Minggu, 01 November 2015

KEPERAWATAN MATERNITAS I Proses Persalinan dan Manajemen Nyeri Persalinan


KEPERAWATAN MATERNITAS I
Proses Persalinan
Description: D:\logo\5481_551052541606347_480678959_n.jpg dan Manajemen Nyeri Persalinan






Disusun oleh   :
Roudlotul Badi’ah



AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
2014




Kata Pengantar


Puji syukur penulis panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena atas rasmat – Nya maka kami Tim Penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PROSES PERSALINAN DAN MANAJEMEN NYERI PERSALINAN” dengan lancer, dan selesai tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah KEPERAWATAN MATERNITAS I  di Akademi Keperawatan STIKES WIDYA HUSADA Semarang.
Dalam penulisan makalah ini kami Tim Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak – pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :
1.      NS........, S.Kep , M.Kep selkau dosen pembimbing mata kuliah KEPERAWATAN MATERNITAS I yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini.
2.      Rekan – rekan semua di kelas Akademi Keperawatan STIKES WIDYA HUSADA Semarang.
Akhirnya kami dari Tim Penulis berharap semoga Tuhan memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Dalam penulisan makalah ini kami Tim Penulis merasa masih banyak kekurangan – kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan, demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semarang,    Juli 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janinyang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasibelakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik padaibu maupun pada janin. Persalinan adalah saat yang sangat dinanti-nantikan ibu hamil untuk dapat marasakan kebahagiaan melihat dan memeluk bayinya. Tetapi, persalinan juga disertai rasa nyeri yang membuat kebahagiaan yangdidambakan diliputi oleh rasa takut dan cemas. Beberapa penelitianmenunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, persalinannya lebih lama dannyeri, sedangkan masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Nyeri dalamkebidanan adalah sesuatu yang dikatakan oleh pasien, kapan saja adanyanyeri tersebut. Nyeri adalah masalah yang alamiahdalam menghadapipersalinan. Apabila tidak diatasi maka menimbulkan masalah lain yaitumeningkatkan rasa khawatir (Wiknjosastro, 2002)
Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan,baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemennyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metodenonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik. Sedangkan metode nonfarmakologi bersifat murah, simpel, efektif, dan tanpa efek yang merugikan.
Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selamapersalinan karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya.Relaksasi, teknik pernapasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage, hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur,aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologi yang dapatmeningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh yang efektif terhadap pengalaman persalinan (Handerson., Jones.2006).

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa memahami tentang persalinan normal dan menejemen nyeri persalinan.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa dapat menjelaskan tentang persalinan
b.      Mahasiswa mampu mengetahui tentang sebab-sebab tentang persalinan
c.       Mahasiswa dapat mengetahui tentang tanda-tanda permulaas persalinan
d.      Mahasiswa mampu mengetahui perubahan system reproduksi
e.       Mahasiswa mampu mengetahui Mekanisme persalinan
f.       Mahasiswa mampu mengetahui definisi nyeri persalinan
g.      Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan nyeri persalinan













BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Definisi Pesalinan
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan membrane dari dalam rahim melalui jalan lahir. Berbagai perubahan terjadi pada system reproduksi wanita dalam hitungan hari dan minggu sebelum persalinan dimulai. Persalinan sendiri dapat dibahas dalam bentuk mekanisme yang terjadi selama proses dan tahapan yang dilalui wanita (Bobak, 2004).
Pesalinan adalah suatu proes pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri), yang dapat hidup di dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Persalinan (partus = labor) adalah proses pengeluaran produk konsepsi yang viable melalui jalan lahir biasa. Delivery adalah momentum kelahiran janin sejak kala II (akhir kala I),  (Mochtar, 1998).
B.     Beberapa Istilah Yang Berhubungan dengan Persalinan
Istilah yang berhubungan dengan persalinan menurut (Mochtar, 1998) :
(1)   Menurut cara persalinan :
·         Partus biasa (normal) disebut juga dengan partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
·         Partus luar biasa (abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan  bantuan alat –  alat atau melalui dinding perut dangan operasi caesarea.
(2)   Menurut tua (umur) kehamilan :
·         Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable) – berat janin di bawah 100 g – tua kehamilan di bawah 28 minggu.
·         Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28 – 36 minggu, janin dapat hidup tetapi rematur, berat janin antara 1000 – 2500 g.
·         Partus marturus ata a term (cukup bulan) adalah parts pada kehamilan 37 0 40 minggu, janin matur, berat badan diatas 2500 g.
·         Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur.
·         Partus presipatatus adalah partus yang ditaksir, janin disebut mungkin di kamar mandi, di atsa beca dan sebagainya.
·         Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproporsi sefalopelvi.
Pembagian menurut buku lama adalah :
·         Abortus ialah penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan 16 minggu atau sebelum plasenta selesai.
·         Partus imaturus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable atau berat janin kurang dari 1000 g atau kehamilan di bawah 28 minggu.
(3)   Gravid dan Para :
·         Gravida adalah wanita yang sedang hamil.
·         Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
·         Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable).
·         Nullipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable.
·         Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali.
·         Multipara atau pleuripara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5 kali).
·         Grandmultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati.
C.     Sebab – Sebab Yang Menimbulkan Persalinan
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori – teori yang kompleks antara lain dikemukakan factor – factor humoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf, dan nutrisi menurut (Mochtar, 1998) :
(1)   Teori penurunan hormone : 1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormone estrogen dan progesteron. Progesterone bekerja sebagai penenang otot – otot polos rahim akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.
(2)   Teori plasenta menjadi tua akan menyebabkan turunnya kadar esterogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
(3)   Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemia otot – otot rahim, sehingga menggangu sirkulasi utero – plasenter.
(4)   Teori iritasi mekanik : di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus Frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
(5)   Induksi partus (induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
·         Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus Frankenhauser.
·         Amniotomi : pemecahan ketuban.
·         Oksitoksin drips : pemberian oksitoksin menurut teteasan per infuse.

D.    Perubahan Faktor Reproduksi
Pada kehamilan pertama, rahim akan turun dan terdorong ke depan, yakni sekitar dua minggu sebelum aterm, saat bagian presentasi janin (biasanya kepala) turun ke dalam panggul sejati (Bobak, 2004).
Menurut (Mochtar, 1998) Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Ini memberikan tanda – tanda sebagai berikut :
(1)   Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
(2)   Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
(3)   Perasaan sering – sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
(4)   Perasaan sakit di perut dan pinggang oleh adanya kontraksi – kontraksi lemah dari uterus, kadang – kadang disebut “false labor pains”.
(5)   Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

Tanda – tanda In – Partu menurut (Mochtar, 1998) ada 4 yaitu :
(1)   Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
(2)   Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan – robekan kecil pada serviks.
(3)   Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
(4)   Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
Seperti telah dikemukakan terdahulu, factor – factor yang berperan dalam persalinan adalah :
(1)   Kekuatan mendorong janin keluar (power) :
·         His (kontraksi uterus)
·         Kontraksi otot – otot dinding perut.
·         Kontraksi diafragma
·         Dan ligmentous action terutama lig. Rotundum.
(2)   Factor janin
(3)   Factor jalan lahir
Pada waktu partus akan terjadi perubahan – perubahan pada uterus, serviks, vagina, dan dasar panggul.
 Proses penyesuaian disebut lightening atau penurunan dan biasanya terjadi bertahap. Setelah lightening, wanita merasa lebih lega (perasaan sesak berkurang) dan lebih mudah bernapas. Akan tetapi, akibat pergeseran ini biasanya terjadi peningkatan tekanan pada kandung kemih, sehingga wanita akan lebih sering berkemih. Pada kehamilan multipara, lightening mungkin tidak terjadi sampai setelah rahim berkontraksi dan proses persalinan yang sesungguhnya berlangsung.
Wanita mungkin mengeluh merasa nyeri yang menetap pada punggung bagian bawah dan tekanan pada sakroiliaka akibat relaksasi sendi panggul. Kadang-kadang, wanita dapat mengalami kontraksi yang kuat, sering, tetapi tidak teratur (Braxton Hicks di dalam (Bobak, 2004)).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada persalinan prodromal adalah tanda dan gejala yang dialami sebelum awitan persalinan yang sebenarnya. Lender vagina yang kluar semakin banyak akibat besarnya kongesti selaput lendir vagina. Lender serviks berwarna kecoklatan atau berbecak darah (bloody show) keluar. Serviks menjadi lunak (matang), sebagian menipis dan mulai berdilatasi. Ketuban pecah dengan spontan (Bobak, 2004)
Menurut (Bobak, 2004) terdapat dua fenomena lain yang sering terjadi pada hari-hari sebelum persalinan ialah
1.      Berat menurun 0,5 sampai 1,5 kg karena tubuh kehilangan air akibat perpindahan elektrolit, yang merupakan hasil perubahan kadar esterogen dan progesterone
2.      Suatu lonjakan energy. Wanita mengatakan tiba-tiba mereka memiliki energy tinggi yang mereka gunakan untuk membersihkan rumah dan berbenah. Aktivitas ini sering digambarkan sebagai “naluri bersarang” (Bobak, 2004).
Awitan persalinan sejati tidak dapat disebabkan oleh suatu sebab saja. Banyak factor penyebab lain, termasuk perubahan pada uterus, serviks, dan hipofisis anterior wanita. Hormone-hormon yang dihasilkan hipotalamus, hipofisis, dan korteks adrenal janin yang normal turut mempengaruhi awitan persalinan. Distensi uterus yang progresif, peningkatan tekanan intrauterine, dan penuaan plasenta tampaknya berkaitan dengan iritabilitas miometrium. Hal ini merupakan akibat peningkatan konsentrasi esterogen dan prostaglandin serta penurunan kadar progesterone. Semua factor ini bekerja sama hingga dihasilkan kontraksi uterus yang kuat, teratur, ritmik, yang biasanya berakhir dengan dilahirkannya janin dan plasenta. Masih belum dimengerti sepenuhnya, perubahan mana yang lebih dan bagaimana semua keseimbangan itu dapat terjaga.
Impuls saraf aferen dan eferen ked an dari uterus mempengaruhi kontraktilitas uterus. Meskipun impuls saraf ke uterus akan menstimulasi kontraksi, uterus yang merupakan organ tidak bersaraf ini masih berkontraksi dengan baik selama persalinan karena oksitosin yang terkandung dalam darah yang bersirkulasi merupakan pengatur persalinan. Oleh karena itu, wanita yang lumpuh masih dapat melahirkan pervaginam (Bobak,  2004).
Tahap  Persalinan
Persalinan dianggap “normal” jika wanita berada pada atau dekat masa aterm, tidak terjadi komplikasi, terdapat satu janin dengan presentasi puncak kepala, dan persalinan selesai dalam 24 jam. Proses persalinan normal yang berlangsung sangat konstan terdiri dari
1.      Kemajuan teratur kontraksi uterus,
2.      Penipisan dan dilatasi serviks yang progresif
3.      Kemajuan penurunan bagian presentasi
Tahap pertama persalinan ditetapkan sebagai tahap yang berlangsung sejak terjadi kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi  serviks lengkap. Pada umumnya, awitan persalinan sulit ditentukan. Wanita mungkin dating ke bangsal dalam keadaan hamper melahirkan, sehingga awitan persalinan hanya dapat diperkirakan. Tahap pertama biasanya berlangsung jauh lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk tahap kedua dan ketiga. Akan tetapi, banyak variasi yang terjadi, tergantung pada factor-faktor esensial seperti yang dibahas sebelumnya. Dilatasi lengkap dapat berlangsung kurang dari satu jam pada sebagian kehamilan multipara. Pada kehamilan pertama, dilatasi seviks jarang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Menurut (Bobak, 2004), Tahap pertama persalinan dibagi dalam tiga bagian :
1.      Fase laten
2.      Fase aktif
3.      Fase transisi
Selama fase laten, effacement lebih banyak mengalami kemajuan daripada penurunan janin. Selama fase aktif dan fase transisi, dilatasi serviks dan penurunan bagian presentasi berlangsung lebih cepat. Tidak ada batasan mutlak untuk lama tahap pertama persalinan hingga dapat dikatakan normal (Willson, Carrington, 1991). Variasi durasi pada tahap pertama mencerminkan perbedaan dalam hal populasi klien dan praktik klinis. Rata-rata durasi total tahap pertama persalinan pada kehamilan pertama berkisar dari 3,3 jam sampai 19,7 jam. Pada kehamilan berikutnya ialah 0,1 sampai 14,3 jam (Bobak, 2004).
Tahap kedua persalinan berlangsung sejak dilatasi serviks lengkap sampai janin lahir. Friedman (1978) member batas atas statistic untuk tahap pertama dan tahap kedua persalinan.


Nulipara
Multipara
Tahap pertama

Fase laten
20 jam
14 jam
Fase aktif
1,2 cm/jam
1,5 cm/jam
Tahap kedua
2 jam
1,5 jam

Tahap ketiga persalinan berlangsung sejak janin lahir sampai plasenta lahir. Plasenta biasanya lepas setelah tiga atau empat kontraksi uterus yang kuat, yakni setelah bayi lahir. Plasenta harus dilahirkan pada kontraksi uterus berikutnya. Namun, kelahiran plasenta setelah 45 sampai 60 menit masih dianggap normal  (Bobak, 2004).
Tahap keempat persalinan ditetapkan berlangsung kira - kira dua jam setelah plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang terjadi segera jika homeostasis berlangsung dengan baik. Masa ini merupakan periode yang penting untuk memantau adanya komplikasi, misalnya perdarahan abnormal (Bobak, 2004).

Salah satu dari beberapa hal yang paling penting dicemaskan oleh ibu hamil dan pasangannya selama kehamilan adalah bagaimana mereka tahu bahwa persalinan telah dimulai. Untuk ini akan membantu bila anda megetahui bahwa persalinan tidak mempunyai titik awal yang pasti. Anda tidak hamil di menit ini dan lahir di menit berikutnya, seakan – akan anda hanya beralih dari satu keadaan fisik ke keadaan fisik lainnya yang sama sekali berbeda. Pada tahap awal persalinan, laher rahim atau serviks mengalami perubahan selama beberapa hari. Dari bentuknya yang panjang dan kaku seperti ujung hidung, menjadi lebih pendek dan lunak sehingga mirip tekstur bibir. Anda mungkin tidak menyadari sedang terjadi sesuatu. Atau anda merasakan nyeri seperti nyeri menstruasi selama beberapa hari ketika persalinan dimulai. Pada akhirnya anda akan merasakan dengan jelas bahwa bayi sedang keluar; terjadi pelepasan sumbat  lendir yang selama ini menutup leher rahim, atau air ketuban mulai keluar, atau kontraksi mulai terasa (Nolan, 2004).
APAKAH SAYA MULAI MASUK DALAM PERSALINAN?


·         Anda telah mengeluarkan lendir ini berarti sumbat lendir kecil yang menutup leher rahim selama kehamilan telah terlepas, menandai bahwa mulut rahim mulai menjadi lunak dan terbuka. Ini adalah tanda awal dari persalinan, sebaiknya anda tetap tenang dan menunggu tanda – tanda selanjutnya.

YANG NORMAL
Keluarannya seperti agar – agayr dan berwarna agak merah muda karena mengandung sedikit darah.

YANG TIDAK NORMAL
Seharusnya keluarannya tidak mengandung banyak darah seperti menstruasi. Jika anda mengalmi perdarahan, hubungi bidan, dokter atau rumah sakit terdekat.

·         Ketuban anda sudah pecah
Hubungi bidan yang akan membantu anda melahirkan di rumah, atau rumah sakit jika anda melahirkan di sana, dan mintalah sarannya. Beberapa pertanyaan akan diajukan kepada anda :
1.      Menurut dugaan anda, kapan ketuban pecah ?
2.      Apakah air ketuban mengalir dengan deras atau anda sekedar melihat pakaian dalam anda basah ?
3.      Apakah warna cairan yang keluar ?
4.      Bagaiman baunjya ?
5.      Apakah anda sudah mengalami pengeluaran lendir ?
6.      Apakah anda mengalami kontraksi ?

YANG NORMAL
Cairan bening atau kuning muda.

YANG TIDAK NORMAL
Seharusnya tidak berwarna cokelat kehijauan atau berbau tidak enak. Jika berlumpur, berarti bayi anda sudah buang air besar di dalam rahim, yang sering kali menandakan bahwa ia mengalami distress (meskipun tidak selalu) dan perlu segera dilahirkan.
·         Anda mengalami kontraksi
Kontraksi bisa menjadi tanda pertama bahwa persalinan telah di mulai . para wanita tidak selalu mengetahui  bahwa mereka telah mengalami pengeluaran sumbat lendir dan pada sebagian besar kasus, ketuban tidak pecah sampai persalinan sudah lanjut. Jika di dasarkan pada kontraksi, bisa sangat sulit untuk mengetahui seberapa jauh persalinan anda, khususnya jika ini persalinan pertama. Ajukan pertanyaan di bawah ini kepada diri sendiri dan hubungi bidan jika anda tidak yakin apa yang harus anda lakukan.

TANYAKAN PADA DIRI SENDIRI :
1.      Kapan kontraksi di mulai ?
2.      Seberapa lama kontraksi berlangsung sekarang ini ?
3.       Seberapa sering ?
4.      Seberapa nyeri ?
(sulit untuk dijawab. Tetapi tanyakan pada diri sendiri apakah anda masih bisa bicara atau bekerja ketika anda megalaminya, atau apakah anda harus berhenti dan menyandar serta berkonsentrasi pada pernapasan).
5.      Apakah saya dapat meghadapi sendii atau lebih senang bila ditemani pendukung kelahiran?
6.      Apakah saya lebih memilih untuk didampingi oleh bidan ?

Jika jawaban untuk pertanyaan terakhit adalah “iya” maka hubungi bidan anda dan mintalah dia untuk datang kerumah atau melahirkan dengan metode DOMINO, atau pergilah ke rumah sakit tempat anda melahirkan, setelah anda memberitahukan kedatanagn anda ke pihak rumah sakit.


E.     Mekanisme Persalinan
Bentuk dan diameter panggul wanita berbeda pada ketinggian yang berbeda dan bagian presentasi janin menempati jalan lahir dalam proporsi yang besar. Supaya dapat dilahirkan, janin harus beradaptasi dengan jalan lahir selama proses penurunan. Putaran dan penyesuaian lain yang terjadi pada proses kelahiran manusia disebut mekanisme persalinan. Tujuh gerakan cardinal presentasi puncak kepala pada mekanisme persalinan ialah engagement, penurunan, fleksi, putaran paksi dalam, ekstensi, putaran paksi luar (restitusi), dan akhirnya kelahiran melalui ekspulsi. Meskipun fase-fase ini dibahas secara terpisah, tetapi kombinasi gerakan-gerakan ini terjadi bersamaan. Contohnya engagement meliputi penurunan dan fleksi (Bobak, 2004).
                                           I.            KALA PERSALINAN
Proses persalinan menurut (Mochtar, 1998) terdiri dari 4 kala, yaitu :
Kala I : waktu untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm.
Kala II : kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his ditambah kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir.
Kala III : waktu untuk pelepasan dan pengeluaran urin.
Kala IV : mulai lahirnya uri selama 1 – 2 jam.

1.      Kala I (Kala Pembukaan)
In Partu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah (bloody show), karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement). Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseran ketika serviks mendatar dan terbuka.
Kala pembukaan menurut (Mochtar, 1998) dibagi atas 2 fase, yaitu :
(1)   Fase laten : dimana pembukaan serviks berlangsung lambat : sampai pembukaan 4 cm berlangsung dalam 7 – 8 jam.
(2)   Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase :
·         Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
·         Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pebukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
·         Periode deselarasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau lengkap.
Dalam buku – buku, proses membukanya serviks disebut dengan berbagai istilah : melembek (softening), menipis (thinnes out), oblitrasi (obliterated), mendatar dan tertaik ke atas (effaced and taken up) dan membuka (dilatation).
Fase – fase yang dikemukakan diatas di jumpai pada primagravida. Bedanya dengan multigravida ialah :
Primi
Multi
Serviks mendatar (effacement) dulu, baru dilatasi
Mendatar dan membuka bisa bersamaan
Berlangsung 13 – 14 jam
Berlangsung 6 – 7 jam
2.      Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat cepat, dan lebih lama, kira – kira 2 -3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot – otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada rectum, ibu merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin, akan lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi : 1 ½ - 2 jam, pada multi ½ - 1 jam.
3.      Kala III (Kala Pengeluaran Uri)
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dari plasenta yang menjadi tebal 2 x sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5 – 1 menit seluruh lasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5 – 30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira – kira 100 – 200 cc.

4.      Kala IV
Adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayidan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan postpartum.
Lamanya persalinan pada primi dan mulai adalah :

Primi
Multi
Kala I
13 jam
7 jam
Kala II
1 jam
½ jam
Kala III
½ jam
¼ jam
Lama persalinan
14 ½ jam
7 ¾ jam
                                        II.            MEKANISME PERSALINAN
Pada minggu terakhir kehamilan, segmen bawah rahim meluas untuk menerima kepala janin, terutama pada primi, dan juga pada multi pada saat – saat partus mulai. Untunglah, bahwa hamper 96% janin adalah letak kepala.
Pada letak belakang kepala (LBK)  dijumpai pula :
·         Ubun – ubun kecil kiri depan = 58%
·         Ubun – ubun kecil kanan depan = 23%
·         Ubun – ubun kecil kanan belakang = 11%
·         Ubun – ubun kecil kiri belakang = 8%

Kenapa lebih banyak letak kepala, dikemukakan 2 teori :
(1)   Teori akomodasi : bentuk rahim memungkinkan bokong dan ektremitas yang volumenya besar berada di atas, dan kepala di bawah ruangan yang lebih sempit.
(2)   Teori gravitasi : karena kepala relative besar dan berat, maka akan turun ke bawah. Karena his yang kuat, dan sering, maka kepala janin turun memasuki pintu atas panggul (engagement). Karena menyesuaikan diri dengan jalan lahir, kepala bertambah menekuk (fleksi maksimal), sehingga lingkar kepala yang memasuki panggumg, dengan ukuran yang terkecil.
Diameter suboccipito – bregmatika = 9,5 cm dan
Sirkumferensia suboccipito – bregmatika = 32 cm.
Mekanisme Persalinan pada prsentasi oksipitoanterior kiri menurut (Bobak, 2004) terdiri dari 6 yaitu :
1.      Engagement
Apabila diameter biparietal kepala melewati pintu atas panggul. Kepala dikatakan telah menancap (engaged) pada pintu atas panggul. Pada kebanyakan wanita nulipara, hal ini terjadi sebelum persalinan aktif dimulai karena otot-otot abdomen masih tegang, sehingga bagian presentasi terdorong ke dalam panggul. Pada wanita multipara yang otot-otot abdomennya lebih kendur kepala seringkali tetap dapat digerakkan di atas permukaan panggul sampai persalinan dimulai.
Penurunan
Penurunan adalah gerakan bagian presentasi melewati panggul. Penurunan terjadi akibat tiga kekuatan :
1.      Tekanan dari cairan amnion
2.      Tekanan langsung kontraksi fundus pada janin
3.      Kontraksi diafragma dan otot-otot abdomen ibu pada tahap kedua persalinan
Efek ketiga kekuatan itu dimodifikasi oleh ukuran dan bentuk bidang panggul inu dan kapasitas kepala janin untuk bermolase.
Tingkat penurunan diukur menggunakan stasiun bagian presentasi. Laju penurunan meningkat pada tahap kedua persalinan. Pada kehamilan pertama, penurunan berlangsung lambat, tetapi kecepatannya sama. Pada kehamilan berikutnya, penurunan dapat berlangsung cepat. Kemajuan penurunan dapat diketahui melalui palpasi abdomen (perasat Leopold) dan periksa dalam sampai bagian presentasi terkihat pada introitus.
2.      Fleksi
Segera setelah kepala yang turun tertahan oleh serviks, dinding panggul, atau dasar penggul, dalam keadaan normal fleksi terjadi dan dagu didekatkan ke arah dada janin. Dengan fleksi, sukoksipitobregmatika yang berdiameter lebih kecil (9,5cm) dapat masuk ke dalam pintu bawah panggul.

3.      Putaran paksi dalam
Pintu atas panggul ibu memiliki bidang paling luas pada diameter transversanya. Dengan demikian, kepala janin melalui pintu atas dan masuk ke dalam panggul sejati dengan posisi oksipitotranversa. Akan tetapi, bidang pintu bawah panggul yang terluas ialah diameter anteroposterior. Supaya dapat keluar, kepala janin harus berotasi (berputar pada sumbunya). Putaran paksi dalam dimulai pada bidang setinggi spina iskiadika, tetapi putaran ini belum selesai sampai bagian presentasi mencapai panggul bagian bawah. Ketika oksiput berputar kea rah anterior, wajah berputar kea rah posterior. Setiap kali terjadi kontraksi, kepala janin diarahkan oleh tulang panggul dan otot-otot dasar panggul. Akhirnya, oksiput berada di garis tengah di bawah lengkung pubis. Kepala hamper selalu berputar saat mencapai dasar panggul. Baik muskulus levatorani maupun tulang panggul penting untuk putaran anterior. Riwayat cedera persalinan sebelumnya dan anesthesia regional mengganggu fungsi otot levator.

4.      Ekstensi
Saat kepala janin mencapai perineum, kepala akan defleksi kea rah anterior oleh perineum. Mula-mula oksiput melewati permukaan bawah simfisis pubis, kemudian kepala muncul keluar akibat ekstensi: pertama-tama oksiput, kemudian wajah, dan terakhir dagu.

5.      Restitusi dan Putaran Paksi Luar
Setelah kepala lahir, bayi berputar hingga mencapai posisi yang sama dengan saat ia memasuki pintu atas. Gerakan ini dikenal sebagai restitusi. Putaran 45 derajat membuat kepala janin kembali sejajar dengan punggung dan bahunya. Dengan demikian, kepala dapat terlihat berputar lebih lanjut. Putaran paksi luar terjadi saat bahu engaged dan turun dengan gerakan yang mirip dengan gerakan kepala. Seperti telah diketahui, bahu anterior turun terlebih dahulu. Ketika ia mencapai pintu bawah, bahu berputar kea rah garis tengah dan dilahirkan di bawah lengkung pubis. Bahu posterior diarahkan kea rah perineum sampai ia bebas keluar dari introitus vagina.

6.      Ekspulsi
Setelah bahu keluar, kepala dan bahu diangkat ke atas tulang pubis ibu dan badan bayi dikeluarkan dengan gerakan fleksi lateral kea rah simfisis pubis. Ketika seluruh tubuh bayi keluar, persalinan bayi selesai. Ini merupakan akhir tahap kedua persalinan dan waktu saat tubuh bayi keluar seluruhnya, dicatat dalam catatan medis.

F.     Pimpinan Persalinan
Dari sudut praktis, memimpin persalinan adalah suatu seni, walaupun memerlukan ilmu obsteri yang harus diketahui penolong. Oleh karena itulah dukun beranak masih mempunyai peranan penting dan memerlukan pendidikan dan latihan, terutama di negara – negara berkembang.
Pertanyaan yang sering diajukan pada ibu hamil adalah bolehkah bersalin di rumah atau harus di rumah sakit ? walaupun 85 % persalinan berjalan normal. Namun 15 % nya dijumpai komplikasi yang memerlukan penanganan khusus. Antenatal care yang baik dapat mencegah komplikasi – komplikasi dan mencoba menjawab pertanyaan di atas. Masalah di Negara berkembang adalah tentang fasilitas rumah sakit, ketenagaan, sosio – budaya dan sosio – medis masih memegang peranan, dibandingkan dengan negara – negara maju.
Negara
Persalinan di Rumah Sakit
Persalinan di Rumah
Amerika Serikat
99,0 %
1,0 %
Inggris
99,0 %
10,0 %
Australia
99,0 %
1,0 %
Rusia
99,5 %
0,5 %
Indonesia : Kota
30,0 %
70,0 %
Desa
20,0%
80,0 %

0,0%
100,0 %
 Di Negara maju, keadaan – keadaan berikut memerlukan penanganan spesialistis :
(1)   Primagravida dengan :
·         Umur di atas 30 tahun
·         Tinggi kurang dari 150 cm (5 kaki)
·         Dengan penyakit – penyakit tertentu
·         Dengan komplikasi medis dan obstetric
·         Kelainan panggul
·         Kelainan letak janin
(2)   Multigravida :
·         Umur di atas 35 tahun
·         Telah punya anak lebih dari 4
·         Dengan riwayat kehamilan dan persalinan yang buruk
Untuk Negara – negara berkembang seperti Indonesia, yang dianjurkan untuk bersalin dirumah sakit ialah :
·         Ibu – ibu dengan riwayat kehamilan dan persalinan yang buruk
·         Semua primigravida
·         Kehamilan yang lebih dari 5 kali
·         Ibu – ibu dengan resiko tinggi lainnya
Posisi Ibu dalam Persalinan :
·         Posisi litotomi : adalah posisi yang umum di mana wanita berbaring terlentang dengan lutut di tekuk, kedua paha diangkat ke samping kanan dan kiri.
·         Posisi duduk (squading positon) : sekarang posisi bersalin duduk telah dikembangkan di Negara – Negara Amerika Latin. Untuk itu di buat meja bersalin khusus di mana wanita dapat duduk sambil melahirkan.
·         Cara berbaring :
o   Menurut Walcher : di tepi tempat tidur
o   Menurut Tjeenk – Wilink : memakai bantal
o   Menurut Jonges : untuk melebarkan pintu bawah panggul
o   Menurut posisi Sims : posisi miring
Pemeriksaan Wanita yang Mau Bersalin :
Seperti telah dibicarakan di atas, pemeriksaan wanita hamil meliputi pemeriksaan seluruh tubuh, begitu pula pemeriksaan wanita yang akan melahirkan, yaitu :
(1)   Pemeriksaan umum :
·         Tekanan darah, nadi, pernapasan, reflex, jantung paru – paru, berat badan, tinggi badan, dan sebagainya.
(2)   Pemeriksaan status onstetrikus :
·         Letak dan posisi janin, taksiran berat badan janin
·         Denyut jantung janin
·         His dan sifat – sifatnya, dsb
(3)   Pemeriksaan dalam (vagina atau rectal) :
·         Pemeriksaan serviks dalam cm atau jari
·         Turunnya kepala diukur menurut Hodge
·         Ketuban : sudah pecah atau belum, menonjol atau tidak
(4)   Pemeriksaan laboratorium :
·         Pemeriksaan urin : protein dan gula
·         Pemeriksaan darah : Hb, golongan darah
(5)   Persiapan bagi ibu :
·         Bersihkan dan cukur daerah genitalia eksterna
·         Ibu hamil di suruh kencing atau lakukan keteterisasi guna mengosongkan kandung kencing
·         Klisma supaya rectum kosong
·         Pakaian diganti dengan yang longgar
(6)   Persiapan semua alat – alat untuk persalinan biasa :
·         Beberapa pasang sarung tangan steril
·         Gunting siebold, gunting tali pusat
·         Beberapa klem tali pusat dan klem lainnya
·         Benang atau plastic klem untuk talipusat
·         Alat pengisap lendir bayi
·         Jodium tintur dengan kapas lidinya
·         Alat – alat untuk penjahit luka
·         Obat – obatan dan jarum suntiknya
·         Kain kasa steril dan sebagainya
Menolong atau Memimpin Persalinan Biasa
Kala I
Pekerjaan penolong (dokter, bidan, penolong lainnya) dalam kala I adalah mengawasi wanita in – partu sebaik –baiknya serta menanamkan semangat diri kepada wanita ini bahwa proses persalinan adalah fisiologis. Tanamkan rasa percaya diri dan percaya pada penolong.
Pemberian obat atau tindakan hanya dilakukan apabila perlu dan ada indikasi. Apabila ketuban belum pecah, wanita in – partu boleh duduk atau berjalan. Bila berbaring, sebaiknya kesisi dimana punggung berada. Ketika ketuban sudah pecah dilarang jalan; harus berbaring.periksa dalam pervaginaan dilarang, kecuali ada indikas, karena setiap pemeriksaan akan membawa infeksi, apabila bila dilakukan tanpa memperhatikan sterilitas (asepsis). Pada kala pembukaan dilarang mengedan, karena belum waktunya dan hanya akan menghabiskan tenaga ibu. Biasanya kala I berakhir apabila pembukaan sudah lengkap sampai 10 cm.
Kala II
Pada permulaan kala II umumnya kepala janin telah masuk dalam ruang panggul. Ketuban yang menonjol biasanya akan pecah sendiri. Bila belum pecah, harus dipecahkan. His datang lebih sering dan lebih kuat, lalu timbullah his mengedan. Penolong harus telah siap untuk memimpin persalinan.
Ada 2 cara ibu mengedan :
1.      Letakkan berbaring merangkul kedua pahanya dengan kedua lengan sampai batas siku. Kepala diangkat sedikit hingga dagu mengenai dada. Mulut di katup.
2.      Dengan sikap seperti di atas, tetapi badan miring kearah punggung janin berada dan hanya satu kaki yang dirangkul, yaitu yang sebelah atas.
Bila kepala janin sampai di dasar pinggul, vulva mulai terbuka (membuka pintu); rambut kepala kelihatan. Tiap his kepala lebih maju, anus terbuka, perineum meregang. Penolong harus menahan perineum dengan tangan kanan beralaskan kain kasa atau kain doek steril, supaya tidak terjadi robekan (rupture perinea). Pada primigravida dianjurkan melakukan episotomi.
Episiotomy
Dilakukan bila perineum sudah menipis dan kepala janin tidak masuk lagi dalam vagina, yaitu dengan jalan mengiris atau menggunting perineum ; ada 3 arah irisan : medialis, medio – lateralis, dan lateralis. Tujuan episiotomy adalah supaya tidak terjadi robekan perineum yang tidak teratur dan robekan pada m. spinhincter ani (rupture perinea totalis) yang bila tidak dijahit dan dirawat dengan baik akan menyebabkan beser berak (inkontinensia alvi).
Ekspresi Kristeller
Mendorong fundus uteri sewaktu ibu mengedan ; tujuannya membantu tenaga ibu untuk melahirkan kepala. Cara ini kurang dibenarkan, jika mau dilakukan juga hanya boleh 2 – 3 kali saja. Bahayanya adalah : rupture uteri, atonia uteri, trauma organ – organ dalam perut, dan solusio plasenta.
Perasat Ritgen
Bila perineum meregang dan menipis, maka tangan kiri penolong menekan bagian belakang kepala janin ke arah anus, tangan kanan di perineum. Dengan ujung – ujung jari tangan kanan yang melalui kulit perineum dicoba mengait dagu janin dan ditekan kea rah simfisis pelan – pelan. Dengan pimpinan yang baik dan sabar, maka lahirlah kepala dengan ubun – ubun kecil (subbocciput) di bawah simfisis sebagai hipomochlion secara berturut – turut kelihatan ; bregma (ubun – ubun besar), dahi, muka dan dagu. Perhatikan apakah tali pusat melilit, kalau ada, lepaskan. Kepala akan mengadakan putaran restitsi kea rah punggung janin berada. Lahirkanlah bahu depan dengan menarik kepala kearah anus (bawah); lalu bahu belakang dengan menarik pelan – pelan kea rah simfisis (atas). Melahirkan badan, bokong, dan kaki lebih mudah, yaitu dengan mengait kedua ketiak janin.
Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir yang sehat dan normal akan segera menarik napas dan menangis, menggerakkan tangan dan kakinya. Bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah. Kira – kira membuat sudut 30 derajat dengan bidang datar. Mulut dan hidung dibersihkan, dan lendir diisap dengan pengisap lendir. Tali pusat di klem pada 2 tempat; 5 – 10 cm di umbilicus, lalu di gunting / di potong diantaranya. Ujung pada bayi diikat kuat dengan pita atau benang atau klem plastic sehingga tidak ada perdarahan. Akhirnya bayi diurus sebaik – baiknya.
Lakukanlan pemeriksaan ulang pada ibu ; kontraksi atau palpasi rahim, kandung kemih penuh atau tidak. Kalau penuh harus dikosongkan, sebab dapat menghalangi kontraksi rahim dan menyulitkan kelahiran uri.
Kala III
Pengawasan pada kala pelepasan dan pengeluaran uri ini cukup penting, karena kelalaian dapat menyebabkan risiko perdarahan yang dapat membawa kematian. Kala ini berlangsung mulai dari bayi lahir sampai uri keluar lengkap. Biasanya uri akan lahir spontan dalam 15 – 30 menit, dapat ditunggu sampai 1 jam, tetapi tidak boleh ditunggu bila terjadi banyak perdarahan.
Kala III terdiri dari 2 fase :
(1)   Fase pelepasan uri
(2)   Fase pengeluaran uri
Lokalisasi dari uri adalah :
·         Pada dinding depan dan belakang korpus uteri
·         Kadang – kadang pada dinding lateral
·         Jarang di fundus uteri
·         Sesekali pada segmen bawah rahim (SBR), disebut plasenta previa

Mekanisme pelepasan urin
Kontraksi rahim akan mengurangi area uri, karena rahim bertambah kecil dan dindingnya bertambah tebal beberapa sentimeter. Kontraksi – kontraksi tadi menyebabkan bagian yang longgar dan lemah dari uri pada dinding rahim; bagian ini akan terlepas, mula – mula sebagian dan kemudian seluruhnya dan tinggal bebas dalam kavum uteri. Kadang – kadang ada sebagian kecil uri yang masih melekat pada dinding rahim.
Proses penglepasan ini biasanya setahap demi setahap dan pengumpulan darah di belakang uri akan membantu penglepasan uri ini. Bila penglepasan sudah komplit, maka kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR, lalu ke vagina dan dilahirkan.
Selaput ketuban pun dikeluarkan, sebagian oleh kontraksi rahim, sebagian sewaktu keluarnya uri. Di tempat  tempat yang lepas terjado perdarahan antara uri dan desidu basalis, disebut retroplasenter hematoma.
Jadi jelaslah, bahwa setelah anak lahir tugas kita belum selesai, masih ada satu hal berat yang masih dapat mengancam jiwa ibu, yaitu pimpinan kala III dan pengawasan kala IV.
1.      Fase Pengelepasan Uri
Cara lepasnya uri ada beberapa macam :
·         SCHULTZE
Lepasnya seperti kita menutup paying, cara ini yang paling sering terjadi (80%). Yang lepas duluan adalah bagian temgah, lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak uri mula – mula di bagian tengah, kemudian seluruhnya. Menurut cairan ini, perdarahan biasanya tidak ada sebelum uri lahir dan banyak setelah uri lahir.
·         DUNCAN
Lepasnya uri mulai dari pinggir, jadi pinggirnya uri lahir duluan (20 %). Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban.
Serempak dari tengan dan pinggir plasenta.

Untuk mengetahui cara lepasnya uri ini dapat diselidiki dengan dua cara :
(1)   Memasukkan zat kontras ke dalam uri melalui pembuluh darah tali pusat, lalu di buat gambar rontgen.
(2)   Secra klinis, meneliti sewaktu uri lahir melalui vagina dan vulva.

2.      Fase Pengeluaran Uri
Uri yang sudah terlepas oleh kontraksi rahim akan didorong ke bawah yang oleh rahim sekarang dianggap sebagi benda asing. Hal ini dibantu pula oleh tekanan abdominal atau mengedan, maka uri akan dilahirkan, 20 % secara spontan, dan selebihnya memerlukan pertolongan.

Perasat – perasat untuk Mengetahui Lepasnya Uri
·         KUSTNER
o   Dengna meletkkan tangan disertai tekanan pada/di atas simfisis; tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk ….. belum lepas; diam atau maju ….. sudah lepas.
·         KLEIN
o   Sewaktu ada his, rahim kita dorong sedikit, bila tali pusat kembali …. Belum lepas. Diam atau turun …. Lepas.
·         STRASSMAN
o   Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar…. belum lepas, tak bergetar ….. sudah lepas.
o   Rahim menonjol diatas simfisis.
o   Tali pusat bertambah panjang
o   Rahim bundar dan keras
o   Keluar darah secara tiba – tiba
Normalnya, penglepasan uri ini berkisar ¼  – ½ jam sesudah anak lahir, namun kita dapat menunggu paling lama sampai 1 jam. Tetapi bila terjadi banyak perdarahan atau bila pada persalinan – persalinan yang ada riwayat perdarahan post partum, mka tak boleh menunggu, sebaiknya plasenta langsung plasenta dikeluarkan dengan tangan. Juga kalau perdarahan sudah lebih dari 500 cc atau satu niebekken, sebaiknya uri langsung dikeluarkan secara manual dan diberikan uterus tonika.
Pimpinan kala uri
Segera sesudah lahir, anak diurus dan tali pusat di klem. Biasanya, rahim yang telah menyelesaikan tugas berat mengeluargkan anak, akan beristirahat beberapa menit. Dalam masa ini tugas kita adalah :
·         Memeriksa keadaan si ibu tentang :
o   Status lokasi obstetric dengan cara palpasi fundus uteri dan konsistensinya/
o   Memeriksa keadaan vital ibu : tensi, nadi, dan pernapasan.
·         Mengawasi perdarahan
·         Mencari tanda – tanda penglepasan uri, kalau sudah lepas segera melahirkannya. Kalau tidak ada perdarahan dan konsitensi uterus baik (keras); kita hanya menunggu dan mengawasi; jangan buru – buru melahirkan uri. Bila rahim memerlukan stimulasi setelah beberapa menit, lakukan message pelan – pelan. Bila kita sabar menunggu, niasanya uri akan lahir spontan, dan bila sudah ada tanda – tanda lepasnya uri, plasenta segera dilahirkan dengan :
o   Menyuruh ibu mengedan
o   Memberi tekanan pada fundus uteri
Dorong pada fundus hanya boleh dikerjakan pada rahim yang kontraksinya baik, sebab pada rahim yang lembek dapat menimbulkan inversio uteri.  Jangan mendorong sampai serviks melewati introitus vagine, karena terancam akan bahaya infeksi.
Metode CREDE
(1)   Empat jari pada dinding rahim belakang, ibu jari di fundus depan tengah.
(2)   Lalu pijat rahim dan sedikit dorong kebawah, tapi jangan terlalu kuat, seperti memeras jeruk.
(3)   Lakukan sewaktu sudah his.
(4)   Jangan tarik tali pusat, kaena dapat terjadi inversion uteri.
Pengeluaran uri secepat mungkin, hanya bila ada :
·         Perdarahan yang banyak (lebih dari 500 cc).
·         Ada sejarah perdarahan postpartum sebelumnya.
·         Adanya retensio plasenta sebelumnya.

Pengeluaran selaput ketuban
Selaput janin biasanya lahir dengan mudah, namun kadang – kadang masih ada yang tertinggal, ini dapat dikeluarkan dengan jalan :
·         Menrik pelan – pelan
·         Memutar atau memilinnya seperti tali
·         Memutar pada klem
·         Manual atau digital
Uri dan selaput ketuban harus diperksa sebaik – baiknya setelah dilahirkan apakah lengkap atau tidak lengkap. Yang diperiksa yaitu :
·         Permukaan maternal : 6 -20 kotiledon
·         Permukan fetal
·         Apakah ada tanda – tanda plasenta suksenturiata
Kalau tidak lengkap disebut ada sisa uri, dapat menyebabkan perdarahan yang banya dan infeksi.
KALA IV
Dalam buku – buku asing tidak dijumpai kala IV kevuali buku – buku Belanda. Namun bagi institute – institute di Indonesia karena dianggap cukup penting, kita masih mengenal kala pengawasan setelah uri 1 – 2 jam.
Darah yang keluar harus ditakar sebaik – baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasa disebabkan oleh luka pada penglepasan uri dan robekan pada serviks dan perineum. Rata – rata dalam batas normal, jumlah perdarahan adalah 250 cc, biasanya 100 – 300 cc. bila pedarahan lebih dari 500 cc ini sudah dianggap abnormal; harus dicari sebab – sebabnya. Penting diingat; jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan urin lahir. Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang dan perhatikanlah 7 pokok penting berikut :
(1)   Kontraksi rahim : baik atau tidak dapat diketahui dengan palpasi. Bila perlu dilakukanlah message dan berikan uterus tonika : methergen, ermetrin dan pitosin.
(2)   Perdarahan : ada atu tidak, banyak atau biasa.
(3)   Kandung kencing : harus kosong, kalau penuh ibu disuruh kencing dan kalau tidak bisa lakukan kateter.
(4)   Luka – luka : jahitannya baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak.
(5)   Uri dan selaput harus lengkap
(6)   Keadaan umum ibu : tensi, nadi, pernapasan, rasa sakit
(7)   Bayi dalam keadaan baik
Repture perinel
Definisi
Robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan. Episiotomi adalah rupture perinea yang artifisialis.
Rupture perinea dibagi atas 3 tingkat :
Tingkat 1 : robekan hanya mengenai kulit dan mukosa sekitar 1 – 1 ½ cm
Tingkat 2 : robekan lebih dalam sudah mengenai m.levator ani
Tingkat 3 : robekan pada kulit, mukosa, perineal body, m.sphiccter ani
Rupture perinea inkompleta : tingkat 1 sampai 2
Rupture perinea kompleta : tingkat 3
Yang dapat menyababkan terjadinya rupture perinea :
·         Partus presipitatus
·         Kepala janin besar dan janin besar
·         Pada presentasi defleksi (dahi, muka)
·         Pada primigravida (para)
·         Pada letak sungsung dan after coming head
·         Pimpinan persalinan yang salah
·         Pada obstetric pervaginam : ekstrasi vakum, ekstrasi forsep, versi dan ekstraksi, serta embriotomi.
Kalau luka – luka ini tidak dijahit dengan baik, maka akan menyebabkan lapangnya perineum dan pada ruptura perinei kompleks dapat terjadi beser berak (inkontenensia alvi). Secara estetis kemaluan menjadi kurang baik.
Penanganan
·         Untuk mencegah luka yang jelek dan pinggir luka yang tidak rata dan kurang bersih, pada beberapa keadaan dilakukan episiotomy: dan pada keadaan lain dengan pimpinan persalinan yang baik.
·         Bila dijumpai robekan perineum, lakukan penjahitan luka dengan baik lapis demi lapis : perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina (dead space) yang biasanya dapat dimasuki bekuan – bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
·         Berikan antibiotic yang cukup
·         Pada luka perineum lama (old perineal tear), lakukan perineoplastik dengan membuat luka baru dan menjahitnya kembali sebaik – baiknya.

G.    Adaptas Terhadap Persalinan
Ibu dan janin harus beradaptasi secara anatomis dan fisiologis selama proses persalinan. Pengkajian ibu dan janin yang akurat membutuhkan pengetahuan tentang adaptasi yang diharapkan terjadi (Bobak, 2004).
Menurut (Bobak, 2004) adaptasi ada 2 yaitu:
1.      Adaptasi Janin
Adaptasi anatomis yang harus dialami janin untuk melalui jalan lahir telah dibahas. Beberapa adaptasi fisiologis yang penting juga harus terjadi. Perawat harus mengetahui perubahan-perubahan yang akan terjadi terkait dengan denyut jantung janin, sirkulasi janin, gerakan napas, dan perilaku lain (Bobak, 2004).
a.       Denyut Jantung Janin
Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) memberi informasi yang dapt dipercaya dan dapat digunakan untuk memprediksi keadaan janin yang berkaitan dengan oksigenasi. Stress pada unit uteroplasenta akan tercermin dalam pola DJJ yang khas. Adalah penting bagi perawat untuk memiliki pengetahuan dasar tentang factor-faktor yang terlibat dalam oksigenasi janin dan tentang respon janin yang menunjukkan oksigenasi janin yang adekuat.
DJJ rata-rata pada aterm ialah 140 denyut/menit. Batas normalnya ialah 110 sampai 160 denyut/menit. Pada kehamilan yang lebih muda, DJJ lebih tinggi dengan nilai rata-rata sekitar 160 denyut / menit pada usia gestasi 20 minggu. Laju denyut akan menurun secara progresif dengan semakin matangnya janin saat mencapai aterm. Akan tetapi, percepatan sementara dan deselarasi DJJ yang sedikit dini dapat terjadi sebagai respon terhadap gerakan janin yang spontan, periksa dalam, tekanan fundus, kontraksi uterus, dan palpasi abdomen.
b.      Sirkulasi Janin
Sirkulasi janin dapat dipengaruhi oleh banyak factor. Diantaranya ialah posisi ibu, kontraksi uterus, tekanan darah, dan aliran darah tali pusat. Kontraksi uterus selama persalinan cenderung mengurangi sirkulasi melalui arterifol spiralis, sehingga mengurangi perfusi melalui ruang intervilosa. Kebanyakan janin sehat mampu mengompensasi stress ini. Biasanya aliran darah tali pusat tidak terganggu oleh kontraksi uterus atau posisi janin.
c.       Pernapasan dan Perilaku Janin
Perubahan-perubahan tertentu menstimulasi kemoresptor pada aorta dan badan carotid guna mempersiapkan janin untuk memulai pernapasan setelah lahir. Perubahan-perubahan ini meliputi hal-hal berikut :
·         7  sampai 42 ml air ketuban diperas keluar dari paru-paru (selama persalinan pervaginam).
·         Tekanan oksigen (Po2) janin menurun.
·         Tekanan karbon dioksida (Pco2) arteri meningkat
·         pH arteri menurun.
Gerakan janin masih sama seperti pada masa hamil, tetapi menurun setelah ketuban pecah.
2.      Adaptasi Ibu
Pemahaman yang mendalam tentang adaptasi Ibu selama masa hamil akan membantu perawat mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan wanita selama bersalinan. Perubahan lebih lanjut terjadi seiring kemajuan tahapan persalinan wanita itu. Berbagai system tubuh beradaptasi terhadap proses persalinan, menimbulkan gejala, baik yang bersifat obyektif maupun subyektif.
a.      Perubahan Kardiovaskuler
Perawat dapat berharap akan menemukan beberapa perubahan pada system kardiovaskuler wanita selama bersalinan. Pada setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam system vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 3% sampai 50% pada tahap kedua persalinan.
Perawat dapat mengantisipasi perubahan tekanan darah. Ada beberapa factor yang mengubah tekanan darah ibu. Aliran darah, yang menurun pada arteri uterus akibat kontraksi, diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer. Timbul tahanan perifer, tekanan darah meningkat, dan frekuensi denyut nadi melambat. Pada tahap pertama persalinan, kontraksi uterus meningkatkan tekanan sistolik sampaisekitar 10 mmHg. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah diantara kontraksi memberi data yang lebih akurat. Pada tahap kedua, kontraksi dapat meningkatkan tekanan sistolik sampai 30 mmHg dan tekanan diastolic sampai 25 mmHg. Akan tetapi, baik tekanan sistolik maupun diastolic akan tetap sedikit meningkat diantara kontraksi. Wanita yang memang memiliki risiko hipertensi kini risikonya meningkat untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.
Wanita harus diberi tahu bahwa ia tidak boleh melakukan maneuver valsalva (menahan napas dan menegangkan otot abdomen) untuk mendorong selama tahap kedua. Aktivitas ini menigkatkan tekanan intratoraks, mengurangi aliran balik vena, dan meningkatkan tekanan vena. Curah jantung dan tekanan darah meningkat, sedangkan nadi melambat untuk sementara. Selama wanita melakukan maneuver valsalva, janin dapat mengalami hipoksia. Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas.
Hipotensi supine terjadi saat vena kava asenden dan aorta desenden tertekan. Ibu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hipotensi supine, jika pembesaran uterus berlebihan akibat kehamilan kembar, hidramnion, obesitas, atau dehidrasi dan hipovelemia. Selain itu, rasa cemas dan nyeri serta penggunaan analgesic dan anestetik dapat menyebabkan hipotensi.
Sel darah putih (SDP) menigkat, sering kali sampai > 25.000/mm3. Meskipun mekanisme yang menyebabkan jumlah sel darah putih meningkat masih belum diketahui., tetapi diduga hal itu terjadi akibat stress fisik atau emosi atau trauma jaringan. Persalinan sangat melelahkan. Melakukan latihan fisik saja dapat meningkatkan jumlah sel darah putih.
Terjadi beberapa perubahan pembuluh darah perifer, kemungkinan sebagai respon terhadap dilatasi serviks atau kompresi pembuluh darah ibu oleh janin yang melalui jalan lahir. Pipi menjadi merh, kaki panas atau dingin, dan terjadi prolaps hemoroid.
b.      Perubaha pernapasan
Sistem pernapasan juga beradaptasi. Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari peningkatan frekuensi pernapasn. Hiperventilasi dapat mnyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat), hipoksia dan hipokapnea (karbondioksida menurun). Pada tahap kedua persalinan, jika wanita tidak diberi obat-obatan, maka ia akan mengonsumsi oksigen hamper dua kali lipat. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian oksigen.
c.       Perubahan pada Ginjal
Pada trimester kedua, kendung kemih menjadi organ abdomen. Apabila terisi, kandung kemih dapat teraba di atas simfisis pubis. Selama persalinan, wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan akibat berbagai alas an edema jaringan akibat tekanan bagian presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi, dan rasa malu. Proteinuria +1 dapat dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan.
d.      Perubahan Integumen
Adaptasi system integument jelas terlihat khususnya pada datya distensibilitas daerah introitus vagina (muatra vagina). Tingkat distensibilitas ini berbeda-beda pada setiap individu. Meskipun daerah itu dapat meregang, namun dapat terjadi robekan-robekan kecil pada kulit sekitar introitus vagina sekalipun tidak dilakukan episiotomy atau tidak terjadi laserasi.
e.       Perubahan Muskuloskeletal
System musculoskeletal mengalami stress selama persalinan. Diaphoresis, keletihan, proteinuria (+1), dan kemungkinan penigkatan suhu menyertai peningkatan aktivitas otot yang menyolok. Nyeri punggung dan nyeri sendi (tidak berkaitan dengan posisi janin) terjadi sebagai akibat semakin renggangnya sendi pada masa aterm. Proses persalinan itu sendiri dan gerakan meluruskan jari-jari kaki dapat menimbulkan kram tungkai.
f.       Perubahan Neurologi
System neurologi menunjukkan bahwa timbul stress dan rasa tidak nyaman selama persalinan. Perubahan sensoris terjadi saat wanita masuk ke tahap pertama persalinan dan saat masuk ke setiap tahap berikutnya. Mula-mula ia mungkin merasa euphoria. Euphoria membuat wanita menjadi serius kemudian mengalami amnesia di antara traksi selama tahap kedua. Akhirnya, wanita merasa sangat senang atau merasa letih setelah melahirkan. Endorphin endogen (senyawa mirip morfin yang diproduksi tubuh secara alami) meningkatkan ambang nyeri dan menimbulkan sedasi. Selain itu, anesthesia fisiologi jaringan perineum, yang ditimbulkan teanan bagian presentasi, menurunkan persepsi nyeri.
g.      Perubahan Pencernaan
Persalinan mempengaruhi system saluran cerna wanita. Bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat wanita bernapas melalui mulut, dehidrasi, dan sebagai respon emosi terhadap persalinan. Selama persalinan, motilitas dan absorpsi saluran cerna menurun dan waktu pengosongan lambung menjadi lambat. Wanita seringkali merasa mual dan memuntahkan makanan yang belum dicerna setelah bersalin. Mual dan sendawa juga terjadi sebagai respon reflex terhadap dilatasi serviks lengkap. Ibu dapat mengalami diare pada awal persalinan. Perawat dapat meraba tinja yang keras atau tertahan pada rectum (Bobak, 2004).
h.      Perubahan Endokrin
System endokrin aktif selama persalinan. Awitan persalinan dapat diakibatkan oleh penurunan kadar progesterone dan peningkatan kadar esterogen, prostaglandin, dan oksitosin. Metabolism meningkat dan kadar glukosa darah dapat menurun akibat proses persalinan (Bobak, 2004).

H.    Definisi Nyeri
Setiap manusia dapat mengalami nyeri yang merupakan sensasi tidak enak. Nyeri merupakan tanda penting terhadap adanya gangguan fisiologis (Priharjo, 1996). Banyak oang yang datang kerumah sakit atau Puskesmas dengan keluhan nyeri yang biasanya disertai dengan rasa lainnya seperti tertekan, panas atau dingin,. Nyeri secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu rasa tidak nyaman, baik ringan maupun berat.
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual potensial. Nyeri adalah salah satu alasan seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan (Brunner & Suddarth, 2002)
Definisi keperawatan tentang nyeri adalah, apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu mnegatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak diketahui. Oleh karena itu, keberadaan myeri adalah berdasarkan hanya ada laporan pasien bahwa itu ada (Brunner & Suddarth, 2002).
Menurut (Judith M. Wilkinson, 2012) Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jarinagn yang actual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba – tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Menurut (Judith M. Wilkinson, 2012) Nyeri kronis adalah pengalaman sensori dari emosi yang tidak menyenangkan, akibat kerusakan jaringan actual dan potensial atau digambarkan dengan istilah kerusakan ( International Association for the Study of Pain ); awitan yang tiba – tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya lebih dari enam bulan.
Menurut (Priharjo, 1996) nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri akut dan kronis.
a.       Nyeri akut, biasanya berlangsung secara singkat, misalnya nyeri pada patah tulang dan nyeri pada pembedahan abdomen. Pasien yang mengalami nyeri akut biasanya menunjukkan gejalan – gejala antara lain : perspirasi meningkat, percepatan jantung dan tekanan darah meningkat, dan palor. Respone seseornag terhadap nyeri bervariasi, ada yang sakit.
b.      Nyeri kronis, berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.
Menurut (Priharjo, 1996), Nyeri juga dinyatakan sebagai nyeri somatogenik atau psikogenik. Nyeri somatogenik merupakan nyeri secara fisik, sedangkan nyeri psikogenik merupakan nyeri psikis atau mental.
I.       Teori Nyeri
Mekanisme saraf komplek secarakeseluruhan tidak dimengerti tentang keterlibatannya dengan nyeri. Ada beberapa keyataan serta teori – teori yang akan dijelaskan disini (Priharjo, 1996).
Teori awal. Suatu teori yang menjelaskan nyeri sebagai mekanisme relative sederhana yang menjelaskan bahwa respone nyeri timbul apabila suatu stimuli nyeri mengaktivasi resptor nyeri. Stimuli dapat berupa zat kimia, listrik, panas, mekanik, maupun mikroorganisme baik yang beyrasal dari dalam maupun luar tubuh. Informasi dari reseptor nyeri mencapai system saraf sentral melalui serabut saraf asenden. Bila informasi ini telah samapai di thalamus, maka seseorang akan menjadi lebih terlibat dengan sensasi serta mempelajari tentang lokasi dan kekuatan stimulus. Bilanformasi telah sampai pada jortek serebri, maka seseorang menjadi lebih terlibat dengan sensasi myeri, mencoba menginterprestasikan arti nyeri dan mencari cara untuk menghindari sensasi lebih lanjut (Priharjo, 1996).
Teori pemula walaupun akurat tetapi tidak mempunyai penjelasan yang cukup tentang mengapa setiap orang sangat berbeda dalam berespone terhadap nyeri. Teori nyeri yang lebih sederhana adalah Teori Gate Control dikemukakan oleh Melzack dan Wall tahun 1965. Teori ini lebih komprehensif dalam menjelaskan transmisi dan persepsi nyeri. Dalam teori ini dijelaskan bahwa Substansi Gelatinosa, yaitu suatu area dari sel – sel khusus pada bagian ujung dorsal serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal cord) mempunyai peran sebagai mekanisme pintu gerbang (gating mechanism). Mekanisme pintu gerbang ini dapat memodifikasi dan merbah sensasi nyeri yang datang sebelum meraka sampai di kortek serebri dan menimbulkan persepsi nyeri (Priharjo, 1996).

J.      Ciri – Ciri Nyeri dan Faktor – Faktor Pencetus
Dalam mengkaji nyeri perawat perlu memastikan lokasi nyeri secar jelas meliputi dimana nyeri itu dirasakan, misalnya nyeri pada abdomen kuadran kanan bawah. Untuk lebih memperjelas dapat pula digunakan istilah – istilah seperti proksimal, distal, medial, dan lateral (Priharjo, 1996).
Menurut (Priharjo, 1996) Intensitas nyeri dinyatakan dengan nyeri ringan, sedang, berat, atau sangat nyeri. Waktu dan durasi dinyatakan dengan sejak kapan nyeri dirasakan, berapa lama terasa, apakah nyeri berulang, bila nyeri berulang maka dalam selang waktu berapa akhir. Kualitas nyeri dinyatakan sesuai dengan pa yang diutarakan pasien misalnya nyeri seperti “dipukul – pukul”, nyeri seperti “diiris – iris pisau”, dll. Perilaku nonverbal pada pasien yang mengalami nyeri dapat diamati oleh perawat, misalnya ekspresi wajah kesakitan, gigi mencengkram, memejamkan mata rapat – rapat, menggigit bibir bawah, dll.
Menurut (Priharjo, 1996) bahwa perawat perlu melaporkan factor pencetus nyeri misalnya : nyeri terasa setelah latihan/bekerja berat, nyeri timbul pada saat hujan/udara dingin, dll.
K.    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri
Menurut (Priharjo, 1996) Berbagai factor yang mempengaruhi nyeri antara lingkungan, umur, kelelahan riwayat sebelumnya, mekanisme pemecahan masalah, kepercayaan / agama, budaya dan tersedianya orang – orang yang memberi dukungan.
Menurut (Priharjo, 1996) nyeri dapat diperberat dengan adanya rangsangan dari lingkungan yang berlebihan misalnya kebisingan, cahaya sangat terang dan kesendirian. Toleransi terhadap nyeri meningkat sesuai dengan pertambahan usia, misalnya semakin bertambah usia seseorang maka semakin bertambah pula pemahaman terhadap nyeri dan usaha mengatasinya. Kelelahan juga meningkatkan nyeri dan banyak orang merasa lebih nyaman setelah tidur. Riwayat sebelumnya danmekanisme pemecahan masalah berpengaruh pula terhadap seseorang dalam mengatasi nyeri, sebagai suatu kutukan. Ersedianya orang – orang yang memberikan dukungan sangat berguna bagi seseorang dalam menghadapi nyeri, misalnya anak – anak akan merasa lebih nyaman bila dekat dengan orang tuanya.

L.     Cara Mengatasi Nyeri
Menurut Jean A. Bachman di dalam buku  (Bobak, 2004), Wanita hamil sering khawair tentang rasa nyeri yang akan mereka alami saat melahirkan dan bagaimana mereka akan bereaksi untuk mengatasi nyeri tersebut. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi beraneka ragam metode persiapan persalinan yang membantu ibu atau pasangan mengatasi rasa tidak nyaman dalam persalinan. Intervensi yang dipilih tergantung pada keadaan dan pilihan, baik ibu itu maupun tenaga kesehatan yang merawatnya.
Nyeri persalinan menjadi lebih ringan sering dengan makin sering dan efektifnya pengendalian nyeri interventif  sehingga ikatan ikatan antara persalinan dan nyeri masih kuat. Anggapan yang tetap ada mengenai tak terelekannya nyeri persalinan, bahkan jika hal itu hanya sebagai konsep yang hadir untuk memengaruhi ibu agar memikirkan metode pengendalian nyeri yang ia inginkan sebelum melihat persalinan sebagai perjalanan yang berlanjut (Halldorsdottir 7 karlsdottin, 1996) saat wanita menganggap persalinan sebagai komponen utama <yang terdiri dari ‘nyeri dan kerja keras ‘. Penulis mempertimbangkan di sisni sifat perjalanan. Saat seperti masalah yang memengaruhi sikap kita terhadap pengalaman nyeri persalinan. Hal ini melibatkan memeriksa ide yang berkaitan dengan asal fisik nyeri persalinan pada persalinan tanpa komplikasi dan dalam persalinan dengan beberapa masalah (Rosemary Mander, 2004).
Menurut (Bobak, 2004), Rasa Tidak Nyaman Selama Proses Persalinan ada 3 yaitu :
a.       Rasa tidak nyaman Neurologis
Rasa tidak nyaman selama persalinan disebabkan oleh dua hal (Hughs, 1992). Pada tahap pertama persalinan, kontraksi rahim menyebabkan;
1.      Dilatasi dan penipisan serviks
2.      Iskemia rahim (penurunan aliran darah sehingga oksigen local mengalami deficit) akibat kontraksi arteri miometrium.
Impuls rasa nyeri pada tahap pertama persalinan ditransmisi melalui segmen saraf spinalis T11-12 dan saraf-saraf asesori torakal bawah serta saraf simpatik lumbar atas. Saraf-saraf ini berasal dari korpus uterus dan serviks.
Rasa tidak nyaman akibat perubahan serviks dan iskemia rahim ialah nyeri visceral. Nyeri ini berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbar punggung dan menurun ke paha. Biasanya ibu mengalami rasa nyeri ini hanya selama kontraksi dan bebas dari rasa nyeri pada interval antarkontaksi.
Selama tahap kedua persalinan, yakni tahap pengeluaran bayi, ibu mengalami nyeri somatic atau nyeri pada perineum. Rasa tidak nyaman pada perineum ini timbul akibat peregangan jaringan perineum supaya janin dapat melewati bagian ini, juga akibat tarikan peritoneum dan topangan uteroservikal saat kontraksi. Rasa nyeri juga dapat diakibatkan pengeluaran janin menggunakan forsep atau tekanan pada bagian terendah janin, yakni kandung kemih, usus, atau struktur sensitive panggul yang lain, impuls nyeri selama tahap kedua persalinan dihantar melalui S1-4 dan system parasimpatis jaringan perineum. Nyeri yang dialami pada persalinan tahap ketiga ialah nyeri rahim, nyeri yang mirip dengan nyeri yang dialami pada awal tahap pertama persalinan.
Nyeri dapat berupa nyeri local disertai kram dan sensasi robekan akibat distensi dan laserasi serviks, vagina atau jaringan perineum. Rasa tidak nyaman sering digambarkan sebagai sensasi terbakar yang dirasakan saat jaringan meregang. Nyeri juga dapat beralih sehingga dapat dirasakan dipunggung, di pinggang, dan di paha (Bobak, 2004).
b.      Ekspresi Nyeri
Rasa nyeri muncul akibat respons psikis dan reflex fisik. Kualitas rasa nyeri fisik dinyatakan sebagai nyeri tusukan, nyeri terbakar, rasa sakit, denyutan, sensasi tajam, rasa mual, dank ram. Rasa nyeri pada persalinan menimbulkan gejala yang dapat dikenali. Peningkatan aktivitas system saraf simpatik timbul sebagai respon terhadap nyeri dan dapat mengakibatkan perubahan tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan warna kulit. Palor dan diaphoresis dapat timbul (Potter dan Perry, 1995). Serangan mual, muntah, dan keringat berlebihan juga sangat sering terjadi. Ekspresi afektif tertentu akibat suatu penderitaan juga sering terlihat. Perubahan afektif meliputi peningkatan rasa cemas disertai lapang peerseptual yang menyempit, mengerang, menangis, gerakan tangan (yang menandakan rasa nyeri) dan ketegangan otot yang sangat di seluruh tubuh. Ekspresi nyeri dapat bervariasi sesuai kultur budaya. Misalnya, wanita Amerika asli menahan nyeri dengan menunjukkan sikap diam, sedangkan wanita Hispanik menahan nyeri dengan bersikap sabar, tetapi menganggap hal yang wajar jika perlu berteriak-teriak (Mattson, Smith, 1993 di dalam buku (Bobak, 2004)).

c.       Persepsi Nyeri
Walau ambang nyeri hamper sama pada semua individu tanpa memandang jenis kelamin, social, etnik, atau perbedaan cultural, tetapi perbedaan-perbedaan ini memainkan peran penting dalam persepsi nyeri tiap individu. Pengaruh factor-faktor, seperti budaya, counterstimuli, dan distraksi untuk mengatasi rasa nyeri tidak dimengerti sepenuhnya. Arti nyeri dan ekspresi verbal maupun nonverbal tentang nyeri tampaknya dipelajari dan interaksi dalam kelompok social primer. Pengaruh budaya dapat menimbulkan harapan yang tidak realistis. Misalnya, wanita Asia percaya bahwa berteriak dan memperlihatkan rasa nyeri ialah hal yang memalukan dan mereka tidak mengerluarkan kata-kata saat merasa nyeri (Mattson, Smith, 1993). Rasa nyeri berbeda pada setiap individu. Melalui pengalaman nyeri, manusia mengembangkan beraneka mekanisme untuk mengatasi nyeri tersebut. Ketegangan emosi akibat rasa cemas sampai rasa takut dapat memperberat pesepsi nyeri selama persalinan. Nyeri atau kemungkinan nyeri dapat menginduksi ketakutan, sehingga timbul kecemasan yang berakhir dengan kepanikan. Keletihan dan kurang tidur dapat memperberat nyeri. Persalinan sebelumnya dapat mempengaruhi persepsi wanita tentang nyeri bersalin. Karena wanita primipara mengalami persalinan yang lebih panjang, mereka merasa lebih letih. Hal ini membuat peningkatan nyeri seperti suatu lingkaran setan (Gatson-Johansson,dkk., 1988 di dalam buku (Bobak, 2004)). Wanita yang menggunakan obat-obatan terlarang mengalami nyeri yang sama dengan wanita lain saat bersalin. Biasanya penggunaan obat penahan nyeri tidak perlu dicegah. Akan tetapi, pemantauan ketat komplikasi yang berkaitan dengan setiap obat merupakan bagian dari pengkajian perawat (Bobak, 2004).
Kadang-kadang stimulus nyeri yang sangat kuat dapat diacuhkan. Kelompok sel saraf tertentu di dalam medulla spinalis, batang otak, dan korteks serebri memiliki kemampuan untuk mengatur impuls nyeri melalui suatu mekanisme penghambat. Teori gate-control ini bermanfaat bagi perawat untuk memahami cara pendekatan yang dipakai dalam member penyuluhan kepada orang tua tentang program persalinan atau pemakaian hypnosis pada persalinan. Menurut teori ini, sensasi nyeri dihantar sepanjang saraf sensori menuju ke otak dan hanya sejumlah sensasi atau pesan tertentu dapat dihantar melalui jalur saraf ini pada saat bersamaa. Dengan memakai teknik distraksi, seperti pijatan dan music, jalur saraf untuk persepsi nyeri dihambat atau dikurangi. Distraktor ini dianggap bekerja menutup pintu hipotetis di medulla spinalis, sehingga menghambat sinyal nyeri mencapai otak. Rangsang nyeri kemudian menghilang (Bobak, 2004).
Apabila wanita hamil melakukan kegiatan motorik dan kegiatan neuromuscular, aktivitas di dalam medulla spinalis akan memodifikasi transmisi nyeri lebih jauh lagi. Aktivitas kognitif, seperti konsentrasi pada pernapasan dan relaksasi membutuhkan aktivitas kortikal yang selektif dan langsung, yang mengaktifkan sekaligus menutup mekanisme ini. Teori gate-control menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung pada saat melahirkan. Di dalam lingkungan tersebut, ibu yang sedang bersalin dapat rileks dan dapat melakukan berbagai aktivitasmental yang lebih tinggi (Bobak, 2004).
Pada kesempatan lain, kelelahan ibu, ukuran atau posisi janin, dan kondisi-kondisi lain membutuhkan penggunaan obat di samping implementasi tindakan untuk mengatasi rasa tidak nyaman. Nyeri bersalin dapat menimbulkan respons fisiologis yang mengurangi kemampuan rahim berkontraksi, sehingga memperpanjang waktu persalina. Perawat harus memahami bahwa setiap wanita mengalami dan merasakan nyeri dengan cara yang unik dan bahwa ia harus memahami rasa nyeri wanita tersebut sebagaimana diungkapkannya. Rasa khawatir dan rasa cemas dapat timbul pada fase akhir persalinan, sehingga keterampilan yang telah dipelajari di kelas punyuluhan bagi orang tua menjadi tidak berguna (Wuitchik, dkk, 1990 didalam buku (Bobak, 2004)).
Menurut (Nolan, 2004) Kecemasan terhadap nyeri barangkali bahwa sebagian besar wanita hamil mencemaskan nyeri persalinan. Akan seperti apa nyerinya? Akan seburuk apa keadaanya? Apakah saya dapat saya menahanya?Media masa sering menengetengahkan gambaran persalinan yang seperti lama, sangat menyakitkan, bahkan berbahaya. Wanita yang sudah pernah melahirkan kadang-kadang tidak membantu keadaan dengan cerita-cerita mengerikan tentang persalinan mereka sendiri (perlu dikatakan cerita ini sering di lebih-lebihkan). Bila wanita hamil mengikuti kursus persalinan, mereka akan melihat bahwa gurunya meluangkan banyak waktu untuk berbicara tentang nyeri persalinan, menganjurkan cara-cara praktis untuk menghadapinya dan memberikan informasi tentang berbagai obat dan prosedur medis yang tersedia untuk meredakan nyeri. Bayangan akan rasa nyeri ini membuat beberapa calon ibu menjadi begitu takut  sehingga bulan-bulan terakhir dari kehamilanya terbuang sia-sia.
Saya tahu tubuh saya mampu bertahan tapi saya takut. Mereka mengatakan jika Anda takut, tubuh akan menegang dan anda akan merasa lebih nyeri, jadi semuanya seperti lingkaran syetan. Saya jadi tambah takut dan tidak bias keluar dari ketakutan ini. Saya berusaha untuk tidak memikirkan persalinan, karena semakin memikirkanya, saya semakin takut.
Saya berusaha untuk tidak mendengarkan cerita-cerita yang mengerikan dari orang lain sangat menakutkan. Memang sulit untuk mendengar semua itu dan tetap percaya diri.
Saya membeli semua majalah tentang bayi dan ketika kehamilan saya berusia tiga bulan, ada sebuah artikel yang berjudul “Segala sesuatu yang perlu anda ketahui tentang jahitan” yang merinci segala sesuatu yanag tidak beres dalam persalinan. Saya hanya bias duduk dan menangis karena saya begit kawatis akan persalinan ini.
Menghadapi Nyeri Punggung Pada Persalinan menurut (Nolan, 2004)
Jika bayi anda berbaring telentang dengan punggung Anda (yang disebut sebagai posisi posterior oleh para bidan), Anda akan mengalami nyeri punggung selama persalinan. Nyeri ini tidak hanya muncul bersamaan dengan kontraksi, tetapi terus menerus sehingga menyulitkan bagi anda untuk beristirahat dan relaks serta menyiapkan diri untuk menghadapi kontraksi berikutnya. Ada beberapa hal yang mungkin bias membantu anda:
·         Cobalah posisi merangkak selama kontraksi sehingga bayi turun menjauh dari tulang punggung anda; ini akan bantu meredahkan tekanan pada punggung.
·         Pendukung kelahiran atau bidan dapat membungkus botol panas dengan handuk dan meletakan di lekukan punggung anda; atau sebaliknya, anda dapat menggunakan sesuatu yang sangat dingin untuk meredahkan nyeri, misalnya botol es yang di bungkus handuk.
·         Pijatan yang kuat dan terus menerus pada punggung dan bahwa akan membuat anda nyaman. Pendukung kelahiran dapat menempatkan tumit telapak tanganya di tulang ekor anda dan menggoyangkan telapak tangan dalam gerakan memutar kecil. Jika anda tidak menyukainya, katakanlah.
Mendorong bayi untuk bergerak dengan menyediakan sebanyak mungkin ruang di dalam panggul anda jadi teruslah bergerak; cobalah berjongkok sebentar untuk membuka panggul sebesar mungkin dan goyangkan pinggul dalam gerakan melingkar dan menyamping.
           
Meskipun demikian, ada banyak hal yang bisa anda laukan untuk membantu diri selama persalinan. Seringkali calon ibu meremehkan kekuatan dirinya dalam menahan nyeri. Mitos turun temurun selalu menekankan bagian yang sulit dari persalinan, bukan bagian yang menggembirakan dan memuaskan. Jelas akan sangat membantu para gadis kecil yang kelak akan menjadi ibu, jika orang dewasa mulai memberikan gambaran yang berbedah tentang persalinan, bukan gambaran yang menakutkan (Nolan, 2004).
Menurut (Nolan, 2004) Peran dari nyeri : HAL PERTAMA yang perlu di bicarakan tentang nyeri persalinan adalah bahwa beberapa wanita tidak mengalaminya. Jumlahnya mungkin hanya sedikit, tetapi anda juga akan menjumpai banyak wanita yang lain yang beranggapan bahwa nyeri persalinan bukanlah sesuatu yang luar biasa dan masih berada di bawah nyeri yang pernah mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.
Saya tidak mengalami nyeri apapun. Saya tidak bias menyebutnya sebagai nyeri. Saya tidak mengatakan bahwa prosesnya sangat nyaman; jelas tidak enak dan saya mengetahui semua yang terjadi, tetapi semuanya tidak menyakitkan dan saya dalam keaadaan sadar bahkan bias beradu pendapat.
Saya mengalami nyeri seperti nyeri mensturasi yang berat, yang tidak menyenangkan tetapi saya tidak mengalami nyeri dalam artian yang mengerikan.
Sebenarnya, tidak terasanya nyeri persalinan malah dapat menimbulkan masalah jika calon ibu sudah mengantisipasi bahwa masa peralihan untuk menjadi seorang ibu dilalui dengan nyeri persalinan. Wanita kadang-kadang merasa bahwa nyeri persalinan adalah sesuatu yang penting secara psikologis karena ini menguji komitmenya kepada bayi.
Saya memang merasakan kontraksi tetapi tidak terlalu menyakitkan dan saya sungguh kehilangan sensasi itu; saya piker seharusnya saya mengalaminya. Jadi untuk lain kali, saya menantikan rasa nyeri tersebut.
Saya semakin merasa bahwa nyeri persalinan itu memang diperlukan. Bukan karena saya menikmatinya , ow ya, saya memang sedikit menikmatinya dan bagi saya, persalinan tanpa nyeri bukanlah sesuatu yang saya inginkan rasanya tidak ada keberhasilan.
Dari sudut pandang evolusi, tampaknya nyeri persalinan bukanlah sesuatu yang berada diluar kemampuan seorang wanita. Alam menggunakan nyeri untuk beberapa tujuan tertentu yang sangat penting. Nyeri kontraksi yang pertama mengatakan kepada calon ibu bahwa persalinan sudah di mulai; jika calon ibu tidak merasakan apa-apa, bayi beresiko dilahirkan di tempat yang tidak tepat. Bertambahnya kekuatan kontraksi secara bertahap memberi petunjuk tenyang sejauh mana perjalanan persalinan sehingga saat kelahiran sudah mendekat, calon ibu dapat meminta bantuan dan pergi ketempat yang aman untuk melahirkan (Nolan, 2004).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memberi respons secara naluria terhadap nyeri. Jika kepala anda terbentur lemari, otomatis anda menggosok bagian yang terbentur karena menggosokan ini membuat tubuh memproduksi endorphin, yaitu pereda nyeri alami. Jika anda mengalami nyeri lambung yang parah, Anda akan berbaring dan meringkuk dengan botol panas di lambung karena kehangatan dan berada dalam posisi tertentu yang membuat (Nolan, 2004).
Membantu Diri Meghadapi Nyeri Menurut (Nolan, 2004)
 Menyamankan Diri
Yang paling penting adalah nyamankan diri.Terlepas apakah Anda melahirkan dirumah atau di rumah sakit, usahakan untuk terus bergerak untuk mencoba posisi baru guna mencari posisi mana yang paling cocok untuk Anda. Kemungkinan besar, apa yang terasa nyaman bagi anda adalah posisi yang paling mudah bagi bayi untuk lahir. Hampir semua calon ibu menemukan bahwa posisi berdiri selama persalinan akan lebih membantu dalam menghadapi nyeri. Ini karena tulang-tulang panggul dapat membuka lebih lebar daripada jika anda duduk pada tulang ekor, dan gaya tarik bumi membantu bayi turun melaluli panggul anda.
Ketika berkontraksi, Rahim maju kedepan sehingga anda akan merasa lebih nyaman jika merasa kedepan, membantu Rahim bekerja lebih efektif.
Ada beberapa posisi yang anda dapat coba satu-satunya petunjuk adalah mana yang paling nyaman untuk anda.
·         Berdiri, menyandar kedepan pada meja, punggung kursi, tempat tidur atau pendukung kelahiran anda.
·         Berlutut, menyandar ke alas kursi atau kelutut pendukung kelahiran jika ia berada dalam posisi duduk, atau ke tumpukan bantal.
·         Posisi merangkak dengan kepala mengarah ke bawah.
·         Duduk cara koboi di atas kursi, menyandar kebantal yang di tempatkan di punggung kursi.
·         Berbaring (jika anda sangat lelah dan ingin berbaring) miring kekiri dengan sebuah bantal di antara kedua tungkai kaki.
·         Berjongkok sambil menopang diri dengan menyandar ke depan dengan menggunakan dukungan tangan atau ke lutut pendukung kelahiran sementara ia dalam posisi duduk.


Pernapasan
Selama persalinan, calon ibu bernapas dengan berbagai cara. Beberapa menarik napas panjang dan lama untuk membantu mereka melewati kontraksi; ada yang bernapas dangkal dan pendek untuk mengatasi kontraksi; ada juga yang bernapas bertahap, yaitu menarik napas pendek, menarik napas pendek sekali lagi, lalu mengembuskan napas pendek, dilanjutkan dengan mengembuskan napas pendek sekali lagi. Anda boleh melakukan yang manapun, sejauh pernapasan anda teratur dan tidak menjadi panic sehingga anda mulai terengah-engah dan akhirnya menjadi pusing, mual, dan kesemutan. Biasanya akan membantu jika anda memusatkan perhatian pada pengembusan napas (Anda terprogram untuk menghirup napas) tetapi kadang-kadang, embusan napas juga biasa di tahan. Jadi pikirkan konsep keluar ketika anda mengembuskan napas dan biarkan ketegangan mengalir keluar.

Semua posisi ini akan lebih membantu jika anda menggabungkanya dengan gerakan mengayun-ayunkan panggul kedepan dan kebelakang atau memutar. Sejak dulu gerakan mengayun adalah gerakan yang membuat anda nyaman; menenangkan anda dan membantu bayi menjelajai panggul serta menemukan jalan keluar yang termudah.

MENGELUARKAN SUARA
Jangan ragu jangan merasa bahwa anda tidak pantas mengeluarkan suara, itu bukan tindakan yang benar, atau bahwa anda akan dianggap mengganggu atau cengeng. Telah di ketahui bahwa mengeluarkan suara adalah cara efektif untuk meredahkan nyeri, lihatlah reaksi anak kecil ketika mereka terluka. Persalinan adalah pengalaman yang hiruk-pikuk jika erangan atau jeritan membantu anda, lakukanlah.

PIJAT
Jika terbentur sesuatu, reaksi langsung anda adalah menggosok bagian anda yang terbentur. Penggosokan menyebabkan tubuh melepas bahan pereda nyeri alami yang di sebut endorphin. Pijat adalah bentuk yang lebih canggi dari menggosok. Banyak wanita merasa terbantu jika mendapat pijatan di bagian punggungnya. Beberapa calon ibu lain senang jika tulang ekornya di tekan dengan keras untuk mengimbangi kekuatan kontraksi. Tetapi beberapa lainya sama sekali tidak ingin di sentuh selama kontraksi, dan memili untuk tidak di ganggu; beberapa lainya senang di pijat di anatara kontraksi untuk membantu membutnya relaks. Katakan pada pendukung kelahiran atau bidan anda, bagian mana yang ingin di pijat dan kapan; katakana apa yang terasa membantu dan apa yang tidak. Pijat bias lebih menyenangkan jika pendukung kelahiran menggunakan minyak yangb tidak beraromah atau minyak pijat favorit anda untuk mencega luka gesek ketika ia menggosok kulit anda.


Penggunaan Air
Kebanyakan dari kita menemukan bahwa mandi rendam atau mandi pancur membuat relaks ketika kita sedang stress. Air sangat menenangkan otot yang nyeri. Begitupula di dalam persalinan. Berendam di dalam air hangat akan sangat membantu calon ibu untuk relaks dan lebih akan menghadapi nyeri kontraksi. Jika airnya cukup dalam, anda bias mencoba berbagai posisi untuk menambah kenyamanan. Jika anda tidak dapat menggunakan bak rendam atau kolam lahir, cobala mandi pancur selama persalinan.

Relaksasi
Semua yang di jelaskan di atas akan membantu anda untuk relaks, dan jika anda relaks, anda dapat menyimpan tenaga dan menjamin pasokan oksigen yang cukup untuk bayi (jangan lupa bahwa ia juga sedang mengalami persalinan). Mempunyai hubungan yang baik dengan bidan sehingga anda bebas untuk bertanya padanya juga membuat anda reaks. Pendukung kelahiran dapat menggunakan semua pengetahuanya untuk membuat anda relaks. Jika anda mengikuti kursus persiapan persalinan, pengajar akan membatu anda belajar mengenali kapan anda menjadi tegang dan cara-cara melepaskan ketegangan.

Anda lebih nyaman. Nyeri menberi tauh pada kita cara membantu diri untuk pulih dari cidera. Di dalam persalinan, tidak terjadi cidera, tetapi nyeri mengajarkan cara melahirkan kepada calon ibu. Nyeri membimbing calon ibu untuk mencoba berbagai posisi demi mendapat kenyamanan, dan dengan bergerak-gerak serta berganti posisi, ia membantu menekan kepala bayi ke sekeliling leher Rahim sehingga leher Rahim membuka secara merata. Pada tahap persalinan lebih lanjut, penggantian posisi akan menggeser bayi, membantunya menemukan jalan termudah untuk melalui panggul ibu (Nolan, 2004).
Tetap Aktif
SEBAGIAN BESAR WANITA HAMIL menemukan bahwa pada awal persalinan dan selama beberapa jam pertama, mereka menjadi gelisah; terus menerus bergerak. Hiperaktifitas ini terjadi sebagai kombinasi antara ke gugupan dan kesadaran bahwa posisi berdiri dan bergerak akan membantu meredahkan nyeri:
Beberapa kali saya duduk, tetapi terasa tidak nyaman. Saya hanya ingin berdiri dan berkeliling ruangan.
Saya didorong untuk berjalan mondar-mandir; bahkan saya dikirim kembali kekamar untuk berjalan-jalan ketimbang menunggu di ruang persalinan.
Sepanjang malam saya duduk di kursi goyang. Saya meminta kursi goyang, dan memang terasa enak.
Alam memang mempunyai irama degup jantung, pola tidur dan bangun, siklus menstruasi wanita. Cara Rahim berkontraksi secara bertahap untuk mencapaipuncaknya lalu meredah, juga merupakan sebuah irama. Karena itu, tidak mengherankan bahwa calon ibu sering kali memilih aktifitas yang berirama untuk membantu mereka menghadapi kontraksi: Ruang bersalinan cukup sempit untuk berjalan-jalan, jadi saya mondar-mandir secara berirama, berusaha untuk relaks dan berkonsentrasi.
Diam saja membust nyeri semakin parah. Menyandar kedepan, mengayunkan panggul ke samping dan memutar membuat nyeri lebih ringan.
Kelak ketika persalinan sudah lanjut dan kontraksi sudah lebih kuat, calon ibu menjadi kurang bias bergerak, meskipun demikian merekan jarang memilih untuk duduk atau berbaring diam :
Saya tidak biasa berjalan bahkan berdiri; saya hanya berlutut. Rasanya sakit sekali.
Ketika kontraksi menjadi lebih kuat, saya merangkak dan sepertinya posisi ini meringankan beban pada punggung saya.
Saya tidak ingin berbaring di tempat tidur karena ini membuat kontraksi lebih sulit untuk dihadapi.

Pokok Pesoalan Pada Nyeri Persalinan menururut (Rosemary Mander, 2004);
Dalam merenungkan nyeri persalinan, pertanyaan mengenai keberadaan hapir tidak di sebutkan. Walaupun demikian, pertanyaan terus di lanjutkan kembali, mungkin menyebabkan tetap’ adanya salah paham’ antara praktisi medis dan wanita yang  mereka layani (Mander, 1994a dalam buku (Rosemary Mander, 2004)). (Bonica (1990a: 1314) dalam buku (Rosemary Mander, 2004)) mengutip ‘pendukung persalinan alami’ awal abad ini sebagai melawan konstruksi budaya nyeri persalinan. Bonica kumudian menggunakan datanya sediri yang belum dipublikasikan untuk menghancurkan argumen yang sangat lemah tersebut  dan dengannya, mengkritik intervensi anestesia obstertik rasional trehadap keberadaan nyeri persalian dan khususnya untuk nyeri yang hebat  tersebut, sering di pertayakan masih berada dalam benak bahwa nyeri sebenarnya menunjukan adanya atau kemungkinan adanya kerusakan (BAB 2) . bonica (1990a) menjawab pertanyaan ini dalam hal kebutuhan ganda untuk menyiagakan wanita terhadap persalinan yang akan datang dan untuk bersiap siap bagi anaknya . hal yang masuk akal mengenai rasional ini tidak menyakitkan . demikian juga dengan kerangka kerja meszack dan wall (1991), yang terdiri dari pencegahan cidera serius atau mempelajari kesempatan untuk menghindari cidera lebih lanjut , serta nyeri tidak betujuan seperti nyeri fantom anggota gerak\tubuh . dalam istilah evolusi mungkin bahwa (niven & gijbers, 1996a ) para peneliti ini selanjutnya menyalakan perkembangan otak manusia dan pengaturan kasitas panggul berkaitan dengan posturbipedal (Rosemary Mander, 2004).
Seperti yang sudah disebutkan ( meszack dan wall (1991) ikatan antara nyeri dan patologi bersifat  bersifat meluas, yang tidak sesuai dalam konteks persalinan karena ikatan ini menyebut proses fisiologis ini sebagai penyakit (niven & gijbers, 1996a ) penanaman ini membutuhkan keterlibatan dan intervensi oleh merekayang ahli dalam menangani penyakit ini- rekan medis kita (Rosemary Mander, 2004).
Intensitas nyeri persalinan secara objektif telah di tegakanoleh peneliti dari kedua sisi atlantik ( meszack dan wall 1991 ; niven , 1992: 45) ketika dibandingkan dengan sindrom nyeri lain yang terkenal seperti yang diukur oleh pain ratting index (PRI) , intensitas nyeri persalinan khususnya kala II , jauh melebihi keadaan  penyakit (niven & gijbers, 1996a) . penelitian ini penting karena nyeri persalinan dan nyeri lain secara mendasar adalah pengalaman presonal, pribadi, tidak terbagi dan tidak dapat dibagi walaupun seorang ibu dapat beranggapan bahwa pengalaman nyerinya sesuai dengan pengalaman ibu lain, hal ini tidak dapt diketahui menyebabkan makna kutipan yang terkenal dalam persalinan: nyeri  adalah apapun yang dialami oleh orang mengatakannya terhadap kapan saja ia mengatakannya (McCaffery, 1979). Selain pengamatan McCaffery,terdapat faktor-faktor tertentu yang tampak berkaitan dengan nyeri persalinan yang hebat (Niven,1992).Faktor-faktor ini mencakup bayi besar,primipara,tubuh ibu yang kecil dan intervensi obsterik,misalnya amniotomi,meningkatkan momok iatrogenesis.Dampak dari faktor seperti durasi persalinan memiliki makna yang tidak jelas (Rosemary Mander, 2004).
Peran pengendalian dalam pengalaman nyeri wanita menjadi makin jelas.Makna pengendalian telah diperluas dari hanya “kontrol-diri” (Kitzinger,1996)menjadi cakupan orientasi berpusat-wanita (Mander,1992b).Namun,makna pentingnya terletak pada perasaan seseorang untuk dapat bertindak mengendalikan situasinya (Lefcourt,1982).Tindakan tersebut kemungkinan melibatkan strategi koping tertentu,misalnya relaksasi,yang telah dipelajari sebelum awitan nyeri (Melzack & Wall, 1991 ).
            Efek perasaan wanita terhadap pengendalian pada tempat bersalin yang berbeda berkaitan dengan persepsinya mengenai nyeri yang ia rasakan (Kitzinger,S.,1989).Temuan studi kitzinger yang berbasis-rasa sukarela mendukung kesan umum yang dicapai melalui laporan anekdotal mengenai persalinan dirumah diBelanda (Mander,1995b). Ia menghubungkan pengalaman ini pada sifat otoritas untuk bersalin dirumah,yang selanjutnya membantu wanita untuk menganggap nyeri persalinannya sebagai hal yang positif.Studi yang lebih reliabel (Morse & Park, 1988) dilakukan untuk membandingkan persepsi nyeri persalinan orang tua yang bayinya lahir dirumah (n=282) dan orang tua yang bayinya lahir dirumah sait (n=191).Persepsi nyeri secara signifikan lebih tinggi pada orang tua yang bayinya lahir dirumah sakit.Para peneliti ini mengakui pengabaian mereka pada realita nyeri persalinan dan menyarankan bahwa penelitian yang memfokuskan diri pada bidang tersebut dibutuhkan.
            Salah satu faktor yang dapat memengaruhi nyeri persalinan tetapi jarang disebutkan adalah makna kelahiran.Newton dan Newton (1972) mempertanyakan apakah makna pengalaman apakah yang memengaruhi nyeri wanita.Butir ini merupakan kenang-kenangan dari pernyataan Melzack dan Wall (1991) bahwa makna nyari memengaruhi akseptabilitas dan kemampuan seseorang untuk menghadapinya. Contoh mereka adalah nyeri anggota gerak fantom, yang seluruhnya bersifat negatif dan tidak mencapai apapun. Dalam konteks nyeri persalinan, newton dannewton menganyatakan bahwa sifat local terhadap kelahiran anak, apakah peristiwa tersebut memerlukan perayaan atau membutuhkan pemurnian, memengaruhi wanita untuk menghadapi kelahiran anak. Mungkin bahwa nyeri di pandang sebagai produk tivitas yang kontinnum, nyeri gerak fandom adalah bagian ujung persalinan. Kitzinger (Kitzinger,S ; 1989) menguntip komentar positif mengenai nyeri persalinan, yang menggambarkan persalinan dalam perumpamaan seperti mendaki gunung dan memensngkan hadiah. Bahwa ketika akhirnya niven  gijbernya, s mengakui bahwa aspek positif dapat mencangkup : nyeri persalinan (ketika berat ) jarang di alami sebagai sesuatu yang tidakdi sukai. Sebenarnya, beberapa anita menganggap bahwa nyeri adalah bagian yang diharapkan bagipersalinan (1996a:141) . ditempat lain, penulis ini mengenali bahwa ciri unik nyeri persalinan adalah konotasi positif (1996a), dalam hal tersebut nyeri adalah nyeri yang lebih produktif dibandingkan banyak nyeri lain (Rosemary Mander, 2004).
Dalam menguji makna nyeri dalam istika umum dan pengaruhnya dalam keterampilan menghaapinya (taylor, 1983), tiga hal yang muncul sebagai dasar dalam mengidentifikasi masalah nyeri. Hal pokok pertama terdiri dari’ rasa koheren ‘ atau tujuan peristiwa kehidupan, selama itu seseorang berusaha untuk menempatkan pengalaman nyeri kedalam seluruh pandangan hidupnya. Hal pokok yang kedua yang di temukan taylor dan yang telah disebutkan persalinan, adalah kebutuhan akan rasa pengendalian pengalaman. Hal pokok treakhir juga relevan dengan persalinan, terdiri dari pencarian individu untuk merasa baik akan dirinya dengan menggunakan pengalaman untuk mencapai pemenuhan diri atau pertumbuhan pribadi. Taylor terus menjelaskan bagaimana seseorang yang merasa nyeri kemungkinan menggunakan ‘ ilusi’ untuk mengidentifikasi makna dankemudian menghadapi nyeri. Taktik semacam itu akan terlibat dalam reinterpretasi prangsag nyeri sebagai kurang menyenangkan atau bahkan menyenangkan (Rosemary Mander, 2004).

Asal Nyeri Persalinan Menurut (Rosemary Mander, 2004);
Pemahaman kita terhadap faktor fisiologis yang menyebabkan persalinan terasa nyeri kurang adekuat dan cenderung bertumbuh pada berbagai kraya reliabel bonica (1990a) (Rosemary Mander, 2004).
1)      Nyeri pada persalinan tanpa komplikasi
Seprti yang dibahas oleh McCrea (Bab 4, ;nyeri dan respons tubuh yang nyata’), nyeri persalinan biasanya dikaitkandenganregangan, tekanan, dan robekan struktur-struktur lokal. Walaupun karakteristik yang bereda dikaitkan dengan nyeri padakala persalinan yang berbeda (Moore, 1997), tidak jelas apakah karakteristik ini ditemukan oleh pengkajian nyeri, oleh status emosional wanita atau oleh intervebsi perawat (Rosemary Mander, 2004).

2)      Nyeri pada persalnan dengan komplikasi
Pada persalinan yang dimulai pada komplikasi,ibu dapat menghadapi nyeri derajat lain.nyeri tambahan,mungkin dengan tanda dan gejala lain.dapat menunjukkan komplikasi yang mengancam kesejahteraan bayi , ibu atau keduanya (Rosemary Mander, 2004).

a.      PERSALINAN OP
Nyeri persalinan dengan kepala janin dalam posisi oksipito posterior (op)adalah bagian dari cerita kebidanan.Hal ini karenan perawatan wanita bersalin menuntut semua keterampilan bidan.serta bahkan berarti lebih menuntut ketahanan wanita.Persalinan op , atau ‘back labour’ di Amerika Utara ,paling sering diakibatkan oleh malposisi janin,terjadi pada 25% persalinan (Oxorn,1986;lowdermilk,1993). Inseden dipersulit oleh keselitan mediagnosis posisi OP pada awal persalinan dan kemungkinan bersama dengan makin majunya persalinan ,kepala mulai berputar keanterior (Rosemary Mander, 2004).
insiden persalinan OP mengandung arti hubungan yang menarik pada metode pengendalian nyeri yang paling tepat bagi perawatan wanita bersalin.analgasia epidural tidak diragukan lagi paling sesuai bagi wanita dengan persalinan OP , seperti yang telah penulis pelajari pada 1960-an ketika merawat wanita muda yang tidak disokong dan ketakutan,yang bayinya terletak posterior.Ketika analgesia epidural dianjurkan, ia setuju dan kemudian mampu menghargai dan belajar mengenai bagaimana menjadi ibu.Ketika epidural digunakan dengan tepat untuk mengontrol nyeri persalinan OP , analgesia ini juga berperan pada terjadinya malosisi ini.hal ini telah ditemukan sebagai bagian dari ‘kaskade intervensi’ keberadaannya diokong oleh studi di inggris dan finlandia (jouppila,dkk., 1980;Williams,dkk., 1985 disalam buku (Rosemary Mander, 2004)).Fenomena ini dapat dikaitkan dengan perubahan neurologis yang diinduksi-epidural yang menyebabkan dasar panggul berelaksasi dan malposisi kepala janin.obat oksitosin yang diberikan untuk mengatasi kelambatan adalah penyebab hipoksia janin , yang bermanifestasi sebagai gawat janin (yudkin,1979;keirse & chalmers,1989).untuk alas an ini intervensi untuk mempercepat persalinan menjadi penting sehingga solusi masalah ini juga dapat menjadi penyebab masalah,dan menyebabkan morbiditas lebih lanjut.
Obat simtomatik , mungkin serupa dengan akupunktur,untuk nyeri punggung bawah pada persalinan adalah suntikan air steril intrakutan atau intradernal (simkin,1996).Dahl dan aames (1991) menemukan bahwa peredaran nyeri bertahan selama 79menit +/_ 15 menit dalam studi dengan tiga kelompok control.penurunan skor VAS yang siginifikan untuk waktu lebih dari 90 menit ketika dibandingkan dengan kelompok placebo secara acak diidentifikasi oleh (ader,dkk.(1990) di dalam buku (Rosemary Mander, 2004)).
Sifat menntang dari komplikasi persalinan ini terletak pada,pertama,sifat nyeri , yang tak berkurang (E1 halta,1996),yang menyebabkan istirahat yang minimal .Nyeri konstan diduga diakibatkan oleh tekanan oksiput janin pada sacrum ibu (Lowdermilk,1993).Kedua durasi persalinan,bila kepala berputar kearah anterior ,akan makin memanjang.Oleh karena durasi dari nyeri terus menerus ini,kondisi wanita dapat memburuk dan tibul dehidasi dan ketosis.
Pearl,dkk.(1993)menemukan bahwa masalah bagi wanita yang mengalami persalinan OP tidak berakhir dengan kelahiran.Morbiditas ibu meningkat,dalam bentuk trauma parineal yang berhubungan dengan kelahiran instrumental dan/atau diameter preentasi yang besar.Morbditas neonatal juga lebih tinggi akibat intervensi instrument,bermanifestasi dalam palsi fasial (bell) atau palsi Erb.Berdasarkan data pearl,,dkk..symes (1994) menyatakan bahwa tantangan baru telah muncul bagi para bidan,yang hanya berpengaruh secara tidk langsung pada nyeri wanitaHal ini terdiri dari pencegahan malposisi ini oleh bidan dengan mendorong tindakan ibu yang membantu rotasi bagian terendah janin.Iintervensi ini menggunakan prinsip bahwa punggung janin,lebih berat sehingga cenderung berputar earah anterior bila wanita mengambil posisi bersandar kedepan atau posisi tangan dan lutut (Sutton & scott,1994;E1 Halta,1996)’Sehingga,penting untuk menanyakan apakah kerja sama wanita dan bidan dapat mencegah masalah yang disebabkan atau diperbruk oleh praktisi lain.

b.      REPTUR UTERI
Walaupun dalam bagian ini penulis berkosentrasi pada komplikasi persalinan yang ada dengan atau secara dominan menggambarkan nyeri,ruptir uteri atau dehisens dapat menjadi pengecualian.Ketika kita berharap bahwa jika ruptur terjadi , hal ini akan terjadi selama persalinan,jarang terjadi sebelum awitan persalinan.
Nyeri rupture uteri bervariasi dan dominasinya tergantung pada keparahan tanda dan gejala yang menyertai ,yang selanjutnya berhubungan dengan luasnya rupture (Baskett,1985 di dalam buku (Rosemary Mander, 2004)).Nyeri rupture uteri ,mencaup nyeri tekan , dengan karakteristik nyeri tekan suprapublik kontinu yang persisten, diantara kontraksi.Derajat syok maternal dan janin yang terlibat tergantung pada waktu,ketiba-tibaan dan luasnya rupture.Pengaruh metode pengendalian nyeriyang lebih intervensif padakejadian rupture uteri dirinci oleh Molloy,dkk.(1987)yang menemukan peningkatan insiden rupture uteri ketika digunakan analgesia epidural.
Faktor predisposisi reptur uteri mencakup aktivitas uterus yang berlebihan,kerusakan miometrium sebelumnya dan persalinan traumatic.Saat ini,penatalaksanaan persalinan aktif (O’Driscoll & Meagher,1986) dan frekuensi operasi rahim,seperti seksio sesarea atau histeroktomi dapat bergabung untuk meningkatkan signifikansi komplikasi ini,Potensi rupture uteri yang menyebabkan adanya pepatah ‘sekali sesar,selalu sesar’ (Craigin,1916).Resiko rupture uteri dan kepatuhan pada pepatah ini tampak dalam perdebatan pada persalinan pervaginam setelah seksio sesarea (VBAC),yang semakin sengit diAmerika Utara akibat tingginya tingkat seksio sesaria disana (Nolan , 1990 di dalam buku (Rosemary Mander, 2004))

c.       INVERSIO UTERI
Seperti rupture,inversion uteri adalah bencana dalam persalinan yang membahayakan kehidupan wanita.Tidak seperti rupture uteri,inversion lebih mungkin terjadi selama kala lll persalinan (Oxorn,1986).Terdapat sejumlah factor predisposisi,termasuk berbagai bentuk kesalahan tatalaksana,seperti ‘penekanan fundus yang tidak tepat dan penarikan tali pusat’(Oxorn,1986;547 didalam buku (Rosemary Mander, 2004)).
Seperti rupture uteri,inversion bervariasi dalam keparahan dan dengan demikian , dalam derajat nyeri yang dialami wanita.Nyeri wanita diakibatkan oleh traksi pada ligamentum latum uteri.ligamentum uterus melalui perlekatannya pada kornu dengan dinding samping pelvis.Nyeri ini bersifat serius,tidak hanya karena nyeri ini sendiri,karena juga karna perburukan syok hipovolemik yang dapat mengancam jika plasenta telah epas (Baskett,1985).Dengan demikian syok penderita jauh lebih buruk daripada yang ditunjukkan oleh perdarahan (Rosemary Mander, 2004).

PENDEKATAN NYERI
Disepanjang buku ini penulis mencari kemungkinan terbesar interpretasi nyeri berkaitan dengan persalinan.Selain pendekatan yang luas ini,penting untuk menerima hubungan , yang telah disebutkan,antara persalinan dan nyeri.Dengan demikian,dalam menguji obat untuk nyeri dalam bab 8 dan 9,penulis terutama menyoroti pada nyeri persalinan dalam hal siapa atau apa yang menyertai atau membantu wanita dalam perjalanannya.selain itu nyeri lain (bukan-persalinan)dalam persalinan sering bersifat patologis;hal ini membutuhkan resolusi patologi disamping berhadapan dengan nyeri yang timbul.Hal ini tidak mengurangi relevansi pendekatan yang telah disebutkan dalam bab ini pada nyeri bukan-persalinan.Berbagi obat-obat ini mungkin digunakan pleh ibu dan pleh perawatnya dalam keadaan bukan-persalinan,tetapi penulis membahas intervensi khusus ketika mempertimbangkan berbagai penyebab nyeri tersebut (Rosemary Mander, 2004).
Oleh karena berbagai metode tersedia untuk membantu ibu dalam menghadapi nyeri persalinan,penting untuk mengelompokkan metode tersebut dengan menggunakan kerangka kerja teoretis.Penulis medis cenderung menggunakan kerangka kerja objektif;contohnya adalah pembagian farmakologis/bukan farmakologis (Chalmers,dkk..1989),atau bentuk tindakan (Simkin,1989) atau frekuensi penggunaan farkologis /bukan farmakologis (steer,1993).Kerangka kerja lain dapat dipilih,seperti berdasarkan siapa yang mengontrol metode atau sejauh mana menggambarkan pilihan maternal (mander,1997c).Namun,dalam bb berikut penulis mengombinasikan berbagai pendekatan dengan mulai membedakan metode bukan farmakoligi dan kemudian embagi metode tersebut.denan menggunakan kategori melzack dan wall (1991),menjadi modus operasi fisiologis.Untuk setiap metode penulis mempertimbangkan masukan dari ibu ,menjelaskan modus tindakan dan kemudian mengaplikasikannya dalam persalinan.kemudian dengan menarik dari data penelitian,penulis menemukan pokok permasalahan yang relevan bagi mereka yang terlibat dalam penggunaan setiap metode;ini akan mencakup ibu,janin/neonatus (atau “bayi”ketika diferensiasi tidak diperlukan),bidan,dan semua yang berperan atau mengalami.

1.      NON FARMAKOLOGI RASA TIDAK NYAMAN
Menghilangkan nyeri ialah hal yang penting. Bukan jumlah nyeri yang wanita alami, yang perlu dipertimbangkan, tetapi apakah ia memenuhi harapan dirinya sendiri dalam mengatasi rasa nyeri. Hal ini mempengaruhi persepsinya tentang pengalaman melahirkan sebagai “buruk” atau “baik.” Perawat yang mengobservasi mencari isyarat untuk mengidentifikasi tingkat keinginan wanita untuk mengontrol rasa nyeri.
Metode nonfarmakologi untuk meredakan rasa nyeri diajarkan dalam kelas persiapan melahirkan dalam berbagai bentuk. Tanpa mempertimbangkan apakah ibu dan pasangannya telah mengikuti kelas persiapan, pernah membaca buku atau majalah tentang masalah ini, perawat dapat mengajarkan teknik untuk meringankan rasa nyeri bersalin (Bobak, 2004).

Metode Persiapan Melahirkan, menurut (Bobak, 2004);
Dewasa ini hampir semua tenaga kesehatan merekomendasikan atau menawarkan kelas persiapan melahirkan untuk para calon orangtua, metode utama yang diajarkan di Amerika Serikat ialah;
1.      Metode Dick-Read atau metode melahirkan alami.
Grantly Dick-Read ialah seorang dokter Inggris yang menulis dua buku, Natural Childbirth (1993) dan Chilbirth Without Fear (1994). Ia menulis bahwa rasa nyeri melahirkan merupakan akibat pengaruh social dan sindrom takut-tegang-nyeri.
Untuk mengganti rasa takut tentang hal yang tidak diketahui melalui pemahaman dan keyakinan, program Dick-Read meliputi pemberian informasi tentang persalinan dan melahirkan, disamping nutrisi, hygiene, dan latihan fisik. Kelas-kelas ini mengajarkan tiga teknik : latihan fisik untuk membuat tubuh siap saat melahirkan, latihan relaksasi secara sadar; dan latihan pola napas.
Relaksasi secara sadar meliputi relaksasi progresif kelompok otot seluruh tubuh. Dengan berlatih, banyak wanita mampu berelaksasi sesuai perintah, baik selama kontraksi maupun diantara kontraksi.
Pola napas meliputi napas dalam pada abdomen hampir sepanjang masa bersalin, napas pendek menjelang akhir tahap pertama dan sampai pada waktu terakhir ini, menahan napas pada tahap kedua persalinan. Para pengajar metode Dick-Read berpendapat bahwa berat otot-otot abdomen terhadap uterus yang berkonsentrasi meningkatkan rasa nyeri. Wanita melahirkan diajar untuk mendorong otot-otot perutnya ke atas saat rahim naik selama suatu kontraksi. Dengan demikian otot-otot abdomen terangkat dari uterus yang berkontraksi.
Metode Dick-Read telah diadaptasi karena dukungan persalinan yang dahulu hanya dilakukan oleh perawat, saat ini dapat dilakukan oleh suami atau orang lain yang dipilih ibu.
2.      Metode Lamaze atau metode psikoprofilaktik.
Pada sekitar tahun 1960, metode Lamaze menjadi popular di Amerika Serikat, setelah Marjorie Karmel memperkenalkan metode psikoprofilaksis (PPM) dalam bukunya, Thank You, Dr. Lamaze. The Amarican Society for Psychoprohylaxis in Obstetrics (ASPO) didirikan pada tahun 1960 dan the National Association of Childirth Education, Inc. (NACE) dibentuk pada tahun  1970 untuk mempromosikan metode Lamaze dan mempersiapkan pengajar metode ini. Pada tahun 1971, the National Council of Chilbirth Education Specialists, Inc (CCES) didirikan untuk menawarkan seminar unuk melatih pengajar.
Metode Lamaze berasal dari karya Pavlov tentang classical conditioning. Menurut Lamaze, rasa nyeri merupakan respons bersyarat. Wanita juga dapat dikondisikan supaya tidak mengalami rasa nyeri pada saat melahirkan. Metode Lamaze membuat wanita berespons terhadap kontraksi rahim buatan dengan mengendalikan relaksasi otot dan pernapasan sebagai ganti berteriak dan kehilangan kendali (Lamaze, 1972). Strategi untuk mengatasi rasa nyeri ini antara lain memusatkan perhatian pada titik perhatian tertentu, misalnya, pada gambar yang sangat disukai supaya jalur saraf terisi oleh stimulus lain, sehingga jalur saraf itu tidak dapat memberi respon terhadap stimulus nyeri.
Wanita ini diajar untuk merelaksasikan otot-otot yang tidak terlibat saat ia mengontraksi kelompok otot tertentu. Ia akan menerapkan, yakni dengan merelaksasikan semua otot lain saat rahim berkontraksi. Wanita yang mengikuti kelas persiapam dengan memakai metode Lamaze selama tahap pertama persalinan mempertahankan control neuromuscular pada tingkat yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan wanita yang mempersiapkan diri dengan caranya sendiri (Bernardini, Maloni, Stegman, 1983). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cronenweet dan Brickman (1983) dan Mackey (1990), mempertahankan kendali erat kaitannya dengan rasa puas.
Pengajar-pengajar metode Lamaze percaya bahwa pernapasan dada mengangkat diafragma dari rahim yang berkontraksi sehingga menciptakan lebih banyak ruang bagi rahim untuk berkembang. Pola pernapasan dada bervariasi, sesuai intensitas kontraksi dan kemajuan persalinan. Para pengajar ini juga berusaha menghilangkan rasa takut dengan meningkatkan pemahaman tentang fungsi tubuh dan nyeri neurofisiologis. Dukungan pada saat bersalin diberikan oleh suami, orang lain, atau oleh tenaga ahli terlatih yang disebut monitrice.
3.      Metode Bradley atau metode melahirkan dengan bantuan suami.
Robert Bradley seorang ahli kandungan dari Denver, menulis Husband-Coached Childbirth pada tahun 1965, suatu metode yang menjelaskan apa yang disebutnya prsalinan alami yang sebenarnya, yakni tanpa tindakan anestesi atau analgesi dan dengan bantuan suami serta memakai teknik pernapasan khusus saat melahirkan. The American Academy of Husband-Coached Childbirth (AAHCC) didirikan untuk mempersiapkan para pengajar dan menyiapkan metode ini supaya dapat digunakan.
Metode Bradley didasarkan pada observasi perilaku binatang saat melahirkan dan menekankan keharmonisan tubuh, yakni dengan melakukan control pernapasan, pernapasan perut, dan relaksasi seluruh tubuh (Bradley, 1974). Teknik ini menekankan factor lingkungan seperti suasana gelap, menyendiri dan suasana tenang sehingga peristiwa melahirkan menjadi lebih alami. Ibu yang memakai metode Bradley sering tertidur saat bersalin, tetapi sebenarnya mereka berada dalam tingkat relaksasi mental yang dalam (Bobak, 2004).
Walaupun kehadiran ayah pada saat melahirkan tampaknya merupakan factor yang sangat penting bagi kebanyakan wanita, konsep ayah atau suami sebagai penolong persalinan mendapat kritikan dari beberapa pihakk (Klein, dkk., 1981). Beberapa pria tidak nyaman dalam memainkan peran ini, tetapi tetap dapat mendukung istrinya selama hamil dan bersalin (Bobak, 2004).

Perbandingan Metode Melahirkan , menurut (Bobak, 2004);
Banyak ahli dalam bidang persiapan persalinan sepakat bahwa penyebab utama nyeri melahirkan adalah rasa takut dan tegang. Semua metode berupaya mengurangi kedua factor tersebut dan meredakan nyeri dengan cara meningkatkan pengetahuan ibu tentang hal-hal yang akan terjadi pada suatu persalinan, meningkatkan kepercayaan diri dan rasa dapat mengendalikan keadaan, mempersiapkan individu yang akan mendampingi wanita pada saat melahirkan (biasanya suaminya), dan melatihnya melakukan persiapan fisik dan relaksasi pernapasan (Bobak, 2004).
Ada beberapa perbedaan kecil dalam cara pendekatan. Misalnya, pengajar-pengajar Bradley tidak menganjurkan wanita menggunakan obat, tetapi memusatkan perhatian ke dalam dirinya dan mempertahankan tubuhnya sendiri. Para pengajar metode Lamaze percaya bahwa penggunaan obat-obatan anti nyeri secara bijaksana merupakan tindakan tambahan yang tepat untuk melakukan teknik relaksasi memusatkan perhatian pada hal-hal eksternal, dan untuk upaya distraksi. Pada kenyataannya, hanya sedikit instruktur yang benar-benar mengajarkan hanya satu metode saja. Mereka biasanya menggabungkan berbagai strategi dengan tujuan bmeningkatkan kemampuan wanita dalam mengatasi persalinan dan menekan penggunaan obat-obatan (Bobak,2004).
Teknik ralaksasi dan teknik pernapasan
Memfokuskan dan relaksasi umpan balik
Beberapa wanita membawa barang-barang yang disukai untuk digunakan sebagai focus perhatiannya. Sebagian wanita memilih obyek yang ada di ruang bersalin. Saat kontraksi mulai timbul, mereka memusatkan perhatian pada obyek ini untuk mengurangi persepsi mereka terhadap nyeri. Teknik ini ditambah relaksasi umpan balik, membantu wanita bekerjasama dengan kontraksinya. Penolong persalinan membantu proses ini, member tahu calon ibu waktu yang tepat untuk mulai melakukan teknik pernapasan. Mekanisme umpan balik yang umum dilakukan ialah mengucapkan kata “rileks” pada awal suatu kontraksi dan terus mengucapkan kata tersebut sepanjang kontraksi, jika diperlukan. Setelah tingkat relaksasi diperiksa, teknik relaksasi pada periode prenatal dapat ditinjau kembali. Penolong juga berupaya supaya wanita tidak terganggu oleh pemeriksaan rutin, seperti pemeriksaan denyut jantung janin dan pemeriksaan untuk mengetahui kemajuan persalinan. Prosedur ini ditunda sampai kontraksi selesai (Bobak, 2004).

Teknik pernapasan
Pendekatan persiapan persalinan yang lain menekankan teknik yang berbeda dalam menggunakan pernapasan sebagai media yang membantu ibu mempertahankan control sepanjang kontraksi. Pada tahap pertama, teknik pernapasan dapat memperbaiki relaksasi otot-otot abdomen dan dengan demikian meningkatkan ukuran rongga abdomen. Keadaan ini mengurangi friksi (gesekan) dan rasa tidak nyaman antara rahim dan dinding abdomen. Karena otot-otot di daerah genetalia juga menjadi lebih rileks, otot-otot tersebut tidak menggangu penurunan janin. Pada tahap kedua, pernapasan dipakai untuk meningkatkan tekanan abdomen dan dengan demikian membantu mengeluarkan janin, keadaan ini juga dipakai untuk merelaksasi otot-otot pudendal untuk mencegah pengeluaran dini kepala janin (Bobak, 2004).
Pasangan yang telah melakukan persiapan dengan berlatih melakukan teknik semacam ini hanya akan memerlukan instruksi sekali saja. Mereka yang tidak melakukan persiapan sebelumnya dapat diberi instruksi untuk melakukan pernapasan sederhana dan relaksasi diawal persalinan. Cara ini seringkali, secara mengejutkan berhasil. Dengan realitas persalinan seperti ini motivasi menjadi tinggi dan kesiapan untuk belajar meningkat.
Ada berbagai pendekatan teknik pernapasan selama kontrkasi berlangsung. Perawat perlu memastikan informasi apa saja yang pernah diterima pasangan tersebut sebelum member insruksi tambahan. Umumnya pernapasan perut yang perlahan kira-kira separuh kecepatan normal pernapasan seorang wanita, dimulai ketika ibu tidak dapat lagi berjalan atau berbicara selama kontraksi berlangsung. Karena frekuensi dan intensitas kontraksi meningkat, wanita perlu mengganti teknik pernapasannya dengan pernapasn dada, pernapasan yang lebih dangkal dengan kecepatan kira-kira dua kali kecepatan pernapasan normal (Bobak, 2004).
Saat yang paling sulit untuk tetap mempertahankan control selama kontraksi tetap mempertahankan control selama kontraksi ialah saat dilatasi serviks mencapai 8-10 cm. Periode ini juga disebut periode transisi. Bahkan bagi wanita yang telah melakukan persiapan untuk persalinannya, konsentrasi pada teknik pernapasan sukar dipertahankan. Jenis yang dapat digunakan ialah pola perbandingan 4:1 yaitu napas, napas, napas, napas, hembus (seperti ketika meniup lilin). Perbandingan ini dapat meningkat menjadi 6:1 atau 8:1. Pola ini dimulai dengan menarik napas rutin untuk membersihkan dan diakhiri dengan membuang napas dalam untuk meniup kontraksi. Efek samping yang tidak diinginkan pada jenis pernapasan ini ialah hiperventilasi. Wanita harus diinformasikan tentang gejala-gejala alkalosis respiratoric melayang (lightheadedness), pusing, kesemutan pada jari, dan baal di daerah sirkumoral. Alkalosis dapat diatasi dengan meminta wanita menghembuskan napas kedalam kantung plastic yang ditempatkan di mulut dan hidungnya. Cara ini membuat wanita tersebut akan menghirup kembali karbondioksida dan mengganti ion bikarbonat. Ia dapat juga bernapas di dalam kedua tangan yang diletakkan melingkar di mulut dan hidungnya bila kantung plastic tidak tersedia (Bobak, 2004).
Saat kepala janin mencapai dalam dasar panggul, wanita akan merasakan keinginan untuk mendorong dan secara otomatis wanita itu akan mulai member tekanan kebawah dengan mengontraksi otot-otot abdomennya. Penurunan janin tidak dapat berlangsung sampai serviks terbuka lengkap dan bagian terbawah janin bebas bergerak ke bawah jalan lahir. Upaya mendorong sebelum pembukaan lengkap tercapai akan menekan serviks diantara kepala janin dan tulang panggul. Kompresi ini dapat menyebabkan denyut jantung janin tidak terdengar, edema serviks, atau robekan serviks. Bahkan juga dapat memperlambat proses dilatasi. Wanita ini dapat mengontrol keinginan untuk mendorong dengan menarik napas dalam atau dengan mengeluarkan bunyi seperti ketika mengekspresikan rasa terkejut bercampur takut. Ini merupakan cara bernapas yang baik digunakan saat kepala janin muncul perlahan (Bobak, 2004).

2.      FARMAKOLOGI RASA TIDAK NYAMAN

SEDATIF
Agens sedative, seperti barbiturate, berfungsi menurunkan ansietas, meningkatkan relaksasi, dan menginduksi rasa kantuk hanya pada masa prodormal atau pada tahap awal persalinan, dan jika tidak terdapat nyeri. Apabila wanita merasa nyeri, sedative tanpa kandungan analgesic dapat meningkatkan rasa khawatir dan menyebabkan ibu menjadi hiperaktif dan disorientasi. Efek yang tidak diinginkan meliputi depresi vasomotor dan depresi pernapasan baik pada ibu maupun pada bayi baru lahir. Karena factor-faktor yang tidak menguntungkan, barbiturate jarang digunajan (SCOTT, DKK., 1990) di dalam buku (Bobak, 2004).

Analgesik dan Anastesia
Penggunaan analgesia secara umum tidak diterima sebagai bagian dari penatalaksanaan obstetric sampai Ratu Victoria menggunakan kloroform saat melahirkan anaknya pada tahun 1853. Sejak saat itu, penilitian yang banyak dilakukan telah mengembangkan pendekatan non-farmakologi untuk mengontrol rasa tidak nyaman selama periode melahirkan. Tujuan penelitian ini ialah mengembangkan metode untuk mengurangi nyeri pada wanita tanpa meningkatkan resiko pada janin atau pada ibu atau mempengaruhi kemajuan persalinan.
Penatalaksanaan analgesia dan anesthesia obstetri dalam bidang keperawatan mengombinasikan ketrampilan perawat dalam bidang perawatan maternitas dengan pengetahuan dan pemahaman tentang anatomi dan fisiologi, efek samping yang diinginkan dan tidak diinginkan, serta metode pemberian agens-agens tersebut.
Anestesi meliputi penggunaan analgesia, amnesia dan aktivitas refleks. Anesthesia adalah suatu proses pelenyapan persepsi nyeri dengan menginterupsi impuls saraf yang menuju ke otak, hilangnya sensasi ini dapat sebagian atau seluruhnya, kadang-kadang disertai kehilangan kesadaran.
Istilah analgesia paling baik digunakan untuk menjelaskan kondisi, dimana sensasi nyeri hilang atau ambang persepsi nyeri seseorang meningkat. Penggunaan analgesia tidak menyebabkan keadaran hilang.
Analgesia dapat diinduksi oleh pengondisian positif (misalnya dengan metode Lamaze, imajiner relaksasi) dan obat-obatan analgesia. Pemahaman dasar tentang proses persalinan dan kelahiran normal serta persiapan fisiologis dan persiapan fisik yang adekuat dapat menurunkan persepsi nyeri selama proses melahirkan. Hal yang khususnya penting ialah perawatan antenatal yang adekuat secara luas. Upaya untuk menenagkan ibu dan pemberian nasehat akan sangat bermanfaat. Partisipasi dalam kelas persiapan kelahiran, seperti yang diajukan oleh Dick-Read (1959) atau psikoprofilaksis oleh Lamaze (1972) atau Bradley (1974), akan sangat membantu dalam menurunkan distress.

Anlgesik Sistemik
Analgesia sistemik tetap merupakan metode analgesia yang diberikan kepada wanita bersalin saat personel pemberi analgesia regional yang terlatih tidak berada di tempat (Scott, dkk., 1990). Analgesia sistemik menembus barier darah-otak untuk dapat member efek analgesic pusat. Analgesia ini juga menembus barier plasenta. Efek yang timbul pada janin bergantung kepada dosis maternal, farmakokinetik obat tertentu, dan rute serta waktu pemberian. Pemberian intra vena (IV) lebih sering dipilih daripada pemberian per intramuskuler (IM) karena awitan efek obat lebih cepat dan lebih dapat dipercaya. Kelas yang mengajarkan obat-obatan analgesic yang digunakan meliputi obat-obatan narkotika, campuran narkotika agonis-antagonis, dan tranquilizer. Tranquilizer yang digunakan ialah obat-obatan berpotensi-analgesik (ataraktik).

Senyawa Analgesik Narkotik
Analgesik narkotik, seperti meperidin (Demerol) dan fentanil (Sublimaze), terutama efektif untuk menurunkan nyeri berat, nyeri persisten, dan nyeri rekuren. Agens-agens ini juga tidak memberi efek amnesia. Meperidin mengatasi factor-faktor penghambat persalinan dan bahkan merelaksasi serviks.
Meperidin ialah agens narkitika yang paling sering diberikan kepada wanita bersalin (Scott, dkk., 1990). Setelah injeksi IV, awitan dating dengan cepat (30 detik) dan efek maksimum dicapai dalam lima sampai 10 menit. Efek puncak setelah injeksi IM dicapai dalam 40 sampai 50 menit, dengan durasi sekitar 3 jam. Untuk meminimalkan depresi neonatus, secara ideal proses kelahiran harus berlangsung kurang dari 1 atau lebih dari 4 jam setelah injeksi IM. Karena takikardi merupakan efek samping yang dapat timbul, meperidin digunakan dengan sangat hati-hati pada wanita yang menderita penyakit jantung.
Fentanil merupakan analgesic narkotika yang kerjanya cepat dan kuat. Setelah injeksi IV, awitan efek samping obat terjadi dalam dua menit dan berlangsung selama sekitar 30-60 menit. Awitan efek samping obat setelah injeksi IM timbul dalam 7-15 menit mencapai efek puncak dalam 20-30 menit, dan berlangsung selama 1-2 jam. System saraf ousat (SSP) tambahan dan depresi pernapasan terjadi jika fentanil diberikan bersama alcohol. Antihistamin, antidepresan, atau sedative atau hipnotik lain.

Senyawa Antagonis-Agonis Narkotik Campuran
Agonis adalah agens yang mengaktifkan sesuatu, sedangkan antagonis ialah agens yang menghambat supaya sesuatu tidak terjadi. Senyawa antagonis-agonis narkotika campuran, seperti butorfanol (Stadol) dan nalbufin (Nubain), dalam dosis yang digunakan selama persalinan, member efek analgesia tanpa menyebabkan depresi pernapasan pada ibu atau neonatus. Baik rute IM maupun IV digunakan dalam pemberian agens-agens tersebut. Butorfanol _1-3 mg IM ; 0,5-2 mg IV) atau nalbufin (0,2 mg/kg subkutan (SC)/IM ; 0,1-0,2 mg/kg IV) dapat diberikan selama tahap pertama persalinan.

Agens Pembangkit Efek Analgesik (Ataraktik)
Fenotiazin yang disebut obat tranquilizer mengandung materi yang meningkatkan sedikit efek analgesic yang tidak diinginkan atau analgesic umum, tetapi meningkatkan sebagian besar efek analgesic yang diinginkan. Ataraktik ini tidak meredakan nyeri, tetapi meningkatkan ansietas dan rasa takut, juga memiliki efek narkotika yang potensial. Efek potensial ini menyebabkan 2 jenis obat bekerja sama dengan lebih efektif sehingga penambahan ataraktik menyebabkan dosis narkotika dapat diturunkan. Agens penyebab analgesic mencakup senyawa, seperti prometason (Phenergan), propiomazin (Largon), hidroksizin (Vistaril), dn promazin (Sparine).
Selain itu, untuk menigkatkan efek analgesic, ataraktik (tranquilizer) juga berfungsi sebagai antinausea dan antimimetik. Kombinasi agens dapat diberikan secara aman sampai akhir tahap pertama persalinan. Dosis yang biasa diberikan adalah sebagai berikut : prometazin 25-50 mg IM atau 15-50 mg IM ; promazin 50 mg IM atau 5-10 mg IV ; hidroksin 25-50mg IM. Karena injeksi hidroksin diberikan hanya melalui injeksi IM, awitan efek menjadi lebih lambat dan kurang dapat diprediksi. Masalah pada janin atau neonatus jarang timbul akibat pemberian dosis ini.

Antagonis Narkotik
Agens narkotika, seperti mepiridin dan fentanil, dapat menimbulkan depresi SSP yang terlalu brat pada ibu atau pada bayi baru lahir. Antagonis narkotika seperti nalokson (narcan) dan naltrekson (trexan) membalik kerja narkotika dengan segera. Selain itu antagonis narkotika juga melawan efek endorphin, yakni menimbulkan stress. Endorphin merupakan opioid endogen yang disekresi oleh kelenjar hipofisis dan bekerja pada SSP dan SSPerifer untuk mengurangi nyeri. Beta-endorfin ialah jenis endorphin yang paling kuat. Fungsi fisiologis endorphin belum dimengerti sepenuhnya. Endorphin diduga meningkat selama masa hamil dan bersalin dan dapat meningkatkan kemampuan ibu yang sedang melahirkan sehingga ia dapat lebih menoleransi nyeri akut.

Anestesi dan Analgesia Blok Saraf
Berbagai senyawa obat digunakan dalam bidang obstetric untuk menimbulkan efek analgesia regional (menghilangkan nyeri ringan dan blok motorik) dan efek anesthesia (menghilangkan rasa nyeri dan blok motorik). Secara kimiawi sebagian besar obat ini berkaitan dengan kokain sehingga obat-obatan tersebut memiliki imbuhan –kain. Hal ini membantu dalam mengidentifikasi anestesi local.
Efek farmakologi utama anestesi local ialah interupsi sementara hantaran impuls saraf, khususnya hantaran nyeri. Contoh agens yang sering dipakai dan diberikan dalam larutan 0,5% sampai 1% ialah lidokain, bupivakain, kloroprokain, tetrakain, dan mepivakain.
Jarang ada individu yang sensitive (alergi) terhadap anestesi local. Sensitivitas dapat diidentifikasi dengan melakukan uji pada individu tersebut, yakni dengan member individu tersebut jumlah kecil obat yang akan dipakai. Apabila jumlah anestesi yang diberikan berlebihan mula-mula SSP terstimulasi. Stimulasi diikuti oleh depresi, hipotensi, dan efek-efek lain yang merugikan. Antropin, antihistamin, oksigen, dan tindakan suportif dapat memperbaiki keadaan.

Anesthesia Subaraknoid (Spinal)  
Blok subaraknoid (Spinal) suatu anestesi local disuntikan melalui ruang antarlumbar ketiga, (seperti yang diprogramkan oleh ahli anestesi) untuk menimbulkan difusi kearah bawah. Kemudian  wanita tersebut berbaring pada posisi telentang. Ia harus tetap berbaring telentang dengan kepala sedikit lebih tinggi. Awitan anstesi biasanya timbul dalam 1-2 menit setelah injeksi. Lama anestesi ialah 1 -3 jam, tergantung pada jenis anestesi yang dipakai.
Keuntungan anestesi spinal adalah pemberiannya mudah dan tidak terjadi hipoksia janin bila tekanan datah dipertahankan normal. Ibu tetap dalam keadaan sadar, relaksasi otot sangat baik, dan perdarahan tidak berlebih. Ibu yang tetap sadar dapat turut berpertisipasi dalam proses kelahiran anaknya. Biasanya tidak diperlukan obat anestesi lain (misalnya obat inhalasi). Apabila stirrups dipasang dengan hati-hati agar berada pada posisi yang tepat. Anestesi spinal dapat menjadi metode pilihan untuk wanita yang memiliki masalah pernapasan berat atau menderita penyakit hati, ginjal, atau penyakit metabolic karena metode ini mengurangi stress proses persalinan dan melahirkan pada system tersebut.
Kerugian anestesi spinal ialah adanya reaksi obat (misalnya alergi) mielitis kimia atau infeksi yang jarang, hipotensi, dan anestesi spinal tinggi disertai paralisis otot-otot pernapasan. Resusitasi jantung paru (RJP) mungkin perlu dilakukan. Apabila dilakukan pemberian anestesi spinal, kebutuhan untuk melakukan kelahiran opertif (episiotomy, ekstraksi forsep rendah) cenderung meningkat karena usaha volunteer untuk mengeluarkan janin lenyap. Setelah melahirkan terjadi peningkatan tedensi atoni kandung kemih, antoni rahim, dan nyeri kepala spinal.
Nyeri kepala setelah pungsi lumbal (spinal) kebocoran cairan serebrospinalis dari tempat pungsi di meniges (membrane yang membungkus medulla spinalis) dianggap sebagai factor penyebab utama nyeri kepala setelah pungsi lumbal. Nyeri kepala dapat terjadi secara postural dan hanya timbul jika kepala ditegakkan atau jika tubuh dalam posisi berdiri. Diduga dengan mengubah posisi penurunan volume cairan serebrospinalis menimbulkan tarikan pada struktur SSP yang sensitive terhadap nyeri. Nyeri kepala, masalah pendengaran dan penglihatan dapat sangat mengganggu sampai berhari-hari atau berminggu-minggu.

Anestesi Umum
Anestesi Umum jarang menjadi indikasi kelahiran pervaginam tanpa komplikasi. Anestesi ini mungkin diperlukan, jika ada kontraindikasi (termasuk jika pasien meolak) terhadap analgesia tau anestesi blok saraf atau jika indikasi janin harus dilahirkan (pervaginam atau per abdomen) denga cepat. Dengan metode ini ibu tidak sadar dan dapat bahaya depresi pernapasan dan muntah diikuti aspirasi. Pada wanita yang menderita hipovolemia, ansietas blok saraf. Natrium thiopental (Pentotal) merupakan obat yang sering dipakai untuk anestesi umum. Pemberian natroum thiopental secara IV ( 4mg/kg BB) menghasilkan induksi anestesi yang cepat dan dosis ini tidak menekan janin (Scott, dkk., 1990).
Apabila anestesi umum yang dipilih, perawat mempuasakan wanita tersebut dan memasang infuse IV. Apabila masih ada waktu perawat melakukan premidikasi dengan memberikan antacid oral, seperti natrium sitrat (30 ml) untuk meningkatkan pH lambung guna mentralkan kandungan asam di dalam lambung. Apabila waktu cukup, beberapa dokter juga memerintahkan pemberian bloker histamine, seperti simetidin untuk mengurangi produksi asam lambung dan metoklopramid untuk meningkatkan pengosongan lambung (Scott, dkk., 1990). Sebelum melakukan anesthesia letakkan sebuah ganjalan pada bagian bawah panggul kanan ibu untuk membuat rahim miring kekiri sehingga kompresi aorta yang mengganggu perfusi plasenta dapat dicegah. Kadang-kadang perawat diminta untuk membantu melakukan tekanan krikoid sebelum intubasi dilakukan. Prioritas tindakan di ruang pemulihan ialah mempertahankan saluran napas supaya tetap terbuka, mempertahankan fungsi kardiopulmoner, dan mencegah perdarahan pasca partum (nifas). Perawatan pascapartum rutin bermanfaat untuk mempercapat hubungna dekat ibu anak dan untuk menjawab pertanyaan ibu. Apabila diperlukan perawat mengkaji kesiapan ibu untuk melihat bayi dan responnya terhadap anestesi dan terhadap peristiwa yang membutuhkan anestesi umum (misalnya, menjalani operasi sesaria padahal sebelumnya diduga persalinan akan berlangsung pervaginam).

Anestesi kombinasi untuk melahirkan secara sesaria
Anestesi umum ringan dianggap oleh orang sebagai anestesi yang ideal untuk kelahiran sesaria. Efek anestesi ini dicapai dengan memberikan suatu kombinasi thiopental, oksigen-nitrogen oksida dan suksinilkolin. Ibu diberi oksigen dengan kadar 100% selama 3 menit, diikuti secara hamper berturut-turut pemberian thiopental dan suksinilkolin. Selama intubasi tekanan krikoid diperthankan, seringkali oleh perawat untuk mencegah aspirasi muntah. Saat berada dalam keadaan somnolen, wanita diberi campuran oksigen dan nitrogen oksida. Kebanyakan laporan mengatakan bahwa ibu menoleransi anestesi dengan sangat baik.

Analgesi Inhalasi
Inhalasi gas yang dilakukan ibu secara mandiri dapat menolong terutama pada kala kedua persalinan. Ibu menghirup anestesi inhalasi yang konsentrasinya subanestetik, seperti metoksifluran (Penthane). Apabila obat ini diberikan dengan tepat wanita akan tetap sadar tetapi rasa nyerinya jauh mereda. Anestesi ini dilakukan oleh ibu sendiri dalam bentuk kapsul dan masker yang diikatkan pada pergelangan tangan. Tenaga kesehatan mengatur konsentrasi yang diinginkan dan ibu menghirup obat ini saat terjadi kontraksi. Tujuan metode ini ialah ibu tetap sadar sementara mengalami analgesi yang dalam dan ibu juga mengalami amnesia terhadap peristiwa nyeri.
Perawat harus tetap mendampingi ibu dan tidak boleh member ibu obat karena dapat terjadi overdosis. Perawat juga harus memantau tanda-tanda vital setiap 30 menit dan DJJ setiap 15 menit. Wanita ini harus tetap sadar dan tidak menjadi delirium atau tegang. Perawat memberitahu tenaga kesehatan dan mencabut anestesi dari tangan wanita itu, jika timbul aritmia jantung, atau keasadaran hilang atau DJJ abnormal. Dewasa ini analgesi inhlasi ini jarang digunakan di Amerika Serikat.
Agens inhalasi lain meliputi halotan (Fluothane) dan nitrogen oksida. Inhalasi halotan merelaksasi rahim dengan cepat dan mempercepat manipulasi rahim, versi dan ekstraksi. Efek yang diharapkan ialah sensitivitas hilang terhadap sentuhan, nyeri, dan stimulus lain.
Suatu kombinasi 50% nitrogen oksida (gas tertawa) dengan oksigen 50% dapat diberikan untuk menghasilkan efek analgesi pada akhir kala pertama dan jika kontraksi terjadi pada periode mengedan di kala kedua. Pemberian nitrogen oksida konsentrasi rendah menghilangkan nyeri pada ibu, tetapi ibu tetap dapat mengedan sewaktu terjadi kontraksi pada kala kedua persalinan. Pada pemakaian analgesi/ anestesi nitrogen oksida, perhatian harus ditujukan untuk mencegah depresi pernapasan pada neonatus dan ibu (Bobak, 2004).


BAB III
PENUTUP






























DAFTAR PUSTAKA



Bobak. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas (4 ed.). Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (8 ed., Vol. 1). Jakarta: EGC.
Judith M. Wilkinson. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mochtar, R. (1998). Sinopsis Obstetri (2 ed.). Jakarta: EGC.
Nolan, M. (2004). Kehamilan & Melahirkan. Jakarta: EGC.
Priharjo, R. (1996). Perawatan Nyeri Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Istirahat Pasien. Jakarta: EGC.
Rosemary Mander. (2004). Nyeri Persalinan. Jakarta: EGC.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar