Minggu, 01 November 2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS



ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
dengan
 HIV / AIDS



 







Roudlotul Badi’ah

SEMARANG
2014





KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah asuhan keperawatan pada anakdengan hiv / aids.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :
Ns. ..........., Sp. Anak Selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan memberikan bimbingan sehingga asuhan keperawatan pada anakdengan hiv / aids. bisa selesai tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di masa kini ataupun masa yang akan datang bagi pembaca umumnya dan tenaga kesehatan khususnya.


Semarang,   Juni 2014


penulis







 

BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar belakang

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.sedangkan human immunodeficiency vius (HIV) merupakan virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia yang kemudian mengakibatkan AIdS. HIV system kerjanya menyerang jenis sel darah putih yang menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T4 atau sl Tpenolong (T helper)atau juga sel CD4. HIV tergolong ke dalam kelompok retrovirus karna virus ini mempunyai kemampuan membentuk DNA dari RNA virus, sebab mempunyai enzim transcriptase reverse. Enzim ini dapat menggunakan RNA  virus sebagai template untuk membentuk DNA yang kemudian berintregasi dalam kromosom inang (bost) dan selanjutnya bekerja sebagai dasar untuk proses replikasi HIV.juga dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengopi cetak materi genetic diri di dalam materi genetic sel-sel yang ditumpanginyadan melalui proses HIV dapat mematikan sel-sel T4 (Depkes: 1997).
HIV mempunyai inti (nukleoid) yang berbentuk silindris dan eksentrik yang mengandung genom RNA diploid dan enzim transcriptase reverse (RT),protease,dan intregrase. Antigen kapsid (P24) menetupi komponen nukleoid tersebut sehingga membentuk komponen nukleoid kapsid antigen P!& yang merupakan bagian dalam simpul HIv. Bagian permukaan virion terdapat tonjolan yang terdiri atas molekul glikoprotein (gp120) dengan bagian transmembran yang merupakan gp 41. Lapisan lipid pada sampul HIV berasal dari membrane plasma sel inang (corry S.matondang: 1996)
Dimulai dengan melekatnya HIV pada sel inang melalui interaksi antara molekul gp 120 HIV dengan molekul CD4 sel inang. Melekatnya ini diikuti dengan fase membrane sel HIV dengan membrane sel inang sehingga inti HIV masuk ke dalam sitoplasma sel inang. Didalam sel inang terjadilah transkripsi DNA HIV dari RNA HIV oleh enzim RT yaitu enzim polymerase spesifik HIV.DNA HIV yang terbentuk kemudian berinteraksi dengan DNA sel inang dengan bentukan enzim integrase.DNA HIV yang berintegrasi disebut proviral dan berperilaku seperti gen sel inang yang menggunakan perlengkapan sel inang untuk membentuk HIV baru.

B.     Tujuan

1.      Tujuan Umum
Setelah pembelajaran mahasiswa diharapkan mampu memahami tentang asuhan keperawatan pada klien dengan post partum.
2.      Tujuan khusus

Setelah pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan tentang:
a.       Pengertian HIV/AIDS
b.      Etiologi HIV/AIDS
c.       Stadium HIV/AIDS
d.      Penanggulangan HIV/AIDS
e.       Voluntary Counselling and Testing
f.       Pengkajian pada anak dengan HIV/AIDS
g.      Masalah yang muncul pada HIV/AIDS
h.      Intervensi pada HIV/AIDS
i.        Penatalaksanaan pada HIV/AIDS






BAB II

PUSTAKA DAN ASKEP


A.    Pengertian HIV / AIDS

HIV ( Human Immunodefciency Virus ) adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat didalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi di dalam darah, air mania tau cairan vagina (Gunung, 20002). Sebelum HIV berubah menjadi AIDS tidak ada perbedaan antara orang yang menderita HIV dengan orang normal. Penderita akan terlihat sehat-sehat saja pada kurun waktu kira-kira 5-10 tahun. Walaupun tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian (IDU/ Injection Drug User).
AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome ) adalah kumpulan berbagai gejala menurunnya kekebalan tubuh  yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyaikit, karena system kekebalan didalam tubuhnya telah menurun (Sabrawi, 1996). Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS, agar kita dapat terhindar dari HIV / AIDS, maka kita harus tahu bagaimana cara penularan dan pencegahannya.

B.     Etiologi

Banyak orang yang mempunyai risiko tinggi untuk terkena AIDS. Oleh karena itu upaya preventif dan kehati-hatian dari setiap individu harus selalu diperhatikan mengingat HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara,  diantaranya adalah (Ditjen PPm & PL Depkes, 2005) :
1.      Hubungan seks / heteroseksual / Homoseksual ( anal, oral, vaginal ) yang tidak terlindung dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
2.      IDU / Penggunaan jarum suntik secara bergantian.
3.      Perinatal / Ibu hamil mengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya.
4.      Tidak diketahui /  kemungkinann karena kecelakaan di rumah sakit.
Khusus untuk kasus HIV / AIDS pada anak, paling besar karena factor perinatal. Dimana ibu sudah menderita AIDS sebelumnya, entah itu karena didapat dari suami atau yang lainnya. Kemungkinan yang lain adalah karena factor kecelakaan di rumah sakit (klien mungkin terkena jarum suntik yang sudah terinfeksi virus HIV atau bisa karena transfuse darah yang juga mengandung virus HIV ).

C.    Patofiologi

HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia, yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut mulai menghasilkan virus–virus HI.

Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang baru. Virus–virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakit–penyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang.

Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel yang terinfeksi dan mengantikan sel–sel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya.

Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200 sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik.

Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistem kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi–infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal.




Menyerang T Limfosit, sel saraf, makrofag, monosit, limfosit B
 
Reaksi psikologis
 
HIV- positif ?
 
Text Box: Gangguan sensoriText Box: Gangguan body imageapasText Box: Tidak efektif pol napasText Box: Tidak efektfi bersihan jalan napasText Box: Gangguan pola BABText Box: Gangguan rasa nyaman : nyeriText Box: Nutrisi inadekuatText Box: Cairan berkurangText Box: hipertermiText Box: Gangguan rasa nyaman : nyeriText Box: Aktivitas intoleransText Box: Gangguan mobilisasiText Box: Cairan berkurang
Kompleks demensia
 
Diare
 
Gangguan penglihatan dan pendengaran
 
Ensepalopati akut
 
Hepatitis
 
Sensori
 
Text Box: Nutrisi inadekuat
Dermatologi
 
Lesi mulut
 
Gastrointestinal
 
Manifestasi saraf
 
Invasi kuman patogen
 
Respiratori
 
Manifestasi oral
 
Organ target
 
Merusak seluler
 
Virus HIV
 
Pathway
Flora normal patogen
 
Immunocompromise
 
Infeksi
 
Gatal, sepsis, nyeri
 
Disfungsi biliari
 
Penyakit anorektal
 


 

D.    Macam Infeksi HIV

Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV dibagi menjadi tiga Tahap :

1.      Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam jaringan limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok, mialgia non-spesifik, dan meningitis aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu.

2.      Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis dengan replikasi. virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+ secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjar limfe yang luas tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat mencapai beberapa tahun. Pada akhir tahap ini terjadi demam, kemerahan kulit, kelelahan, dan viremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.
3.       Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/µl sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum terlihat. ( Robbins, dkk, 1998 : 143 )

E.     Periode Penularan HIV pada Ibu Hamil

1.      Periode Prenatal
Timbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat (Minkoff, 1987). Sejarah kesehatan, uji fisik dan tes laboratorium harus merefleksikan pengharapan ini jika wanita dan bayinya menerima perawatan yang tepat. Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap infeksi HIV mencakup:
a.       Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimana HIV merupakan sesuatu yang umum.
b.      Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan melalui pembuluh darah.
c.       Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan.
d.      Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.
e.       Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.

Tes HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada awal mereka memasuki perawatan prenatal. Namun, soronegativitas pada uji prenatal pertama bukan jaminan untuk titer negative yang berlangsung. Misalnya, seorang wanita berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan prenatal selama 8 minggu mempunyai hasil tes western blot yang negative. Namun, setelah terinfeksi HIV, serum antibody membutuhkan waktu sampai 12 minggu untuk berkembang. Tes western blot harus diulangi dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga. Tes prenatal rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang terinfeksi HIV.
Tes ini juga dapat mengungkap Gonhorhea, Siphilis, Herpes yang tetap dan menjadi lebih lama, C.Trakomatis, Hepatic B, Micobacterium tuberculosis, Candidiasis (oropharingeal atau infeksi Vagian Chronic), Cytomegalo Virus (CMV), dan Toxophlasmosis. Sekitar separuh penderita AIDS mengalami peningkatan titer CMV. Karena masuknya penyakit CMV memiliki bahaya yang serius terhadap janin, para wanita hamil dianjurkan dengan yang terinfeksi HIV. Sejarah vaksinasi dan kekebalan telah didokumentasikan. Titer untuk cacar dan rubella ditentukan dan tes kulit tuberkulosa (Derivasi protein yang dimurnikan/puriviet protein derivatif (PPD)) telah dilakukan vaksinasi sebelumnya dengan vaksin rekonbivak Hb dicatat karena vaksin tersebut berisi produk darah manusia (Vaksin ini sekarang bebas dari darah manusia dan produk-produk darah).  Wanita dapat menjadi calon yang menerima Rho D Imunoglobulin. Penularan HIV belum ditemukan adanya vaksin Rh. Proses persiapan melibatkan alcohol ethyl yang membuat virus tidak aktif. Vaksin ini dibuat dari darah yang diambil dari kelompok donor regular yang tidak dikenali. Darah yang digunakan untuk memproduksi vaksin menjalani tes darah yang dapat mendeteksi darah adanya HIV (Francis, Chin, 1987, MMWR, 1987). Beberapa ketidaknyamanan yang dihadapi pada masa prenatal (seperti kelelahan, anoreksia, dan penurunan berat badan) menyiratkan tanda-tanda dan gejal-gejala infeksi HIV.
Diagnosa yang berbeda-beda terhadap seluruh keluhan dan gejala infeksi yang disebabkan kehamilan dibenarkan. Tanda-tanda utama infeksi HIV yang semakin memburuk mencakup turunnya berat badan lebih dari 10% dari berat badab sebelum kehamilan, diare kronis lebih dari 1bulan dan demam (kambuhan atau konstan) selama lebih dari 1 bulan. Untuk mendukung system, wanita hamil harus mendapat nutrisi yang optimal, tidur, istirahat, latihan, dan reduksi stress. Jika infeksi HIV telah didiagnosa, wanita tersebut diberitahukan mengenai konsekwensi yang mungkin terjadi pada bayi.

2.      Periode Intrapartum
Perawatan wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secara substansial untuk infeksi tanpa gejala dengan HIV (Minkoff,1987). Cara kelahiran didasarkan hanya pada pertimbangan obstetric karena virus melalui plasenta pada awal kehamilan. Fokus utama pencegahn penyebaran HIV nosocomial  dan perlindungan terhadap pelaku perawatan. Resiko penularan HIV dianggap rendah selama kelahiran vaginal.. EPM (Elektrinic Fetal Monitoring) eksternal dilakukan jika EPM diperlukan. Terdapat kemungkinan inokulasi virus ke dalam neonatus jika dilakukan pengambilan sempel darah pada bayi dilakukan atau jika elektroda jangat kepala bayi diterapkan. Disamping itu, seseorang yang melakukan prosedur ini berada pada resiko tertular virus HIV.
3.      Periode Postpartum.
Hanya sedikit yang diketahui tentang tindakan klinis selama periode postpartum yang dapat dilakukan pada wanita yang terinfeksi HIV. Walaupun periode postpartum pertengahan tercatat signifikan (update, 1987), tindak lanjut yang lebih lama telah mengungkap frekwensi penyakit kilinis yang tinggi pada ibu-ibu yang anaknya menderita penyakit (Skott, 1985; Minkoff et al, 1987). Tindakan pencegahan universal dilakukan terhadap ibu dan bayi, seperti yang dilakukan terhadap semua pasien. Wanita dan bayinya diarahkan pada dokter yang berpengalamn dalam pengobatan AIDS dan keadaan-keadaan yang menyertainya. Pengaruh infeksi pada bayi dan neonatal mungkin tidak jelas. Karena virus yang melalui plasenta, darah di tali pusat akan menunjukkan antibody HIV baik apabila bayi terinfeksi ataupun tidak. Selama itu antibody yang melalui palang plasenta mungkin tidak terdapat pada bayi yang tidak terinfeksi sampai usia 15 bulan. Ketika infeksi HIV menjadi aktif banyak infeksi lain yang biasa menyertai pada orang dewasa terjadi pada bayi. Komplikasi yang menyertai infeksi HIV pada bayi mencakup Enchephalopati, Microchephalli, Defisit Kognitif, system saraf pusat (CNS/central nervous system) Lhympoma, Cerebro Vaskuler Accident, gagal pernapasan dan Lhympaclenophaty.

F.     Stadium HIV / AIDS

Menurut Gunung (2002), gejala dari HIV / AIDS dibagi menjadi tiga stadium, yaitu : stadium akut, infeksi kronis dan AIDS.
1.      Stadium infeksi akut
Pada fase stadium akut ini, tidak semuapenderota menunjukkna gejala yang spesifik, biasanya dalam kurun waktu 3-6 minggu mengalami flu, panas dan rasa lelah yang berlangsung selama 1-2 minggu. Gejala timbul gejala lain seperti :
a)      Bisul dengan bercak kemerahan, biasanya pada tumbuh bagian atas atau tidak gatal
b)      Sakit kepala
c)      Sakit pada otot – otot
d)     Sakit tenggorokan
e)      Pembengkakan kelenjar
f)       Diare ( mencret )
g)      Mual – mual
h)      Muntah
2.      Stadium infeksi kronis
Infeksi kronis mulai 3-6 minggu setelah tubuh terinfeksi. Karena pada saat terpapar  tubuh memberikan perlawanan yang kuat  terhadap virus HIV. Pada stadium ini penderita tidak memperlihatkan gejala apapun dan bisa berlangsung sampai 10 tahun. Walaupun tidak menunjukkan gejala yang spesifik, system imunitas penderita semakin menurun. Pada orang normal CD4 sebesar 450-12000 sel per ml, sedangkan pada penderita semakin turun, dan apabila CD4-nya berada dibawah 200, maka penderita sudah masuk pada stadium AIDS.
3.      Stadium AIDS
AIDS bukan penyakit tersendiri melainkan merupakan sekumpulan gejala infeksi opotunistik yang menyertai infeksi  HIV tersebut. Disini system imun sudah rusak, sehingga didapatkan gejala yang sudah mulai khas, dantaranya adalah :
a)      Selalu merasa lelah
b)      Pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha
c)      Panas yang berlangsung lebih dari 10 hari
d)     Keringat malam
e)      Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya
f)       Bercak keungunan pada kulit yang tidak kunjung hilang
g)      Pernafasan memendek
h)      Diare berat yang berlangsung lama
i)        Infeksi jamur ( candida ) pada mulut, tenggorokan, vagina
j)        Mudah memar / perdarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.

 

G.    Penanggulangan HIV / AIDS

Dua puluh tahun yang lalu, pencegahan epidemic HIV / AIDS merupakan sebuah tantangan yang nyata pada ilmu kesehatan masyarakat. Sampai saat ini belum ada cara efektif melawan penyakit ini . selain itu, obat – obatan yang tersedia di pasaran saat ini juga belum dapat dimanfaatkan oleh semua penderita. Penanggulangan terhadap merebaknya penularan HIV/AIDS dapat dilakukan denga berbagai upaya sebagai berikut :
1.      Upacaya Promotif
Program pencegahan HIV / AIDS harus difokuskan pada pembentukan perilaku individu untuk tidak terpapar  pada rantai penularan HIV / AIDS, anatara melalui kontak seksual dan kontak jarum suntik. Bentuk kegiatannya akan banyak berupa pendidikan pekerja (Worker Education) untuk emningkatkan kesadarn akan risiko HIV / AIDS dan adopsi perilaku aman  untuk mencegah kontak dengan rantai penularan HIV / AIDS. Upaya promotif yang bisa dilakukan antara lain :
1.         Pelayanan Promotif : meningkatkan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang HIV/AIDS.
2.         Promosi Perilaku Seksual Aman (Promoting Sefer Sexual Behavior ).
3.         Promosi dan distribusi kondom ( Promoting and Disitributing Condom )
4.         Norma Sehat di Tempat Kerja : tidak merokok, tidak mengkonsumsi NAPZA.
5.         Penggunaan alat suntik yang aman ( Promoting and Safer Drug Injection Behavior).

H.    Upaya Preventif

Upaya pencegahan penyakit ini merupakan cara yang terbaik untuk menekan terus meningkatnya kejadian penyakit dan kematian akibat AIDS. Untuk pencegahan HIV/ AIDS, konseling merupakan satu-satunya cara untuk mempromosikan berbagai perubahan perilaku masyarakat. Untuk jangka panjang diharapkan masyarakat diharapkan akan mau mengadopsi perubahan perilaku yang berisiko.
Konseling sangat mutlak diperlukan pada saat seseorang mulai diketahui mengidap HIV. Penderita akan merasa kehilangan harapan hidup dan tdak mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab tentang hidupnya. Bagi individu atau kelompok yang berperilaku risiko tinggi, mereka tidak mampu mengambil keputusan apakah anda melakukan test HIV / AIDS adalah tentang menjaga rahasia penderita baik untuk keluarga partner seksnya. Degan kondisi seperti itu, konseling sangat membant penderita untuk lebih berani menerima kenyataan hidup setelah HIV masuk kedalam tubuhnya. Meraka dibantu agar mampu berbuat sesuatu secara berimbang. Upaya preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut :
1.   Peningkatan gaya hidup sehat
2.   Memahami penyakit HIV / AIDS , bahaya dan pencegahannya.
3.   Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya.
4.   Diadakannya konseling tentang HV / AIDS pada pekerja secara sukarela dan tidak terpaksa.

I.       Upaya Kuratif

Upaya kuratif bertujuan untuk merawat dan mengobati  ODHA ( orang dengan HIV / AIDS. Pada saat ini terapi AIDS/HIV yang dilakukan adalah secara kimia (Chemoterapy) yang menggunakan obat Anti Retroviral Virus (ARV) yang berfungsi menekan perkembangbiakan virus HIV. Dalam terapi dengan menggunakan ARV ini umumnya dilakukan dengan dengan cara kombinasi dengan beberapa jenis obat yang lain. Upaya kuratif dapat dialakukan dengan cara sebagai berikut (Depkes, 2004) :
1.      Pencegahan dan pengobatan IMS (Infeksi Menular Seksual).
2.      Penyediaan dan Transfusi darah yang aman.
3.       Mencegah komlikasi dan penularan terhadap keluarga dan teman sekerjanya.
4.      Dukungan social ekonomi ODHA.
Ada beberapa risiko relative seseorang terinfeksi HIV setelah terpapar secara perkutaneus dari darah yang mengandung HIV. Jika hanya melalui penglihatan / inspeksi tidaklah dapat diketahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV atau tidak karena pada kenyataannya, pengidap HIV umumnya terlihat sangat sehat. Satu – satunya cara untuk mengetahui hal ini adala dengan melalui tes darah HIV. Tes ini harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu :
1.      Bersifat rahasia.
2.      Atas persetujuan dari orang yang akan di tes.
3.      Bersifat sukarela atau tidak boleh dipaksa.
4.      Disertai dengan konseling.
Factor risiko tinggi terkena AIDS tersebut adalah : luka yang dalam, tampak darah pada kulit, prosedur pasang jarum pada vena atau arteri serta pasien dengan AIDS terminal ( CDC , 2001 ).

 

J.      Gejala HIV AIDS


K.    Pemeriksaan diagnostic


L.     Pengobatan



M.   Voluntary Counselling and Testing

Menurut organisasi kesehatan sedunia (WHO), VCT HIV / AIDS merupakan komunikasi yang bersifat rahasia anatara klien dengan konselor yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam menghadapi stress serta mengambil keputusan yang berkaitan dengan HIV / AIDS. Proses konseling itupun sudah termasuk dalam hal evaluasi risiko personal penularan HIV, fasilitas pencegahan perilaku dan evaluasi penyesuaian diri ketika klien mengahadapi hasil test positif (Depkes, 2004).
Layanan VCT ini dapat digukaan untuk mengubah perilaku berisiko dan memberikan informasi tentang pencegahan HIV. Disini klien diharapakan mendapatkan pengetahuan tentang cara penularan, pencegahan, dan pengobatan HIV. Sebagai contoh : yang steril dan tidak saling pinjam meminjam bagi pengguna narkoba  suntik. Seorang konselor dituntut untuk memberikan pengetahuan tentang hubungan antara infeksi menular seksual (IMS) dengan HIV serta dapat merujuk klien ketika IMS perlu dikenali dan diobati lebih lanjut.
Konseling HIV / AIDS harus dilakukan secara terarah dan difokuskan pada kebutuhan fisik, social, psikologik, serta spiritual klien.  Hal penting yang harus dipertimbangkan oleh setiap konselor adalah : masalah infeksi dan penyakit, kematian, kesedihan, diskriminasi , social, seksualitas, gaya hidup serta pencegahan  penularan. Dalam melakukan konseling, ada tahap – tahapan yang harus dilalui oleh seorang konselor, adapun tahap tersebut adalah (Depkes, 2004) :
1.      Tahap Satu, dalam tahap ini seorang konselor harus membangun hubungan yang baik serta membina kepercayaan dengan klien, adapun caranya adalah sebagai berikut :
a.             Meyakinkan kerahasiaan dan mendiskusikan batas kerahasiaan pada klien selama menjalani konseling.
b.            Mengizinkan ventilasi, dalam arti klien dibiarkan untuk mengungkapkan segala perasaannya tanpa adanya paksaan dari konselor.
c.             Mengizinkan ekspresi perasaan klien, untuk mengetahui adanya ketakutan maupun kecemasan yang dirasakannya.
d.            Menggali masalah, meminta klien menceritakan kisah mereka dan tidak ada yang disembunyikan dari petgas  demi terciptanya pemecahan masalah yang tepat.
e.             Memperjelas harapan klien untuk konseling.
f.             Menjelaskan apa yang dapat konselor tawarkan dan cara kerjanya.
g.            Pernyataan dari konselor tentang komitmen mereka untuk bekerjasama klien.

2.      Tahap Dua, dalam tahap ini diungkapkan mengenai definisi dan pengertian peran, batasan serta kebutuhannya yang meliputi :
a.       Mengemukakakn peran dan batas dari hubungan dalam konseling.
b.      Memaparkan dan mengklarifikasi tujuan dan kebutuhan klien.
c.       Membantu  mengurutkan prioritas tujuan dan kebutuhan klien.
d.      Melakukakan pengambilan riwayat secra rinci, menceritakan riwayat  dengan sedetil – detilnya.
e.       Menggali keyakinan, pengetahuan dan perhatian klien terhadap masalah kesehatan yang dihadapinya.

3.      Tahap Tiga merupakan proses dukungan konseling berkelanjutan yang meliputi :
a.       Melanjutkan ekspresi pikiran dari klien.
b.      Mengenali berbagai alternative dari pemecahan masalah yang ada.
c.       Mengenali berbagai ketrampilan penyesuaian diri yang sudah ada.
d.      Mengembangkan ketrampilan penyesuaian  diri lebih lanjut.
e.       Mengevaluasi alternative pemecahan masalah dan dampaknya.
f.       Memungkinkan perubahan perilaku dari klien setelah konseling.
g.      Mendukung dan mempertahankan bekerja dengan masalah klien.
h.      Memonitor perjalanan kemajuan menuju tujuan.
i.        Rencana alternative yang dibutuhkan.
j.        Rujukan sesuai kebutuhan.

4.      Tahap empat merupakan penutup atau mengakhiri hubungan koseling yang dapat dilakukan dengan cara :
a.       Klien bertindak sesuai dengan rencana yang telah disusunnya.
b.      Klien menatalaksanai dan menyesuaikan diri dengan fungsi sehari-hari.
c.       System dukungan yang tersedia yang dapat di akses.
d.      Kenali strategi untuk memelihara perubahan yang sudah terjadi.
e.       Diskusi dan rencanakan pengungkapan status.
f.       Interval perjanjian diperpanjang.
g.      Sumber dana rujukan yang tersedia dan diketahui serta dapat diakses .
h.      Meyakinkan klien tentang pilihan untuk kembali mengikuti konseling sesuai dengan kebutuhan.

N.    Masalah Yang Lazim Muncul Pada Klien HIV / AIDS

a.       Kelelahan berhubungan dengan status penyakit, anemia, melnutrisi.
b.      Nyeri akut / kronis berhubungan dengan infeksi, nyeri abdomen.
c.       Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan pencernaan.
d.      Diare berhubungan dengan proses penyakit.

O.    Discharge Planning

a.       Ajarkan pada anak dan keluarga untuk menghibungin tim kesehatan bila terdapat tanda – tanda atau gejala infeksi.
b.      Ajarkan pada anak dan keluarga untuk mengamati respone terhadap pengobatan dan memberitahu dokter tentang adanya efek samping.
c.       Ajarkan pada anak dan keluarga tentang penjadwalan pemeriksaan lebih lanjut.

P.     Rencana Keperawatan

1.      kelelahan berhubungan dengan status penyakit, anemia, malnutrisi
v  Endurance
v  Concentration
v  Energy Conservation
v  Nutritional status : energy
Kriteria hasil :
v  Memverbalisasikan peningkatan energi dan merasa lebih baik
v  Menjelaskan penggunaan energi untuk mengatasi kelelahan
v  Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
v  Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
v  Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
v  Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v  Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v  Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
v  Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

2.      Nyeri akut/kronis berhubungan dengan infeksi, nyeri abdomen
Definisi :
Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Study Nyeri Internasional): seranagan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bula.
Batasan karakteristik :
ü  Laporan secara verbal atau non verbal
ü  Fakat dari observasi
ü  Posisi antalgic untuk menghindarinyeri
ü  Gerakan melindungi
ü  Tingkah laku berhati-hati
ü  Muka topeng
ü  Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
ü  Terfokus pada diri sendiri
ü  Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakanproses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
ü  Tingkah laku distraksi, contoh: jalan-jalan, menemui orang lain/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang
ü  Respon autonom (seperti diaphorhesis, perubahan tekanan darah,perubahan nafas, nadi dan dilatasi pembuluh pupil)
ü  Perunhan aautonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)
ü  Tingkah laku ekspresif ( contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, irritabel, nafas panjang / berkeluh kesah)
ü  Perubahan dalam makan dan minum

Faktor yang berhubungan :
Agen injury ( biology, kimia,fisik, psikologis)
ü  pain level
ü  pain control,
ü  cpmfort level
ü  mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
ü  melaporkan bahwa nyeeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri)
ü  mampu mengenali nyeri ( skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
ü  menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
ü  lakukaan pengkajian nyeri secara komphrehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi)     
ü  observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
ü  gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
ü  kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
ü  evaluasi pemgal.aman nyeri masa lalu
ü  evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
ü  bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
ü  kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
ü  kurangi faktor presipitasi nyeri
ü  pilih dan lakukan penanganan nyeri ( farmakologi, non faramakkologi dan inter personal)
ü  kaji tipe dan sumbernyeri untuk menentukan intevensi
ü  ajarkan tentang teknik non farmakologi
ü  berikan analgetik untuk mengrangi nyeri
ü  evaluasi ketidak efektifan komtrol nyeri
ü  tingkatkan istirahat
ü  kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
ü  monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

ü  tentukan lokasi , karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
ü  cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
ü  cek riwayat alergi
ü  pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
ü  tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
ü  tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
ü  pilih ryte pemberian secara IV<IM untuk pengibatan nyeri secara teratur
ü  memonitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
ü  berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
ü  evaluassi efektifitas analgesik, tanda dan gejala ( efek samping)

3.      ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhbungan dengan gangguan pencernaan
Definisi : intake nutrisi tiak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh

Batasan karalteristik :
ü  Berat badan 20% tau lebih dibawah ideal
ü  Dilaporkan adanyta intake makanan yang kurang dari RDA ( Recomended Daily Allowance)
ü  Membran mukosa dan konjungtiva pucat
ü  Kelemahaan otot yang digunanan untuk menelan / mengunyah
ü  Luka, inflamasi dalam rongga mulut
ü  Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan
ü  Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
ü  Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
ü  Perasaan ketidak mampuan untukmengunyah makanan.
ü  Miskonsepsi
ü  Kehilangan BB dengan makanan cukup
ü  Keenggangan untuk mkan
ü  Kram pada abdomen
ü  Tonus otot jelek
ü  Nyeri abdominak dengan atau tanpa patologi
ü  Kurang berminat terhadap makanan
ü  Pembuluh darah kapiler mulai rapuh
ü  Diare danatau steatorrhea
ü  Kehilangan rambut yang cukup banyak ( rontok)
ü  Suara usus hiperaktif
ü  Kurangnya informasi, misinformasi
                   Faktor – faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorbsi zat – zat gizi berhubungan dengan faktor biologis , psikologisatau ekonomi

ü  Nutritional Status
ü  Nutritional status : food and fluid intake’
ü  Nutritional status l nutrient intake
ü  Weight control

ü  Adanya peningktatan berat badan sesuai dengan tujuan
ü  Beratbadan ideal sesuai dengan tinggi badan
ü  Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
ü  Tidak ada tanda – tanda malnutrisi
ü  Menunjukan peningkatan fungsu pengecaoan dari menelan
ü  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

ü  Kaji adanya alergi makanan
ü  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
ü  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
ü  Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan Vitamin C
ü  Berikan substansi gulaYakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasia
















BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN



A.    Pengkajian

1.      Biodata Klien
2.      Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
§  Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limfoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.
§  Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein liosing enteropati (peradangan usus)
3.      Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)
a)      Aktifitas / Istirahat
-          Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
-          Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
b)      Sirkulasi
-          Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
-          Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.
c)      Integritas dan Ego 
-          Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
-          Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
d)     Eliminasi
-          Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
-          Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal, perianal, perubahan jumlah, warna dan karakteristik urine.
e)       Makanan / Cairan
-          Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
-          Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
f)       Hygiene
-          Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
-          Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
g)      Neurosensoro
-          Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
-          Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
h)      Nyeri / Kenyamanan
-          Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
-          Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
i)        Pernafasan 
-          Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
-          Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
j)        Keamanan
-          Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.
-          Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
k)      Seksualitas
-          Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnya libido, penggunaan pil pencegah kehamilan.
-          Tanda : Kehamilan,herpes genetalia.
l)        Interaksi Sosial
-          Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian, adanya trauma AIDS.
-          Tanda : Perubahan interaksi.

4.      Pemeriksaan Diagnostik
a)      Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
î  Serologis
-          Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
-          Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
-          Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
-          Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
-          T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
-          P24 ( Protein pembungkus HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
-          Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
-          Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
-          Tes PHS
Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif

î  Neurologis
-          EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
-          Tes Lainnya
-          Sinar X dada
-          Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
-          Tes Fungsi Pulmonal
-          Deteksi awal pneumonia interstisial
-          Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
-          Biopsis
-          Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
-          Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
î  Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
-          Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
-          Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
-          Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
-          Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.

B.     Diagnosa Keperawatan

1.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.

2.      Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan.

3.      Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare

4.      Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.

5.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.

6.      Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.



C.    Rencana Keperawatan


No
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.

Pasien akan bebas infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam dengan kriteria hasil:
-    Tidak ada luka atau eksudat.
-    Tanda vital dalam batas normal (TD=110/70, RR=16-24, N=60-100, S=36-37)
-    Pemeriksaan leukosit normal (6000-10000)
1.     Monitor tanda-tanda infeksi baru.
2.     gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
3.     Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.

4.     Kumpulkan spesimen untuk tes lab.
5.     Atur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter. 

1.      Untuk pengobatan dini

2.      Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit.


3.      Mencegah bertambahnya infeksi

4.      Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan
5.      Mempertahankan kadar darah yang terapeutik
2
Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

Infeksi HIV tidak ditransmisikan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3×24 jam dengan kriteria hasil:
-    kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV
-    Tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC.
1.     Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.

2.     Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.

1.      Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini


2.      Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain
3
Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare

Defisit volume cairan dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam dengan criteria hasil:
-    perut lunak
-    tidak tegang
-    feses lunak, warna normal
-    kram perut hilang,
1.         Kaji konsistensi dan frekuensi  feses dan adanya darah.
2.         Auskultasi bunyi usus

3.         Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter.

4.         Berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside
1.      Mendeteksi adanya darah dalam feses
2.      Hipermotiliti mumnya dengan diare
3.      Mengurangi motilitas usus,  yang pelan, emperburuk perforasi pada intestinal

4.      Untuk menghilangkan distensi



D.    Implementasi

a.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
Imlementasi :
1.            Memonitor tanda-tanda infeksi baru.
2.            Menggunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
3.            Menganjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
4.            Menguumpulkan spesimen untuk tes lab.
5.            Mengatur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
b.      Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
Imlementasi :
1.            Menganjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.
2.            Menggunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.
c.          Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare.
Implementasi :
1.            Mengkaji konsistensi dan frekuensi  feses dan adanya darah.
2.            Mengauskultasi bunyi usus
3.            Mengatur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter.
4.            Memberikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside










BAB IV

PEMBAHASAN


Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan makalah yang berjudul “Asuhan Keparawatan dengan HIV/AIDS” selama satu hari.penulis akan mengemukakan konsep dasar yang dihubungkan dengan tahap proses keperawatan serta menguraikan kesenjangan antaran konsep dasar dengan kasus.
Dalam melakukan pengkajian,penulis menggunakan alloanamnase dan autoanamnase, sehingga diperoleh data primer dan sekunder. Selain wawancara penulis juga menggunakan teknik observasi,pemeriksaan fisik dan catatan serta laporan diagnostic dalam mengumpulkan data.Pengkajian ini tidak mengalami kesulitan karena pasien dan keluarganya cukup kooperatif.
Format pengkajian yang digunakan penulis hampir sama dengan pengkajian yang ada dalam teori, yaitu pola aktivitas dan latihan ( pasien sesak nafas saat beraktivitas/ beristirahat, mudah lelah ), pola eliminasi ( mengalami penurunan  buang air kecil, air kencing berwarna gelap, nokturia), pola nutrisi dan metabolic ( anoreksia, mual, muntah), pola istirahat dan tidur ( sesak saat berbaring yang mengganggu istirahat pasien ).
Pada pemeriksaan penunjang terdapat pemeriksaan laboratorium di catatan medis pasien. Selain itu, dilakukan pemeriksaan Kultur HIV, LED. Di dalam pengkajian, penulis tidak mengalami hambatan karena sudah terbinanya hubungan saling percaya anatara penulis dengan pasien terutama dengan keluarga pasien.
Penulis melakukan pengkajian pada tanggal 29 Juni 2014 pukul 09.00 WIB. Pengkajian yang dilakukan sudah sepenuhnya sesuai dengan konsep teori. Dalam melakukan asuhan keperawtan ini, penulis memerhatikan tahapan proses keperawatan meliputi : pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Selama memberikan asuhan kperawatan tersebut masalah yang timbul adalah;
1.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
Diagnose diatas, penulis periotaskan menjadi diagnose keperawatan yanga pertama karena Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko merupakan hal yang paling utama dalam penyakit HIV yang harus segera dipenuhi.
Adapun asuhan keperawatan yang penulis tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko : Monitor tanda-tanda infeksi baru, gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasive, Cuci tangan sebelum meberikan tindaka, Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang pathogen, Kumpulkan spesimen untuk tes lab, Atur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
Implementasi keperawatan, perawat telah melakukan tindakan yang sudah sesuai dengan intervensi keperawatan yang di susun oleh penulis  yaitu, Memonitor tanda-tanda infeksi baru, Menggunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan, Menganjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang pathogen, Menguumpulkan spesimen untuk tes lab, Mengatur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
Berdasarkan tujuan dan kriteria hasil yang sudah di tetapkan masalah gangguan Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. Penulis memutuskan untuk mempertahankan intervensi yaitu Monitor tanda-tanda infeksi baru, gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasive, Cuci tangan sebelum meberikan tindaka, Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang pathogen, Kumpulkan spesimen untuk tes lab, Atur pemberian antiinfeksi sesuai advice dokter.
2.      Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
Diagnose diatas, penulis periotaskan menjadi diagnose keperawatan yang kedua karena menurut hukum Fnank-Starling, ) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat di transmisikan..
Adapun asuhan keperawatan yang penulis tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) selama 1 x 24 jam antara lain anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya, gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien, gunakan masker bila perlu.

Berdasarkan tujuan dan kriteria hasil yang sudah di tetapkan masalah Resiko tinggi infeksi (kontakpasien) . Penulis memutuskan untuk mempertahan kan intervensi yaitu anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya, gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien, gunakan masker bila perlu.
3.      Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare.
Diagnose diatas, penulis periotaskan menjadi diagnose keperawatan yang karena ke tiga Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare.
Adapun asuhan keperawatan yang penulis tetapkan untuk mengatasi masalah Resiko tinggi defisit volume cairan 1 x 24 jam antara lain kaji konsistensi dan frekuensi  feses dan adanya darah, auskultasi bunyi usus, atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai advice dokter, berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside















BAB V

PENUTUP



A.    Kesimpulan
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler yang disebbkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana kebanyakan pasien memrlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama perjalananpenyakit.
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus yang biasanya menyerang organ – organ vital system kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi pathogen di dalam darah, dan penularan masa perinatal. Manifestasi klinis lainnya sering ditemukakan pada anak adalah pneumonia interstisialis limfosik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada jaringan paru.
Komplikasi Oral Lesi: karena kandida, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Pemriksaan penunjang seperti : Tes untuk diagnose infeksi HIV.
1.      ELISA, latex agglutination
2.      Western blot (positif)
3.      Tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR
4.      Kultur HIV

B.     Saran
1.      Memberikan support kepada penderita HIV agar tidak putus asa
2.      Mencegah penyebaran HIV dengan pemeriksaan kesehatan anda dan anak secara rutin
3.      Dan kita sebagai perawat terus memberikan asuhan keperawtan kepada penderita agar cepat sembuh dalam pengobatan.



DAFTAR PUSTAKA

 

A. Aziz Alimul Hidayat. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Judith M. Wilkinson. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan (Rivisi ed.). Jakarta: EGC.
Marilyn E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawtan (3 ed.). Jakarta: EGC.
Sujono Riyadi. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit. Yogyakarta: Gosyen Publishing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar