORIENTASI (PERKENALAN):
“Selamat pagi ”
“Saya nurhakim yudhi wibowo, Saya senang dipanggil yudi, Saya mahasiswa UNDIP yang akan merawat Ibu.”
“Siapa nama Ibu? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan ibu hari ini?” Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ibu ? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa lama, bu? Bagaimana kalau 15 menit”
KERJA:
(Jika pasien baru)
”Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan ibu? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan ibu? Apa yang membuat ibu jarang bercakap-cakap dengannya?”
(Jika pasien sudah lama dirawat)
”Apa yang ibu rasakan selama ibu dirawat disini? O.. ibu merasa sendirian? Siapa saja yang ibu kenal di ruangan ini”
 “Apa saja kegiatan yang biasa ibu lakukan dengan teman yang ibu kenal?”
 “Apa yang menghambat ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang  lain?”
 ”Menurut ibu apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya ibu ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah ya ibu ? belajar bergaul dengan orang lain ?
«  Bagus. Bagaimana kalau sekarang  kita belajar berkenalan dengan orang lain”
 “Begini lho ibu ?, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya T, senang dipanggil T. Asal saya dari Flores, hobi memancing”
“Selanjutnya ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo ibu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan ibu. Coba berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“Setelah ibu berkenalan dengan orang tersebut ibu bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan ibu bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.”
TERMINASI:
”Bagaimana perasaan ibu setelah kita  latihan berkenalan?”
” ibu tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali”
”Selanjutnya ibu dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga ibu lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain.  S mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.”
”Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini  untuk mengajak ibu berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, ibu mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.”

SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama -seorang perawat)


ORIENTASI :
“Selamat pagi bu! ”
“Bagaimana perasaan ibu hari ini?
« Sudah dingat-ingat lagi pelajaran kita tetang berkenalan »Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan perawat ! »
« Bagus sekali, ibu masih ingat. Nah  seperti janji saya, saya akan mengajak ibu mencoba berkenalan  dengan teman saya perawat T. Tidak lama kok, sekitar 10 menit »
« Ayo kita temui perawat T disana »
KERJA :
( Bersama-sama klien saudara mendekati perawat N)
« Selamat pagi perawat N, ini  ingin berkenalan dengan N »
« Baiklah bu, ibu bisa berkenalan dengan perawat T seperti yang kita praktekkan kemarin « 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan perawat T : memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada perawat T . coba tanyakan tentang keluarga perawat T »
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat T, misalnya  jam 1 siang nanti »
« Baiklah perawat T, karena ibu sudah selesai berkenalan, saya  dan ibu akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat T untuk melakukan terminasi dengan klien di tempat lain)
TERMINASI:
 “Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan perawat T”
ibu tampak bagus  sekali saat berkenalan tadi” 
”Pertahankan terus  apa yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita masukkan pada jadwalnya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau 2 kali. Baik nanti ibu coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai besok.”

SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang kedua-seorang pasien)


ORIENTASI:
“Selamat pagi bu! Bagaimana perasaan hari ini?
”Apakah ibu bercakap-cakap dengan perawat Tkemarin siang”
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan komunikasi berikutnya orang lain
 ”Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap dengan perawat T kemarin siang”
”Bagus sekali ibu menjadi senang karena punya teman lagi”
”Kalau begitu ibu ingin punya banyak teman lagi?”
”Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu pasien O”
”seperti biasa kira-kira 10 menit”
”Mari kita temui dia di ruang makan”
KERJA:
( Bersama-sama S saudara mendekati pasien )
« Selamat pagi , ini ada pasien saya yang ingin berkenalan. »
« Baiklah bu, ibu sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah ibu lakukan sebelumnya. » 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi dan menanyakan hal yang sama). »
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada O»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti »
(ibu membuat janji untuk bertemu kembali dengan O)
« Baiklah O, karena ibu sudah selesai berkenalan, saya  dan klien akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat O untuk melakukan terminasi dengan S di tempat lain)
TERMINASI:
 “Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan O”
”Dibandingkan kemarin pagi, T tampak lebih baik saat berkenalan dengan O”  ”pertahankan apa yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O  jam 4 sore nanti”
”Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan  berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari ibu dapat berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang dan jam 8 malam, ibu bisa bertemu dengan T, dan tambah dengan pasien yang baru dikenal. Selanjutnya ibu bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara bertahap.    Bagaimana ibu, setuju kan?”
”Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman ibu. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya. Sampai besok.”

4.      Tindakan Keperawatan untuk Keluarga

Tujuan : Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat pasien isolasi  sosial
Tindakan : Melatih Keluarga Merawat Pasien Isolasi sosial. Keluarga merupakan sistem pendukung utama bagi pasien untuk dapat membantu pasien mengatasi masalah isolasi sosial ini, karena keluargalah yang selalu bersama-sama dengan pasien sepanjang hari.
Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat pasien isolasi sosial di rumah meliputi:
1)      Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2)      Menjelaskan tentang :
a.       Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien.
b.      Penyebab isolasi sosial.
c.       Cara-cara merawat pasien dengan isolasi sosial, antara lain:
a)      Membina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara bersikap peduli dan tidak ingkar janji.
b)      Memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain yaitu dengan tidak mencela kondisi pasien dan memberikan pujian yang wajar.
c)      Tidak membiarkan pasien sendiri di rumah.
d)     Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien.
3)      Memperagakan cara merawat pasien dengan isolasi sosial.
4)      Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari, mendiskusikan yang dihadapi.
5)      Menjelaskan perawatan lanjutan.

SP 1 Keluarga :   Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi   sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan  isolasi social.   

Peragakan kepada pasangan saudara komunikasi dibawah ini !
ORIENTASI:
“Selamat pagi  Pak”
”Perkenalkan saya perawat Y....., saya yang merawat, anak bapak”
”Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa?”
” Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya”
 ”Kita diskusi di sini saja ya? Berapa lama Bapak punya waktu? Bagaimana kalau setengah  jam?”
KERJA:
”kira-kira bapak tahu apa yang terjadi dengan anak bapak? Apa yang sudah dilakukan?”
“Masalah yang dialami oleh anak disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain”.
” Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk”
”Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan   saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan orang–orang terdekat”
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka seseorang  bisa mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada.”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota keluarga lainnya harus sabar menghadapi anak bapak. Dan untuk merawat anak bapak, keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan anak bapak  yang caranya adalah bersikap peduli dengan anak bapak  dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada anak bapak untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi pasien.”
« Selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan anak bapak. Misalnya sholat bersama, makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama. 
”Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu”
” Begini contoh komunikasinya, Pak:  anak bapak, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa  bercakap-cakap dengan orang lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang lain. Lalu bagaimana kalau mulai sekarang kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu sholat bersana-sama keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana anak bapak, kamu mau coba kan, nak ?”
”Nah coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi seperti yang saya contohkan”
”Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
”Sampai sini ada yang ditanyakan Pak”
TERMINASI:
“Baiklah waktunya  sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi?”
“Coba Bapak  ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang mengalami isolasi sosial »
« Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak yang mengalami masalah isolasi sosial »  
« Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan kembali cara-cara perawatan tersebut »
«Nanti kalau ketemu S coba Bp/Ibu lakukan. Dan tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama. »
«  Bagaimana kalau kita betemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada S ? »
« Kita ketemu disini saja ya Pak, pada jam yang sama »

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan  masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien.


Orientasi:
“Selamat pagi Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bpk/Ibu hari ini?”
”Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari  berberapa hari yang lalu?”
“Mari praktekkan langsung ke klien! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba 30 menit.” 
”Sekarang mari kita temui anak bapak 

Kerja:
”Selamat pagi mba. Bagaimana perasaan mba hari ini?”
”Bpk/Ibu mba datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong mba tunjukkan jadwal kegiatannya!”
 (kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana  perasaan mba setelah berbincang-bincang dengan Orang tua mba?”
”Baiklah,  sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu”
 (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu  setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah bagus.”
« «Mulai sekarang Bapak sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada anak bapak »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang  Pak »
« Sampai jumpa »

SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan


ORIENTASI:
“Selamat pagi Pak/Bu”
”Karena rencana anak bapak mau pulang, maka perlu kita bicarakan perawatan lanjutan di rumah.”
”Bagaimana kalau kita membicarakan perawatan lanjutan  tersebut disini saja”
”Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”
KERJA:
”Bpk/Ibu, ini jadwal anak bapak yang sudah dibuat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan? Di rumah Bpk/Ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan  maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama di rumah. Misalnya kalau anak bapak terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera lapor ke rumah sakit atau bawa anak bapak ke rumah sakit”
TERMINASI:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian anak bapak. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”


BAB III

PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar dan hidup dalam khayalan sendiri yang tidak realistis.

Tanda dan Gejala dari Isolasi Sosial ; Menarik diri yaitu, menyendiri dalam ruangan, tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata, sedih, afek datar, perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya, berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna, mengekspresikan penolakan atau kesepian pada orang lain, klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, berdiam diri.

B.     SARAN

1.      Untuk mempermudah seorang perawat dalam mengaplikasikan teori ini hendaknya seorang perawat memahami dan mampu membangun konsep diri dirinya sendiri yang positif.

2.      Untuk menambah wawasan pembaca dapat melihat referensi yang lain.



DAFTAR PUSTAKA


Direja, A. H. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Yogyakarta : Nuha Medika.
Erlinafsiah. (2010). Modal Perawat Dalam Praktik Keperawatan Jiwa . Jakarta : CV. Trans Info Media.
Keliat, B. A. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas . Jakarta : EGC.
Kusumawati, F. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika.
Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa . Bandung : Refika Aditama .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar