ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
dengan
HIV / AIDS
![]() |
Roudlotul
Badi’ah
SEMARANG
2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
makalah asuhan
keperawatan pada anakdengan hiv / aids.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak
akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis
menyampaikan terimakasih kepada :
Ns. ..........., Sp. Anak
Selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan memberikan bimbingan
sehingga asuhan
keperawatan pada anakdengan hiv / aids. bisa selesai tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat
membangun.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di masa kini
ataupun masa yang akan datang bagi pembaca umumnya dan tenaga kesehatan
khususnya.
Semarang, Juni 2014
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Acquired immune
deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya
system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.sedangkan human
immunodeficiency vius (HIV) merupakan virus yang menyerang system kekebalan
tubuh manusia yang kemudian mengakibatkan AIdS. HIV system kerjanya menyerang
jenis sel darah putih yang menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk
limfosit yang disebut T4 atau sl Tpenolong (T helper)atau juga sel CD4. HIV
tergolong ke dalam kelompok retrovirus karna virus ini mempunyai kemampuan
membentuk DNA dari RNA virus, sebab mempunyai enzim transcriptase reverse.
Enzim ini dapat menggunakan RNA virus
sebagai template untuk membentuk DNA yang kemudian berintregasi dalam kromosom
inang (bost) dan selanjutnya bekerja sebagai dasar untuk proses replikasi
HIV.juga dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengopi cetak materi genetic diri
di dalam materi genetic sel-sel yang ditumpanginyadan melalui proses HIV dapat
mematikan sel-sel T4 (Depkes: 1997).
HIV
mempunyai inti (nukleoid) yang berbentuk silindris dan eksentrik yang
mengandung genom RNA diploid dan enzim transcriptase reverse (RT),protease,dan
intregrase. Antigen kapsid (P24) menetupi komponen nukleoid tersebut sehingga
membentuk komponen nukleoid kapsid antigen P!& yang merupakan bagian dalam
simpul HIv. Bagian permukaan virion terdapat tonjolan yang terdiri atas molekul
glikoprotein (gp120) dengan bagian transmembran yang merupakan gp 41. Lapisan
lipid pada sampul HIV berasal dari membrane plasma sel inang (corry
S.matondang: 1996)
Dimulai
dengan melekatnya HIV pada sel inang melalui interaksi antara molekul gp 120
HIV dengan molekul CD4 sel inang. Melekatnya ini diikuti dengan fase membrane
sel HIV dengan membrane sel inang sehingga inti HIV masuk ke dalam sitoplasma
sel inang. Didalam sel inang terjadilah transkripsi DNA HIV dari RNA HIV oleh
enzim RT yaitu enzim polymerase spesifik HIV.DNA HIV yang terbentuk kemudian
berinteraksi dengan DNA sel inang dengan bentukan enzim integrase.DNA HIV yang
berintegrasi disebut proviral dan berperilaku seperti gen sel inang yang menggunakan
perlengkapan sel inang untuk membentuk HIV baru.
B. Tujuan
1. Tujuan
Umum
Setelah
pembelajaran mahasiswa diharapkan mampu memahami tentang asuhan keperawatan
pada klien dengan post partum.
2. Tujuan khusus
Setelah pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan
tentang:
a. Pengertian
HIV/AIDS
b. Etiologi
HIV/AIDS
c. Stadium
HIV/AIDS
d. Penanggulangan
HIV/AIDS
e. Voluntary
Counselling and Testing
f. Pengkajian
pada anak dengan HIV/AIDS
g. Masalah
yang muncul pada HIV/AIDS
h. Intervensi
pada HIV/AIDS
i.
Penatalaksanaan pada
HIV/AIDS
BAB II
PUSTAKA DAN ASKEP
A. Pengertian HIV / AIDS
HIV ( Human
Immunodefciency Virus ) adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat didalam cairan
tubuh seseorang yang telah terinfeksi di dalam darah, air mania tau cairan
vagina (Gunung, 20002). Sebelum HIV berubah menjadi AIDS tidak ada perbedaan
antara orang yang menderita HIV dengan orang normal. Penderita akan terlihat
sehat-sehat saja pada kurun waktu kira-kira 5-10 tahun. Walaupun tampak sehat,
mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak
aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian (IDU/
Injection Drug User).
AIDS
( Acquired Immune Deficiency Syndrome ) adalah kumpulan berbagai gejala
menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai
macam penyaikit, karena system kekebalan didalam tubuhnya telah menurun
(Sabrawi, 1996). Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS,
agar kita dapat terhindar dari HIV / AIDS, maka kita harus tahu bagaimana cara
penularan dan pencegahannya.
B. Etiologi
Banyak orang
yang mempunyai risiko tinggi untuk terkena AIDS. Oleh karena itu upaya preventif
dan kehati-hatian dari setiap individu harus selalu diperhatikan mengingat HIV
dapat ditularkan melalui beberapa cara,
diantaranya adalah (Ditjen PPm & PL Depkes, 2005) :
1. Hubungan
seks / heteroseksual / Homoseksual ( anal, oral, vaginal ) yang tidak
terlindung dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
2. IDU
/ Penggunaan jarum suntik secara bergantian.
3. Perinatal
/ Ibu hamil mengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya.
4. Tidak
diketahui / kemungkinann karena
kecelakaan di rumah sakit.
Khusus untuk kasus HIV
/ AIDS pada anak, paling besar karena factor perinatal. Dimana ibu sudah
menderita AIDS sebelumnya, entah itu karena didapat dari suami atau yang
lainnya. Kemungkinan yang lain adalah karena factor kecelakaan di rumah sakit
(klien mungkin terkena jarum suntik yang sudah terinfeksi virus HIV atau bisa
karena transfuse darah yang juga mengandung virus HIV ).
C. Patofiologi
HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia, yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai menghasilkan virus–virus HI.
Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang baru. Virus–virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakit–penyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang.
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel yang terinfeksi dan mengantikan sel–sel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya.
Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200 sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik.
Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistem kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi–infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal.
|
|
|












|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
D. Macam Infeksi HIV
Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV dibagi menjadi tiga Tahap :
1. Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam jaringan limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok, mialgia non-spesifik, dan meningitis aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu.
2.
Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis
dengan replikasi. virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan
CD4+ secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjar
limfe yang luas tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat mencapai beberapa
tahun. Pada akhir tahap ini terjadi demam, kemerahan kulit, kelelahan, dan
viremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.
3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya
pertahanan tubuh penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan
berat badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini
umumnya dikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap
semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/µl
sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum terlihat. ( Robbins, dkk, 1998 :
143 )
E. Periode Penularan HIV pada Ibu Hamil
1. Periode
Prenatal
Timbulnya HIV pada wanita hamil
diperkirakan meningkat (Minkoff, 1987). Sejarah kesehatan, uji fisik dan tes
laboratorium harus merefleksikan pengharapan ini jika wanita dan bayinya
menerima perawatan yang tepat. Para wanita yang termasuk dalam kategori
beresiko tinggi terhadap infeksi HIV mencakup:
a. Wanita
dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimana HIV merupakan
sesuatu yang umum.
b. Wanita
dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan melalui
pembuluh darah.
c. Wanita
yang menderita STD tetap dan kambuhan.
d. Wanita
yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.
e. Wanita
yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.
Tes
HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada awal mereka
memasuki perawatan prenatal. Namun, soronegativitas pada uji prenatal pertama
bukan jaminan untuk titer negative yang berlangsung. Misalnya, seorang wanita
berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan prenatal selama 8 minggu mempunyai
hasil tes western blot yang negative. Namun, setelah terinfeksi HIV, serum
antibody membutuhkan waktu sampai 12 minggu untuk berkembang. Tes western blot
harus diulangi dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga. Tes prenatal
rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang terinfeksi HIV.
Tes
ini juga dapat mengungkap Gonhorhea, Siphilis, Herpes yang tetap dan menjadi
lebih lama, C.Trakomatis, Hepatic B, Micobacterium tuberculosis, Candidiasis
(oropharingeal atau infeksi Vagian Chronic), Cytomegalo Virus (CMV), dan
Toxophlasmosis. Sekitar separuh penderita AIDS mengalami peningkatan titer CMV.
Karena masuknya penyakit CMV memiliki bahaya yang serius terhadap janin, para
wanita hamil dianjurkan dengan yang terinfeksi HIV. Sejarah vaksinasi dan
kekebalan telah didokumentasikan. Titer untuk cacar dan rubella ditentukan dan
tes kulit tuberkulosa (Derivasi protein yang dimurnikan/puriviet protein
derivatif (PPD)) telah dilakukan vaksinasi sebelumnya dengan vaksin rekonbivak
Hb dicatat karena vaksin tersebut berisi produk darah manusia (Vaksin ini sekarang
bebas dari darah manusia dan produk-produk darah). Wanita dapat menjadi calon yang menerima Rho
D Imunoglobulin. Penularan HIV belum ditemukan adanya vaksin Rh. Proses
persiapan melibatkan alcohol ethyl yang membuat virus tidak aktif. Vaksin ini dibuat
dari darah yang diambil dari kelompok donor regular yang tidak dikenali. Darah
yang digunakan untuk memproduksi vaksin menjalani tes darah yang dapat
mendeteksi darah adanya HIV (Francis, Chin, 1987, MMWR, 1987). Beberapa
ketidaknyamanan yang dihadapi pada masa prenatal (seperti kelelahan, anoreksia,
dan penurunan berat badan) menyiratkan tanda-tanda dan gejal-gejala infeksi
HIV.
Diagnosa
yang berbeda-beda terhadap seluruh keluhan dan gejala infeksi yang disebabkan
kehamilan dibenarkan. Tanda-tanda utama infeksi HIV yang semakin memburuk
mencakup turunnya berat badan lebih dari 10% dari berat badab sebelum
kehamilan, diare kronis lebih dari 1bulan dan demam (kambuhan atau konstan)
selama lebih dari 1 bulan. Untuk mendukung system, wanita hamil harus mendapat
nutrisi yang optimal, tidur, istirahat, latihan, dan reduksi stress. Jika
infeksi HIV telah didiagnosa, wanita tersebut diberitahukan mengenai
konsekwensi yang mungkin terjadi pada bayi.
2. Periode
Intrapartum
Perawatan
wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secara substansial untuk infeksi
tanpa gejala dengan HIV (Minkoff,1987). Cara kelahiran didasarkan hanya pada
pertimbangan obstetric karena virus melalui plasenta pada awal kehamilan. Fokus
utama pencegahn penyebaran HIV nosocomial
dan perlindungan terhadap pelaku perawatan. Resiko penularan HIV
dianggap rendah selama kelahiran vaginal.. EPM (Elektrinic Fetal Monitoring)
eksternal dilakukan jika EPM diperlukan. Terdapat kemungkinan inokulasi virus
ke dalam neonatus jika dilakukan pengambilan sempel darah pada bayi dilakukan
atau jika elektroda jangat kepala bayi diterapkan. Disamping itu, seseorang
yang melakukan prosedur ini berada pada resiko tertular virus HIV.
3. Periode
Postpartum.
Hanya sedikit
yang diketahui tentang tindakan klinis selama periode postpartum yang dapat
dilakukan pada wanita yang terinfeksi HIV. Walaupun periode postpartum
pertengahan tercatat signifikan (update, 1987), tindak lanjut yang lebih lama
telah mengungkap frekwensi penyakit kilinis yang tinggi pada ibu-ibu yang
anaknya menderita penyakit (Skott, 1985; Minkoff et al, 1987). Tindakan
pencegahan universal dilakukan terhadap ibu dan bayi, seperti yang dilakukan
terhadap semua pasien. Wanita dan bayinya diarahkan pada dokter yang
berpengalamn dalam pengobatan AIDS dan keadaan-keadaan yang menyertainya.
Pengaruh infeksi pada bayi dan neonatal mungkin tidak jelas. Karena virus yang
melalui plasenta, darah di tali pusat akan menunjukkan antibody HIV baik
apabila bayi terinfeksi ataupun tidak. Selama itu antibody yang melalui palang
plasenta mungkin tidak terdapat pada bayi yang tidak terinfeksi sampai usia 15
bulan. Ketika infeksi HIV menjadi aktif banyak infeksi lain yang biasa
menyertai pada orang dewasa terjadi pada bayi. Komplikasi yang menyertai
infeksi HIV pada bayi mencakup Enchephalopati, Microchephalli, Defisit
Kognitif, system saraf pusat (CNS/central nervous system) Lhympoma, Cerebro
Vaskuler Accident, gagal pernapasan dan Lhympaclenophaty.
F. Stadium HIV / AIDS
Menurut Gunung (2002), gejala dari HIV
/ AIDS dibagi menjadi tiga stadium, yaitu : stadium akut, infeksi kronis dan
AIDS.
1. Stadium
infeksi akut
Pada fase stadium akut
ini, tidak semuapenderota menunjukkna gejala yang spesifik, biasanya dalam
kurun waktu 3-6 minggu mengalami flu, panas dan rasa lelah yang berlangsung
selama 1-2 minggu. Gejala timbul gejala lain seperti :
a) Bisul
dengan bercak kemerahan, biasanya pada tumbuh bagian atas atau tidak gatal
b) Sakit
kepala
c) Sakit
pada otot – otot
d) Sakit
tenggorokan
e) Pembengkakan
kelenjar
f) Diare
( mencret )
g) Mual
– mual
h) Muntah
2. Stadium
infeksi kronis
Infeksi kronis mulai
3-6 minggu setelah tubuh terinfeksi. Karena pada saat terpapar tubuh memberikan perlawanan yang kuat terhadap virus HIV. Pada stadium ini
penderita tidak memperlihatkan gejala apapun dan bisa berlangsung sampai 10
tahun. Walaupun tidak menunjukkan gejala yang spesifik, system imunitas
penderita semakin menurun. Pada orang normal CD4 sebesar 450-12000 sel per ml,
sedangkan pada penderita semakin turun, dan apabila CD4-nya berada dibawah 200,
maka penderita sudah masuk pada stadium AIDS.
3. Stadium
AIDS
AIDS bukan penyakit
tersendiri melainkan merupakan sekumpulan gejala infeksi opotunistik yang
menyertai infeksi HIV tersebut. Disini
system imun sudah rusak, sehingga didapatkan gejala yang sudah mulai khas, dantaranya
adalah :
a) Selalu
merasa lelah
b) Pembengkakan
kelenjar pada leher atau lipatan paha
c) Panas
yang berlangsung lebih dari 10 hari
d) Keringat
malam
e) Penurunan
berat badan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya
f) Bercak
keungunan pada kulit yang tidak kunjung hilang
g) Pernafasan
memendek
h) Diare
berat yang berlangsung lama
i)
Infeksi jamur (
candida ) pada mulut, tenggorokan, vagina
j)
Mudah memar /
perdarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.
G. Penanggulangan HIV / AIDS
Dua puluh tahun yang lalu, pencegahan
epidemic HIV / AIDS merupakan sebuah tantangan yang nyata pada ilmu kesehatan
masyarakat. Sampai saat ini belum ada cara efektif melawan penyakit ini .
selain itu, obat – obatan yang tersedia di pasaran saat ini juga belum dapat
dimanfaatkan oleh semua penderita. Penanggulangan terhadap merebaknya penularan
HIV/AIDS dapat dilakukan denga berbagai upaya sebagai berikut :
1.
Upacaya Promotif
Program
pencegahan HIV / AIDS harus difokuskan pada pembentukan perilaku individu untuk
tidak terpapar pada rantai penularan HIV
/ AIDS, anatara melalui kontak seksual dan kontak jarum suntik. Bentuk
kegiatannya akan banyak berupa pendidikan pekerja (Worker Education) untuk
emningkatkan kesadarn akan risiko HIV / AIDS dan adopsi perilaku aman untuk mencegah kontak dengan rantai penularan
HIV / AIDS. Upaya promotif yang bisa dilakukan antara lain :
1.
Pelayanan Promotif :
meningkatkan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang HIV/AIDS.
2.
Promosi Perilaku
Seksual Aman (Promoting Sefer Sexual Behavior ).
3.
Promosi dan distribusi
kondom ( Promoting and Disitributing Condom )
4.
Norma Sehat di Tempat
Kerja : tidak merokok, tidak mengkonsumsi NAPZA.
5.
Penggunaan alat suntik
yang aman ( Promoting and Safer Drug Injection Behavior).
H. Upaya Preventif
Upaya pencegahan penyakit ini merupakan
cara yang terbaik untuk menekan terus meningkatnya kejadian penyakit dan
kematian akibat AIDS. Untuk pencegahan HIV/ AIDS, konseling merupakan
satu-satunya cara untuk mempromosikan berbagai perubahan perilaku masyarakat.
Untuk jangka panjang diharapkan masyarakat diharapkan akan mau mengadopsi
perubahan perilaku yang berisiko.
Konseling sangat mutlak diperlukan pada
saat seseorang mulai diketahui mengidap HIV. Penderita akan merasa kehilangan
harapan hidup dan tdak mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab tentang
hidupnya. Bagi individu atau kelompok yang berperilaku risiko tinggi, mereka
tidak mampu mengambil keputusan apakah anda melakukan test HIV / AIDS adalah
tentang menjaga rahasia penderita baik untuk keluarga partner seksnya. Degan
kondisi seperti itu, konseling sangat membant penderita untuk lebih berani
menerima kenyataan hidup setelah HIV masuk kedalam tubuhnya. Meraka dibantu
agar mampu berbuat sesuatu secara berimbang. Upaya preventif dapat dilakukan
dengan beberapa cara berikut :
1. Peningkatan
gaya hidup sehat
2. Memahami
penyakit HIV / AIDS , bahaya dan pencegahannya.
3. Memahami
penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.
4. Diadakannya
konseling tentang HV / AIDS pada pekerja secara sukarela dan tidak terpaksa.
I. Upaya Kuratif
Upaya kuratif bertujuan untuk merawat
dan mengobati ODHA ( orang dengan HIV /
AIDS. Pada saat ini terapi AIDS/HIV yang dilakukan adalah secara kimia
(Chemoterapy) yang menggunakan obat Anti Retroviral Virus (ARV) yang berfungsi
menekan perkembangbiakan virus HIV. Dalam terapi dengan menggunakan ARV ini
umumnya dilakukan dengan dengan cara kombinasi dengan beberapa jenis obat yang
lain. Upaya kuratif dapat dialakukan dengan cara sebagai berikut (Depkes, 2004)
:
1. Pencegahan
dan pengobatan IMS (Infeksi Menular Seksual).
2. Penyediaan
dan Transfusi darah yang aman.
3. Mencegah komlikasi dan penularan terhadap
keluarga dan teman sekerjanya.
4. Dukungan
social ekonomi ODHA.
Ada beberapa risiko relative seseorang terinfeksi HIV
setelah terpapar secara perkutaneus dari darah yang mengandung HIV. Jika hanya
melalui penglihatan / inspeksi tidaklah dapat diketahui apakah seseorang sudah
terinfeksi HIV atau tidak karena pada kenyataannya, pengidap HIV umumnya
terlihat sangat sehat. Satu – satunya cara untuk mengetahui hal ini adala
dengan melalui tes darah HIV. Tes ini harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu
:
1. Bersifat
rahasia.
2. Atas
persetujuan dari orang yang akan di tes.
3. Bersifat
sukarela atau tidak boleh dipaksa.
4. Disertai
dengan konseling.
Factor risiko tinggi terkena AIDS
tersebut adalah : luka yang dalam, tampak darah pada kulit, prosedur pasang
jarum pada vena atau arteri serta pasien dengan AIDS terminal ( CDC , 2001 ).
J. Gejala HIV AIDS
K. Pemeriksaan diagnostic
L. Pengobatan
M. Voluntary Counselling and Testing
Menurut organisasi kesehatan sedunia
(WHO), VCT HIV / AIDS merupakan komunikasi yang bersifat rahasia anatara klien
dengan konselor yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam
menghadapi stress serta mengambil keputusan yang berkaitan dengan HIV / AIDS.
Proses konseling itupun sudah termasuk dalam hal evaluasi risiko personal
penularan HIV, fasilitas pencegahan perilaku dan evaluasi penyesuaian diri
ketika klien mengahadapi hasil test positif (Depkes, 2004).
Layanan VCT ini dapat digukaan untuk
mengubah perilaku berisiko dan memberikan informasi tentang pencegahan HIV.
Disini klien diharapakan mendapatkan pengetahuan tentang cara penularan,
pencegahan, dan pengobatan HIV. Sebagai contoh : yang steril dan tidak saling
pinjam meminjam bagi pengguna narkoba
suntik. Seorang konselor dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang
hubungan antara infeksi menular seksual (IMS) dengan HIV serta dapat merujuk
klien ketika IMS perlu dikenali dan diobati lebih lanjut.
Konseling HIV / AIDS harus dilakukan
secara terarah dan difokuskan pada kebutuhan fisik, social, psikologik, serta
spiritual klien. Hal penting yang harus
dipertimbangkan oleh setiap konselor adalah : masalah infeksi dan penyakit,
kematian, kesedihan, diskriminasi , social, seksualitas, gaya hidup serta
pencegahan penularan. Dalam melakukan
konseling, ada tahap – tahapan yang harus dilalui oleh seorang konselor, adapun
tahap tersebut adalah (Depkes, 2004) :
1. Tahap
Satu, dalam tahap ini seorang konselor harus membangun hubungan yang baik serta
membina kepercayaan dengan klien, adapun caranya adalah sebagai berikut :
a.
Meyakinkan kerahasiaan
dan mendiskusikan batas kerahasiaan pada klien selama menjalani konseling.
b.
Mengizinkan ventilasi,
dalam arti klien dibiarkan untuk mengungkapkan segala perasaannya tanpa adanya
paksaan dari konselor.
c.
Mengizinkan ekspresi
perasaan klien, untuk mengetahui adanya ketakutan maupun kecemasan yang dirasakannya.
d.
Menggali masalah,
meminta klien menceritakan kisah mereka dan tidak ada yang disembunyikan dari
petgas demi terciptanya pemecahan
masalah yang tepat.
e.
Memperjelas harapan
klien untuk konseling.
f.
Menjelaskan apa yang
dapat konselor tawarkan dan cara kerjanya.
g.
Pernyataan dari
konselor tentang komitmen mereka untuk bekerjasama klien.
2. Tahap
Dua, dalam tahap ini diungkapkan mengenai definisi dan pengertian peran,
batasan serta kebutuhannya yang meliputi :
a. Mengemukakakn
peran dan batas dari hubungan dalam konseling.
b. Memaparkan
dan mengklarifikasi tujuan dan kebutuhan klien.
c. Membantu mengurutkan prioritas tujuan dan kebutuhan
klien.
d. Melakukakan
pengambilan riwayat secra rinci, menceritakan riwayat dengan sedetil – detilnya.
e. Menggali
keyakinan, pengetahuan dan perhatian klien terhadap masalah kesehatan yang
dihadapinya.
3. Tahap
Tiga merupakan proses dukungan konseling berkelanjutan yang meliputi :
a. Melanjutkan
ekspresi pikiran dari klien.
b. Mengenali
berbagai alternative dari pemecahan masalah yang ada.
c. Mengenali
berbagai ketrampilan penyesuaian diri yang sudah ada.
d. Mengembangkan
ketrampilan penyesuaian diri lebih
lanjut.
e. Mengevaluasi
alternative pemecahan masalah dan dampaknya.
f. Memungkinkan
perubahan perilaku dari klien setelah konseling.
g. Mendukung
dan mempertahankan bekerja dengan masalah klien.
h. Memonitor
perjalanan kemajuan menuju tujuan.
i.
Rencana alternative
yang dibutuhkan.
j.
Rujukan sesuai
kebutuhan.
4. Tahap
empat merupakan penutup atau mengakhiri hubungan koseling yang dapat dilakukan
dengan cara :
a. Klien
bertindak sesuai dengan rencana yang telah disusunnya.
b. Klien
menatalaksanai dan menyesuaikan diri dengan fungsi sehari-hari.
c. System
dukungan yang tersedia yang dapat di akses.
d. Kenali
strategi untuk memelihara perubahan yang sudah terjadi.
e. Diskusi
dan rencanakan pengungkapan status.
f. Interval
perjanjian diperpanjang.
g. Sumber
dana rujukan yang tersedia dan diketahui serta dapat diakses .
h. Meyakinkan
klien tentang pilihan untuk kembali mengikuti konseling sesuai dengan
kebutuhan.
N. Masalah Yang Lazim Muncul Pada Klien HIV / AIDS
a. Kelelahan
berhubungan dengan status penyakit, anemia, melnutrisi.
b. Nyeri
akut / kronis berhubungan dengan infeksi, nyeri abdomen.
c. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan pencernaan.
d. Diare
berhubungan dengan proses penyakit.
O. Discharge Planning
a. Ajarkan
pada anak dan keluarga untuk menghibungin tim kesehatan bila terdapat tanda –
tanda atau gejala infeksi.
b. Ajarkan
pada anak dan keluarga untuk mengamati respone terhadap pengobatan dan
memberitahu dokter tentang adanya efek samping.
c. Ajarkan
pada anak dan keluarga tentang penjadwalan pemeriksaan lebih lanjut.
P. Rencana Keperawatan
1.
kelelahan
berhubungan dengan status penyakit, anemia, malnutrisi
v Endurance
v Concentration
v Energy
Conservation
v Nutritional
status : energy
Kriteria hasil :
v Memverbalisasikan
peningkatan energi dan merasa lebih baik
v Menjelaskan
penggunaan energi untuk mengatasi kelelahan
v Observasi
adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
v Dorong
anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
v Kaji
adanya factor yang menyebabkan kelelahan
v Monitor
nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v Monitor
pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v Monitor
respon kardivaskuler terhadap aktivitas
v Monitor
pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
2.
Nyeri
akut/kronis berhubungan dengan infeksi, nyeri abdomen
Definisi :
Sensori
yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau
potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi
Study Nyeri Internasional): seranagan mendadak atau pelan intensitasnya dari
ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi
dan dengan durasi kurang dari 6 bula.
Batasan karakteristik :
ü Laporan
secara verbal atau non verbal
ü Fakat
dari observasi
ü Posisi
antalgic untuk menghindarinyeri
ü Gerakan
melindungi
ü Tingkah
laku berhati-hati
ü Muka
topeng
ü Gangguan
tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
ü Terfokus
pada diri sendiri
ü Fokus
menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakanproses berpikir, penurunan
interaksi dengan orang dan lingkungan)
ü Tingkah
laku distraksi, contoh: jalan-jalan, menemui orang lain/atau aktivitas,
aktivitas berulang-ulang
ü Respon
autonom (seperti diaphorhesis, perubahan tekanan darah,perubahan nafas, nadi
dan dilatasi pembuluh pupil)
ü Perunhan
aautonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)
ü Tingkah
laku ekspresif ( contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, irritabel,
nafas panjang / berkeluh kesah)
ü Perubahan
dalam makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injury ( biology, kimia,fisik,
psikologis)
ü pain level
ü pain control,
ü cpmfort level
ü mampu
mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
ü melaporkan
bahwa nyeeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri)
ü mampu
mengenali nyeri ( skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
ü menyatakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang
ü lakukaan
pengkajian nyeri secara komphrehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi)
ü observasi
reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
ü gunakan
teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
ü kaji
kultur yang mempengaruhi respon nyeri
ü evaluasi
pemgal.aman nyeri masa lalu
ü evaluasi
bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
masa lampau
ü bantu
pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
ü kontrol
lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
ü kurangi
faktor presipitasi nyeri
ü pilih
dan lakukan penanganan nyeri ( farmakologi, non faramakkologi dan inter
personal)
ü kaji
tipe dan sumbernyeri untuk menentukan intevensi
ü ajarkan
tentang teknik non farmakologi
ü berikan
analgetik untuk mengrangi nyeri
ü evaluasi
ketidak efektifan komtrol nyeri
ü tingkatkan
istirahat
ü kolaborasi
dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
ü monitor
penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
ü tentukan
lokasi , karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
ü cek
instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
ü cek
riwayat alergi
ü pilih
analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih
dari satu
ü tentukan
pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
ü tentukan
analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
ü pilih
ryte pemberian secara IV<IM untuk pengibatan nyeri secara teratur
ü memonitor
vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
ü berikan
analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
ü evaluassi
efektifitas analgesik, tanda dan gejala ( efek samping)
3.
ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhbungan dengan gangguan pencernaan
Definisi : intake nutrisi tiak cukup
untuk keperluan metabolisme tubuh
Batasan karalteristik :
ü Berat
badan 20% tau lebih dibawah ideal
ü Dilaporkan
adanyta intake makanan yang kurang dari RDA (
Recomended Daily Allowance)
ü Membran
mukosa dan konjungtiva pucat
ü Kelemahaan
otot yang digunanan untuk menelan / mengunyah
ü Luka,
inflamasi dalam rongga mulut
ü Mudah
merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
ü Dilaporkan
atau fakta adanya kekurangan makanan
ü Dilaporkan
adanya perubahan sensasi rasa
ü Perasaan
ketidak mampuan untukmengunyah makanan.
ü Miskonsepsi
ü Kehilangan
BB dengan makanan cukup
ü Keenggangan
untuk mkan
ü Kram
pada abdomen
ü Tonus
otot jelek
ü Nyeri
abdominak dengan atau tanpa patologi
ü Kurang
berminat terhadap makanan
ü Pembuluh
darah kapiler mulai rapuh
ü Diare
danatau steatorrhea
ü Kehilangan
rambut yang cukup banyak ( rontok)
ü Suara
usus hiperaktif
ü Kurangnya
informasi, misinformasi
Faktor
– faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorbsi zat – zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis , psikologisatau ekonomi
ü Nutritional
Status
ü Nutritional
status : food and fluid intake’
ü Nutritional
status l nutrient intake
ü Weight
control
ü Adanya
peningktatan berat badan sesuai dengan tujuan
ü Beratbadan
ideal sesuai dengan tinggi badan
ü Mampu
mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
ü Tidak
ada tanda – tanda malnutrisi
ü Menunjukan
peningkatan fungsu pengecaoan dari menelan
ü Tidak
terjadi penurunan berat badan yang berarti
ü Kaji
adanya alergi makanan
ü Kolaborasi
dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien
ü Anjurkan
pasien untuk meningkatkan intake Fe
ü Anjurkan
pasien untuk meningkatkan protein dan Vitamin C
ü Berikan
substansi gulaYakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasia
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata
Klien
2. Riwayat
Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan
petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga
mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat
muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar
timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik
yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia
aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit
seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status
imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi
yang berhubungan dengan kelainan hospes :
§ Kerusakan
respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik,
limfoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.
§ Kerusakan
imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia
congenital, protein liosing enteropati (peradangan usus)
3. Pemeriksaan
Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)
a) Aktifitas
/ Istirahat
-
Gejala : Mudah
lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
-
Tanda : Kelemahan
otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD,
frekuensi Jantun dan pernafasan ).
b) Sirkulasi
-
Gejala : Penyembuhan
yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
-
Tanda : Perubahan TD
postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan
pengisian kapiler.
c) Integritas
dan Ego
-
Gejala : Stress
berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa,
putus asa,dan sebagainya.
-
Tanda :
Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
d) Eliminasi
-
Gejala : Diare
intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri
panggul, rasa terbakar saat miksi
-
Tanda : Feces encer
dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan
abdominal, lesi atau abses rectal, perianal, perubahan jumlah, warna dan
karakteristik urine.
e) Makanan / Cairan
-
Gejala : Anoreksia,
mual muntah, disfagia
-
Tanda : Turgor kulit
buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
f) Hygiene
-
Gejala : Tidak dapat
menyelesaikan AKS
-
Tanda : Penampilan
tidak rapi, kurang perawatan diri.
g) Neurosensoro
-
Gejala : Pusing, sakit
kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan
otot,tremor,perubahan penglihatan.
-
Tanda : Perubahan
status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
h) Nyeri
/ Kenyamanan
-
Gejala : Nyeri umum /
local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
-
Tanda : Bengkak sendi,
nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
i)
Pernafasan
-
Gejala : ISK sering
atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
-
Tanda : Takipnea,
distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
j)
Keamanan
-
Gejala : Riwayat
jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam
berulang,berkeringat malam.
-
Tanda : Perubahan
integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar
limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
k) Seksualitas
-
Gejala : Riwayat
berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnya libido, penggunaan pil
pencegah kehamilan.
-
Tanda :
Kehamilan,herpes genetalia.
l)
Interaksi Sosial
-
Gejala : Masalah yang
ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian, adanya trauma AIDS.
-
Tanda : Perubahan
interaksi.
4. Pemeriksaan
Diagnostik
a) Tes
Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes
diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan
laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency
Virus (HIV)
î Serologis
-
Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil
tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
-
Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
-
Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
-
Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
-
T8 ( sel supresor
sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel
suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
-
P24 ( Protein
pembungkus HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi
progresi infeksi
-
Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau
mendekati normal
-
Reaksi rantai
polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel
perifer monoseluler.
-
Tes PHS
Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin
positif
î Neurologis
-
EEG, MRI, CT Scan
otak, EMG (pemeriksaan saraf)
-
Tes Lainnya
-
Sinar X dada
-
Menyatakan
perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi
lain
-
Tes Fungsi Pulmonal
-
Deteksi awal pneumonia
interstisial
-
Skan Gallium Ambilan
difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
-
Biopsis
-
Diagnosa lain dari
sarcoma Kaposi
-
Bronkoskopi /
pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan
kerusakan paru-paru
î Tes
Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi
antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu
setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa
orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi
antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan
memudahkan evaluasi diagnostic. Pada tahun 1985 Food and Drug Administration
(FDA) memberi lisensi tentang uji kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi
semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
-
Tes Enzym – Linked
Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang
secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).
ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang
terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang
yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV)
disebut seropositif.
-
Western Blot Assay
Mengenali antibody Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human
Immunodeficiency Virus (HIV)
-
Indirect
Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot
untuk memastikan seropositifitas.
-
Radio Immuno
Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada
antibody.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan.
3. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare
4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.
C. Rencana Keperawatan
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
dan Kriteria hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup
yang beresiko.
|
Pasien
akan bebas infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam
dengan kriteria hasil:
-
Tidak ada luka atau
eksudat.
-
Tanda vital dalam
batas normal (TD=110/70, RR=16-24, N=60-100, S=36-37)
-
Pemeriksaan leukosit
normal (6000-10000)
|
1.
Monitor tanda-tanda
infeksi baru.
2.
gunakan teknik
aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
3.
Anjurkan pasien
metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
4.
Kumpulkan spesimen
untuk tes lab.
5.
Atur pemberian
antiinfeksi sesuai advice dokter.
|
1.
Untuk pengobatan
dini
2.
Mencegah pasien
terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit.
3.
Mencegah
bertambahnya infeksi
4.
Meyakinkan diagnosis
akurat dan pengobatan
5.
Mempertahankan kadar
darah yang terapeutik
|
2
|
Resiko
tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi
nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
|
Infeksi
HIV tidak ditransmisikan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam dengan kriteria hasil:
-
kontak pasien dan
tim kesehatan tidak terpapar HIV
-
Tidak terinfeksi
patogen lain seperti TBC.
|
1.
Anjurkan pasien atau
orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen
lainnya.
2.
Gunakan darah dan
cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.
|
1.
Pasien dan keluarga
mau dan memerlukan informasikan ini
2.
Mencegah transimisi
infeksi HIV ke orang lain
|
3
|
Resiko
tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih
sekunder terhadap diare
|
Defisit
volume cairan dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1×24 jam dengan criteria hasil:
-
perut lunak
-
tidak tegang
-
feses lunak, warna
normal
-
kram perut hilang,
|
1.
Kaji konsistensi dan
frekuensi feses dan adanya darah.
2.
Auskultasi bunyi
usus
3.
Atur agen
antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter.
4.
Berikan ointment A
dan D, vaselin atau zinc oside
|
1.
Mendeteksi adanya
darah dalam feses
2.
Hipermotiliti mumnya
dengan diare
3.
Mengurangi motilitas
usus, yang pelan, emperburuk perforasi
pada intestinal
4.
Untuk menghilangkan
distensi
|
D. Implementasi
a.
Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang
beresiko.
Imlementasi :
1.
Memonitor tanda-tanda infeksi
baru.
2.
Menggunakan teknik
aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
3.
Menganjurkan pasien
metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
4.
Menguumpulkan spesimen
untuk tes lab.
5.
Mengatur pemberian
antiinfeksi sesuai advice dokter.
b.
Resiko
tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi
nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
Imlementasi :
1.
Menganjurkan pasien
atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen
lainnya.
2.
Menggunakan darah dan
cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.
c.
Resiko
tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder
terhadap diare.
Implementasi :
1.
Mengkaji konsistensi
dan frekuensi feses dan adanya darah.
2.
Mengauskultasi bunyi
usus
3.
Mengatur agen
antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter.
4.
Memberikan ointment A
dan D, vaselin atau zinc oside
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan makalah yang
berjudul “Asuhan Keparawatan dengan HIV/AIDS” selama satu hari.penulis akan
mengemukakan konsep dasar yang dihubungkan dengan tahap proses keperawatan
serta menguraikan kesenjangan antaran konsep dasar dengan kasus.
Dalam melakukan pengkajian,penulis menggunakan alloanamnase
dan autoanamnase, sehingga diperoleh data primer dan sekunder. Selain wawancara
penulis juga menggunakan teknik observasi,pemeriksaan fisik dan catatan serta
laporan diagnostic dalam mengumpulkan data.Pengkajian ini tidak mengalami
kesulitan karena pasien dan keluarganya cukup kooperatif.
Format pengkajian yang digunakan penulis hampir sama dengan
pengkajian yang ada dalam teori, yaitu pola aktivitas dan latihan ( pasien
sesak nafas saat beraktivitas/ beristirahat, mudah lelah ), pola eliminasi (
mengalami penurunan buang air kecil, air
kencing berwarna gelap, nokturia), pola nutrisi dan metabolic ( anoreksia,
mual, muntah), pola istirahat dan tidur ( sesak saat berbaring yang mengganggu
istirahat pasien ).
Pada pemeriksaan penunjang terdapat pemeriksaan laboratorium
di catatan medis pasien. Selain itu, dilakukan pemeriksaan Kultur HIV, LED. Di
dalam pengkajian, penulis tidak mengalami hambatan karena sudah terbinanya hubungan
saling percaya anatara penulis dengan pasien terutama dengan keluarga pasien.
Penulis melakukan pengkajian pada tanggal 29 Juni 2014 pukul
09.00 WIB. Pengkajian yang dilakukan sudah sepenuhnya sesuai dengan konsep
teori. Dalam melakukan asuhan keperawtan ini, penulis memerhatikan tahapan
proses keperawatan meliputi : pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi,
dan evaluasi. Selama memberikan asuhan kperawatan tersebut masalah yang timbul
adalah;
1. Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang
beresiko.
Diagnose diatas, penulis periotaskan
menjadi diagnose keperawatan yanga pertama karena Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko merupakan hal yang paling utama dalam
penyakit HIV yang harus segera dipenuhi.
Adapun
asuhan keperawatan yang penulis tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi
infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang
beresiko : Monitor tanda-tanda infeksi baru, gunakan teknik aseptik pada setiap
tindakan invasive, Cuci tangan sebelum meberikan tindaka, Anjurkan pasien
metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang pathogen, Kumpulkan spesimen
untuk tes lab, Atur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
Implementasi keperawatan, perawat telah
melakukan tindakan yang sudah sesuai dengan intervensi keperawatan yang di
susun oleh penulis yaitu, Memonitor
tanda-tanda infeksi baru, Menggunakan teknik aseptik pada setiap tindakan
invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan, Menganjurkan pasien metoda
mencegah terpapar terhadap lingkungan yang pathogen, Menguumpulkan spesimen
untuk tes lab, Mengatur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
Berdasarkan tujuan dan kriteria
hasil yang sudah di tetapkan masalah gangguan Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. Penulis
memutuskan untuk mempertahankan intervensi yaitu Monitor tanda-tanda infeksi
baru, gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasive, Cuci tangan sebelum
meberikan tindaka, Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan
yang pathogen, Kumpulkan spesimen untuk tes lab, Atur pemberian antiinfeksi
sesuai advice dokter.
2. Resiko
tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi
nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
Diagnose diatas, penulis periotaskan
menjadi diagnose keperawatan yang kedua karena menurut hukum Fnank-Starling, )
berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat di
transmisikan..
Adapun asuhan keperawatan yang
penulis tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi infeksi (kontakpasien)
selama 1 x 24 jam antara lain anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode
mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya, gunakan darah dan cairan
tubuh precaution bial merawat pasien, gunakan masker bila perlu.
Berdasarkan tujuan dan kriteria
hasil yang sudah di tetapkan masalah Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) . Penulis
memutuskan untuk mempertahan kan intervensi yaitu anjurkan pasien atau orang
penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya, gunakan
darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien, gunakan masker bila
perlu.
3. Resiko
tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder
terhadap diare.
Diagnose diatas, penulis periotaskan
menjadi diagnose keperawatan yang karena ke tiga Resiko tinggi defisit volume
cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare.
Adapun asuhan keperawatan yang penulis
tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi defisit volume cairan 1 x 24 jam
antara lain kaji konsistensi dan frekuensi
feses dan adanya darah, auskultasi bunyi usus, atur agen antimotilitas
dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter, berikan ointment A dan D, vaselin
atau zinc oside
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
AIDS adalah penyakit
yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler yang disebbkan oleh retrovirus
(HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana kebanyakan pasien memrlukan
perawatan medis dan keperawatan canggih selama perjalananpenyakit.
Penyebab penyakit AIDS
adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus yang biasanya menyerang
organ – organ vital system kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat
ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi pathogen di dalam darah, dan
penularan masa perinatal. Manifestasi klinis lainnya sering ditemukakan pada
anak adalah pneumonia interstisialis limfosik, yaitu kelainan yang mungkin
langsung disebabkan oleh HIV pada jaringan paru.
Komplikasi Oral Lesi:
karena kandida, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Pemriksaan penunjang
seperti : Tes untuk diagnose infeksi HIV.
1. ELISA,
latex agglutination
2. Western
blot (positif)
3. Tes
antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR
4. Kultur
HIV
B. Saran
1. Memberikan
support kepada penderita HIV agar tidak putus asa
2. Mencegah
penyebaran HIV dengan pemeriksaan kesehatan anda dan anak secara rutin
3. Dan
kita sebagai perawat terus memberikan asuhan keperawtan kepada penderita agar
cepat sembuh dalam pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
A. Aziz Alimul Hidayat. (2006). Pengantar Ilmu
Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Judith M. Wilkinson.
(2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan (Rivisi ed.). Jakarta: EGC.
Marilyn E. Doenges.
(2000). Rencana Asuhan Keperawtan (3 ed.). Jakarta: EGC.
Sujono Riyadi.
(2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar